Sabtu, 17 Maret 2012

Baca Sampe Abis GAN !!!!



Bab III Menghadapi Perang GlobalD (2)
. Spionase Global

Untuk menghancurkan umat Islam, jaringan spionase semakin menunjukkan keperkasaannya. Perusahaan multinasional bekerja sama dengan CIA (Central Intelligence Agent), agen rahasia Amerika, saling menukar informasi menguntungkan. Tidak jarang para eksekutif di suatu negara merangkap pula sebagai agen CIA. Bahkan, belakangan diketahui pula bahwa perusahaan multinasional mengembangkan jaringan intelijennya sendiri. Hal itu seperti apa yang ditulis Tofffer bahwa kontak antara intelijen rnereka dan intelijen CIA, serta intelijen di negara lain dilakukan secara profesional melalui kontak berkala. Bechtel Corporation perusahaan konstruksi yang bermarkas di San Fransisco mempunyai kontrak bernilai ratusan juta dolar di Timur Tengah. Mereka telah memberi pekerjaan nominal untuk agen CIA. Lalu sebagai imbalannya, Bechtel memperoleh informasi komersial dari CIA.

Bechtel adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang informasi rahasia (Bussiness Environment Risk Information) di Long Beach, California, telah mendapatkan pujian karena memberikan keterangan kepada pelanggannya bahwa Presiden Mesir Anwar Sadat akan dibunuh. Ternyata, informasi tersebut memang benar, terbukti ia terbunuh dalam sebuah parade upacara militer oleh kelompok ekstrem yang disusupi oleh pihak intelijen lainnya. Demikian pula ramalan mereka tentang serbuan Irak ke Iran, juga menjadi kenyataan.

Hal ini membuktikan dengan jelas bahwa tidak ada negara yang bebas dari jaringan spionase yarig dikelola secara profesional oleh pihak CIA dan perusahaan multinasional negara-negara super power, terutama Amerika. Walaupun tidak dipungkiri, para perekrut CIA mendekati dan menggarap beberapa mahasiswa yang cerdas untuk diajaknya bekerja sama sebagai agen CIA dan kelak akan menjadi mitra yang menguntungkan apabila mahasiswa tersebut kembali ke negerinya Peranan kedutaan besar di setiap negara sangat dominan dalam hal jaringan intelijen ini. CIA saling bertukar infomasi dengan Mossad (agen rahasia Israel, ed.) pada saat umat Islam terlalu dominan. Mereka sibuk menyelusup ke dalam tubuh umat Islam sebagai suatu strategi untuk menghancurkan umat Islam.

Sangat disayangkan, negara-negara dengan penduduk mayoritasnya umat Islam tidak mempunyai minat yang besar untuk mempelajari strategi global dunia Barat yang notabenenya merupakan ambisinya kaum zionis. Padahal Jepang telah menyebarkan seluruh kekuatan jaringan informasinya ke seluruh negara Amerika dan Eropa. Ratusan ribu mahasiswa tersebar di negara-negara tersebut, mereka belajar dan menimba ilmu, sekaligus sebagai spionase yang sangat loyal untuk kejayaan negerinya.

Isu-isu politik internasional seringkali merupakan alat propaganda kepentingan para pemimpin Barat Ketika Bill Clinton diperkarakan dan nyaris terkena impeachment tuduhan terhadap skandal seks Bill Clinton dengan Monica Lewinsky, kemudian tidak lama setelah itu, Washington memerintahkan untuk membom Irak sehingga perhatian dunia internasional beralih kepada kasus tersebut Gerakan konspirasi spionase dan cara-cara kaum zionis yang ikut campur tangan ke dalam urat nadi pemerintahan negara negara yang mayoritas penduduknya Islam atau Katolik telah menunjukkan bukti- buktinya yang nyata, walaupun secara faktual sulit dibuktikan karena perannya sebagai gerakan rahasia adalah mustahil terbuka dan mudah diperoleh datanya yang faktual. Gerakan konspirasi internasional zionis merupakan sebuah gerakan yang dapat "dirasakan" walaupun sulit dibongkar sepak terjangnya secara nyata.

Akan tetapi, satu hal yang harus diketahui umat Islam bahwa gerakan tersebut merupakan jaringan kebencian kaum zionis terhadap kaum beragama. Cita-cita yang berbaur dengan balas dendam mereka telah menunjukkan sikapnya yang sangat jelas untuk menguasai hak asasi kaum beragama. Mereka mempersatukan seluruh potensi serta para simpatisannya. Mereka menguasai seluruh kelembagaan internasional, mulai dari lembaga keuangan dan moneter, Perserikatan Bangsa-Bangsa, para komunis, sampai para milyuner yang telah membuktikan kesetiaannya terhadap cita-cita membangun "satu dunia baru" melalui konspirasi yang sangat canggih.

Melvin Sickler mengatakan, "Dalam fase akhir konspirasinya; yaitu membentuk satu pemerintahan dunia merupakan kunci menuju kediktatoran. Dengan menguasai Perserikatan Bangsa-Bangsa, lembaga keuangan dan moneter, para milyuner, komunis, serta ilmuwan. Mereka bersatu untuk membuktikan cita-citanya dalam membangun konglomerasi manusia yang berjaya (satu dunia baru) melalui konspirasi yang canggih."

Betapa nyatanya fakta gerakan kaum zionis Dajal yang sangat berambisi untuk menciptakan satu dunia, satu agama, satu mata uang, satu sistem perekonomian, dan satu kewarganegaraan yang dikontrol dari Telewash (Tel Aviv-London-Washington) melalui jalur Threelateral Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada), Eropa, dan Jepang. Di negara tersebut sengaja ditumbuhkan berbagai aliran kepercayaan yang berbau mistik dan radikal, yang maksudnya untuk menyaingi eksistensi agama-agama samawi: Islam dan Kristen.

Berbagai fakta untuk mewujudkan cita-cita dunia baru (novus ordo seclorum) sebagaimana dicita-citakan Adam Weishaupt, "Saat ini sudah matang buahnya dan hanya tinggal beberapa saat lagi untuk memetik-nya." Dunia global sebagai kenyataan yang ada dan sebagai akibat kemajuan teknologi, sekaligus dijadikan jembatan emas untuk mewujudkan cita-citanya tersebut. Mereka kuasai media massa sampai ke pusatnya. Para pemimpin media massa internasional adalah bagian dari sindikasi konspirasinya yang dijaring sedemikan rupa, sehingga tidak mereka sadari bahwa dirinya telah menjadi "budak" yang secara total dimanfaatkan dan menjadi bagian dari konspirasi tersebut.

Perang konvensional telah berlalu. Perang atom dan nuklir telah memasuki tahapan penghancuran. Saat ini adalah tahapan "perang ideologi" dan tidak ada satu pun ideologi yang boleh unggul di hadapan ideologi zionis. Mereka menganggap bahwa agama sebagai dogma yang meracuni hak azasi manusia karena sifatnya yang mendominasi dan memperbudak kebebasan azasi. 2

Spionase atau konspirasi global telah berlangsung sejak lama. Tidak terlewat pula targetnya yaitu negara-negara berkembang. Negara-negara berkembang diibaratkan seakan-akan bagaikan segerombolan kambing yang siap untuk diterkam oleh singa dan macan yang berbaur tanpa mereka ketahui keberadaannya, karena para singa dan macan itu tidak segan-segan berpura-pura sebagai kambing. Kira-kira seperti itulah ibaratnya, begitu pula dengan "konspirasi licik" yang dilakukan antara CIA dan Mossad Israel yang begitu sangat kompak. CIA berkolaborasi dengan Mossad, karena CIA memanfaatkan pengalaman anggota Mossad yang berpengalaman dalam mengadu domba umat Islam dan membuat berbagai rencana konspirasi untuk menghancurkan agama, memecah persatuan, dan menjadikan satu negara menjadi "kobaran api".

E. Imperialisme Informasi (The Global of Videocracy)
Dunia semakin sempit. Dataran bumi merupakan lahan yang paling empuk untuk dipotret dan ditelanjangi oleh kemajuan pengetahuan. Jaringan pusat satelit didirikan oleh Amerika dengan memakai nama Pusat Penelitian Cuaca. Jutaan informasi dari seluruh negara diolah dan dianalisis untuk kepentingan perusahaan dan ambisi para zionis untuk mewujudkan cita-citanya menguasai seluruh bangsa. Media televisi menjadi "tuhan baru" bagi jutaan manusia di muka bumi, menjadi "penguasa media" (videocracy) yang menghipnotis jutaan pemirsanya. Slogan mereka adalah "tiada hari kecuali mata yang melekat pada kaca TV", bagaikan terkena santet. Jutaan anak-anak sangat hafal dengan program acara yang menayangkan film fiksi. Jutaan ibu rumah tangga menghabiskan waktunya menonton telenovela, sebuah acara opera sabun yang beritme emosional. Televisi bukanlah sekadar lahan usaha yang menggiurkan, melainkan bahan informasi yang bisa juga menyesatkan, tentunya bergantung kepada kepentingan pemegang sahamnya.

Triliuner media, seperti Rupert Murdoch, W. Randolph Hearst salah satu pengikut zionis, telah menjadi sosok yang sangat berpengaruh dalam dunia politik, bahkan menentukan nasib suatu pemerintahan karena lobi mereka. Pengaruh "mata" zionis yang hebat ini telah mengubah perilaku budaya, selera, bahkan keyakinan manusia. Acara-acara yang ditayangkan televisi pun mampu membuat penontonnya begitu terpengaruh secara emosional hingga menangis dan gemas. Hal itu berhasil karena kepiawaian perancangnya dalam mengelola program-program acaranya sehingga menyebabkan jutaan umat Islam terpana dan larut dengan impian yang ditawarkan para copywriter (penulis skenario) periklanan. Kekuatan psikologis televisi dalam "meneror" para pemirsanya melalui: ilusi, kesan (impression), dan pembentukan citra (image) telah berhasil menempatan Amerika sebagai super videocracy. Setiap inci filmnya ditata dengan menyisipkan ketiga karakter psikologi tersebut.

Jutaan mata sembab karena menangis melihat suasana dramatis tenggelamnya kapal Titanic yang dilatarbelakangi nyanyian Celine Dion. Suguhan film fiksi, seperti Jurassic Park dan Armageddon membuat para penonton seperti larut dalam setiap episodenya. Dan jutaan manusia dibuai seakan menjadi Rambo ketika film ini menunjukkan keperkasaan Sylvester Stallone sebagai seorang macho hero yang membebaskan tawanan Amerika dari para Vietkong hanya dengan seorang diri --publik lupa bahwa Amerika kalah perang di Vietnam.

Amerika berhasil memanfaatkan.media informasi untuk tetap membangun citranya sebagai negara super power yang sangat peduli sebagai pembela hak asasi manusia, sehingga setiap pembunuhan berdarah di Irak, Sudan, atau negara lainnya, mereka tetap tidak dipersalahkan. Hal itu tentulah karena mereka telah berhasil membentuk image kuat melalui informasi dan film khurafat (dongeng) yang begitu membekas dalam pandangan publik. Televisi merupakan cara paling ampuh untuk membuka koridor penjajahan baru kaum zionis di muka bumi, bahkan ada semacam "penuhanan" terhadap televisi.

Oleh karena kelangsungan hidup stasiun televisi sangat ditentukan oleh pemasukan iklannya, sedangkan perusahaan-perusahaan menghadapi masalah likuiditas dan dana tunai sehingga mereka "megap-megap" --baik untuk memasang iklan maupun ikut investasi-- bukan tidak mungkin saham suatu stasiun televisi akan dibeli perusahaan asing tentunya dengan lobi dan tekanan kepada pemerintah. Inilah "mata pedang" para prajurit tuhan tersebut. Mereka menguasai media massa, khususnya jaringan stasiun televisi, karena dengan itu mereka lebih mudah mengontrol program-program penayangan yang berbau dakwah, sekaligus memudahkan pembentukan opini untuk keuntungan mereka.

Kisah sukses penginjilan telah dirintis oleh penginjil ulung, Jimmy Swaggart, yang menjadikan televisi sebagai senjatanya yang ampuh untuk mempengaruhi jamaahnya. Khutbahnya yang berenergi muncul pada saat fajar menyingsing dan ditutup menjelang tidur stasiun televisi dibuat secara khusus. Rumah produksi (production house) mereka buat dengan peralatan dan dekorasi yang canggih, mengemas dan memproduksi jutaan video kaset untuk para jamaahnya sendiri dan diekspor sebagai bahan kajian para kader-kader para penginjil di seluruh pelosok negara.

Jaringan televisi yang dikuasai Yahudi (CNN, CNBC, ABC, MTI dan sebagainya) merupakan "tangan gurita" mereka, yang menjajah dan sekaligus menguasai konsumsi informasi secara sepihak. Umat Islam dan negara berkembang semakin terpuruk dalam komoditas informasi. Imperialisme informasi, inilah dua kata yang paling tepat untuk menunjukkan dominasi negara Barat. Abad ini adalah millennium of television yang mampu "mencengkeram" syaraf-syaraf pemirsanya dan sekaligus mengubah budayanya.

Televisi bukan sekadar kotak hiburan, tetapi ia membawa pesan-pesan tersembunyi, sehingga tanpa kita sadari telah mengubah budaya suatu bangsa. Kita sering dikejutkan oleh perilaku anak muda yang populer dengan sebutan "generasi MTV". Sayangnya, umat Islam yang mayoritas di dunia, jangankan mempunyai jaringan televisi bersifat internasional (seperti CNN) sedangkan jaringan lokal saja tidak mampu memilikinya. Padahal, dengan memiliki jaringan televisi yang berorientasi kepada umat niscaya umat dapat mengetahui dan menangkis trik-trik kelicikan para zionis yang sudah "menjamuri" dunia media elektronik, sebagaimana mereka mempunyai agen-agennya, yaitu kaum orientalis.

Alvin Toffler mengulas, "Dewasa ini, keberhasilan gereja di dunia bukan hanya pengaruh moral dan sumber daya ekonominya, tetapi karena ia tetap berfungsi sebagai medium massa. Kemampuannya menjangkau jutaan umat setiap hari Minggu pagi memainkan pula peran dengan memanfaatkan surat kabar, majalah, dan media lainnya."

Kekuasaan media menjadi fenomena baru dalam perang urat syaraf dan propaganda. Ketika Adolf Hitler sang pemimpin besar Nazi meminta Jenderal Gobel selaku Menteri Propaganda Jerman untuk memenang kan perang, Gobel menyambutnya seakan-akan dia berkata, "Sebarkan kebohongan dan terus ulangi dan ulangi, karena kebohongan-kebohongan tersebut akan menjadi kebenaran yang diyakini." Hal ini memberikan kesan kepada kita akan kekuatan propaganda, terlebih bila dilancarkan melalui media massa. Tidak pernah kita bayangkan bahwa kekuatan media melalui selulosa video telah menjadi satu kekuatan besar yang membentuk citra, sikap, bahkan mengubah suatu kebiasaan, budaya dan ideologi suatu negara melalui penguasa media (videocracy).

Kemakmuran yang dinikmati segelintir kelompok, terutama kaum Cina yang menjadi penyandang dana kaum Nasrani, menyebabkan pula terjadinya keresahan sosial di kalangan umat Islam. Agresivitas pengkafiran semakin menampakkan keberaniannya. Kelompok minoritas yang fundamentalis berhadapan dengan mayoritas yang idealis, menyebabkan tumbuhnya berbagai kekesalan yang terpendam di kalangan umat Islam. Di satu pihak, upaya toleransi agama hanya beredar dan dapat dipahami hanya di kalangan elite dan kurang sekali diupayakan program sosialisasinya. Padahal, sekiranya sejak dini, hal itu direalisasikan dalam bentuk toleransi, persaudaraan, dan kebanggaan sebagai satu bangsa dengan menghapuskan berbagai phobia agama dan persepsi yang salah tentang kesukuan maupun ras, niscaya jembatan untuk menuju kepada saling pengertian dan kerja sama sebagai satu bangsa akan segera terlahirkan.

Akan tetapi, sangat disayangkan hal tersebut tidak pernah menyentuh sampai ke dasarnya secara substantif. Bahkan, sebaliknya umat Islam belum menemukan format yang mampu mewujudkan kohesivitas pemikiran yang praktis dan dinamis untuk menjawab tantangan global ini. Dalam beberapa hal, umat Islam masih tertinggal jauh dari agamawan lainnya yang bergerak dengan sangat profesional yang didukung oleh dana, hubungan internasional, serta sumber daya manusia yang kuat. Pola dakwah Islamiyah masih "jalan di tempat". Dakwah baru menyentuh kepada simbol-simbol yang dangkal (superficial), masih berkutat pada tahapan mata hati (bashiran), belum menyentuh mata hati yang menyinari (pelaksanaannya; sirajam-muniran). Dakwah dengan lisan masih lebih dominan daripada dakwah dengan perbuatan. Hal ini menyebabkan umat Islam kehilangan daerah yang strategis untuk melancarkan dakwahnya secara simultan, terintegrasi, dan dikoordinasikan dalam satu manajemen yang profesional.

Buku Fakta dan Data yang diterbitkan Media Dakwah pada halaman 57 menyebutkan, "Lapangan media informasi harus dikontrol paling tidak 75 persen oleh orang Kristen, karena informasi merupakan persenjataan yang paling tajam untuk mengontrol umat Islam."

Sementara, Umar Husein menulis tentang efektivitas imbauan Paus John Paul II, "Paus mengimbau kepada umat Katolik agar menyebarkan ajaran Kristen (Pope calls on Catholics to spread Christianity)." Dan hasilnya imbauan Paus langsung diikuti oleh para jamaah dengan penuh antusias, dengan hasil dua kali lipaf persentase perkembangan laju penduduk Indonesia sendiri, terbukti perkembangan Kristen Katolik pun sangat pesat di Kalimantan (Kalimantan Barat 9,5 persen; Kalimantan Timur 18,5 persen; dan Kalimantan Tengah 16,5 persen). Sedangkan persentase umat Islam sendiri mengalami penurunan: tahun 1980 (87 persen), tahun 1985 (86,9 persen). Bisa disimpulkan bahwa Indonesia adalah salah satu daerah tujuan peuyebaran Injil. Demikian yang ditulis Husein Umar (Fakta dan Data: hlm. 24).

Fakta ini memberikan informasi serta hikmah bahwa dalam dunia demokrasi global, umat Islam harus mampu bersaing memenangkan citra. Oleh karena kebenaran yang hanya disimpan di dalam hati akan terkikis (lindap) digantikan oleh keyakinan yang setiap hari ditayangkan dengan penuh kesan. Perang global bukanlah perang konvensional yang mengepulkan mesiu dan deru suara bedil. Akan tetapi, sebuah kreativitas otak dan seni untuk memenangkan sebuah ambisi. Maka terkenanglah kita akan ucapan Umar bin Khaththab ra.:

"Kebatilan yang terorganisasi dengan rapi akan mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisasi."

Ini merupakan aksioma universal yang harus dijadikan patokan hidup umat Islam. Kita tidak mungkin hanya bersifat apologetika (membela diri dengan melihat ke masa lalu, ed.) seraya melihat ke belakang mengenang kejayaan Andalusia. Di hadapan kita terpampang suatu "tantangan global" yang harus dihadapi dengan menyatukan pikiran, dana, dan gairah untuk menjadi pemenangnya.

Kita pun tidak perlu bermalas-malasan, seraya memimpikan datangnya Imam Mahdi, Ratu Adil, atau Mesiah yang dengan baik budi mau mengulurkan tangan menolong penderitaan umat. Kita harus menjawab, "Tidak!" Karena Allah tidak akan mengubah suatu bangsa (kaum) kecuali bangsa (kaum) itu sendiri yang mengubah nasibnya.

Menyadari gerakan zionis yang menyelusup ke seluruh tubuh kehidupan termasuk kehidupan beragama --baik itu Islam, Kristen, Budha, atau Hindu-- kiranya sudah saatnya semua pihak tanpa melihat perbedaan agama harus saling bergandengan tangan untuk membentengi negara tercinta yang merupakan amanat Ilahi dari gangguan ambisi kaum zionis. Semangat cinta Tanah Air merupakan salah satu kunci yang tangguh dalam menghadapi perang global ini. Setiap agama pasti menghargai makna Tanah Air sebagai amanat Ilahi.

Pertentangan agama serta berbagai kecemburuan yang dijadikan pemicu konflik harus kita akhiri, karena pada akhirnya hanya kaum zionislah yang akan memetik keuntungannya.

Seluruh umat beragama harus membaur dalam citra persatuan kebangsaan, karena itulah kita semua berdiri menjadi pandu yang membentengi setiap jengkal harta dan martabat kita bersama. Sudah saatnya, kita melupakan luka sejarah yang penuh dengan pertentangan dan membuka ruang persamaan serta memperkecil nilai-nilai yang berbeda.

Tidak ada pilihan bagi umat Islam di Indonesia kecuali membuka sekat perbedaan, mengulurkan tangan, dan saling bergandengan tangan bahwa musuh kita bukanlah bangsa kita sendiri, tetapi sebuah kekuatan "raksasa" zionis yang harus dihadapi melalui persatuan dan kesatuan umat. Pertentangan sekecil apa pun tidak pernah akan memberikan manfaat bagi bangsa Indonesia, khususnya umat Islam kecuali tepukan kebahagiaan bagi kaum zionis yang tidak rela bila ada satu negara yang tidak mau mereka jadikan bonekanya.

Jauhkanlah segala bentuk perbedaan yang tidak prinsipil yang hanya menuju kepada pertikaian. Hamparkanlah jembatan kebangsaan yang mengantarkan kita ke jembatan emas masyarakat baru Indonesia. Menjadikan cinta dan kasih sayang diantara sesama bangsa Indonesia sebagai tema sentral tatanan pergaulan seraya memperkecil segala bentuk perbedaan. Bukan justru sebaliknya, bangsa Indonesia kehilangan cinta dan kasih sayang dikarenakan kita disibukkan dengan mempertajam perbedaan abadi yang secara fitri melekat pada diri setiap manusia.

Umat Islam harus tidak mengenal kata menyerah dalam menghidupkan prinsip-prinsip kehidupan dalam sistem jamaah. Meramaikan masjid-masjid sebagai pusat tali ukhuwah dan membuka diri terhadap paham yang berbeda selama dalam kerangka cinta kasih dan saling menghargai. Hal ini tidak hanya dapat dituangkan dalam upacara pidato belaka, tetapi harus dijadikan sebagai bagian dari sistem pendidikan bangsa, sejak mereka mengenal bangku sekolah. Buanglah jauh-jauh segala bentuk Islam phobia, Kristus phobia, Sino phobia, dan segala bentuk phobia yang bisa menghambat persatuan kita sebagai satu bangsa yang telah memiliki tradisi nenek moyang yang luhur. Kuncinya tidak lain bersatu, sekali lagi bersatu.

Hidup yang rukun, berdampingan dan saling menghargai, sebagaimana telah ditunjukkan oleh kebesaran jiwa Islam pada periode Madinah dan Mekah, maupun pada saat puncak kejayaan pemerintah Islam di Andalusia, yang oleh Max Dimont dikatakan, "Dampak dari 500 tahun di bawah kebijakan kaum muslimin, maka Spanyol yang saat itu terdiri dari tiga agama: Islam, Kristen, dan Yahudi yang hidup dalam satu wilayah, mereka saling bertoleransi dan penuh pengertian dalam bermasyarakat...."

(Under the subsequent 500 year rule of the Moslems emerged the Spain of three religion and one bedrooms: Mohammedans, Christians, and Jews shared the same brilliant civilization....)

Inti ajaran Islam adalah tauhid dan membawa kedamaian bagi alam semesta (rahmatan lil-alamin). Hal itu hanya dapat kembali ke panggung sejarah selama umat Islam bersatu dan menjadi payung kehidupan. Sebagaimana masyarakat madani yang kita cita-citakan hanya dapat terwujud bila kita semua mengarah kepada persatuan umat (ittihadulummah). Kemenangan Islam yang mengalahkan kaum Pagan musyrikin telah membuktikan satu tradisi bahwa di tangan daulat Islamiyah, masya rakat lain yang beragama non-Islam, dapat hidup tenteram berdampingan.

Kalau saja para pemimpin mempunyai keberpihakan yang kuat kepada Allah dan Rasulnya, kalau saja mereka ingin membangun sebuah "samudra besar" yang disebut dengan persatuan umat. Kalau saja di hati para pemimpin ada semangat kenegarawanan yang sejati, bukan sekadar ahli orasi dan politisi, niscaya mereka mau melepaskan baju 'ashabiyah-nya (kebanggaan terhadap kelompok) seraya berkata:

"Demi menegakkan Sunnah Nabi dan kekuatan jamaah yang bagaikan barisan yang. Kuat, demi Allah, saya tidak inginkan jabatan ini, asalkan kita dan para pengikut masing-masing meleburkan diri dalam satu kata yang paling dirindukan, yaitu 'persatuan umat' (ittihadul-ummah). Kalau Anda mau memegang amanat umat yang satu, silakan pimpin dan bawalah umat ini menuju ke puncak-puncak kejayaan Islam, saya akan mendampingi Anda dalam suka dan duka untuk memenangkan cita-cita izzul Islam wal-muslimin (menjunjung Islam dan kaum muslimin)."

Akan tetapi, dari dalam lubuk hati yang paling dalam, nurani pun menjerit, adakah pemimpin yang seperti itu?

Lantas masih adakah para pemuda yang mempunyai tekad kuat (muru'ah) untuk mengkampanyekan pentingnya persatuan dan kesatuan umat? Masih adakah pemuda yang berkata, "Demi persatuan umat dan menghilangkan kebingungan karena banyaknya partai dan golongan yang mengatasnamakan Islam, maka dengan mohon maaf sebesar-besarnya kepada Anda sebagai pemimpin kiranya sudi dengan ikhlas maupun terpaksa untuk ikut dengan kami ke satu tempat, di sana telah berkumpul para pemimpin Islam yang lainnya. Ini bukan menculik, seperti kasus Chairul Saleh dan rekan-rekannya yang membawa Soekarno ke Rengasdengklok untuk memproklamasikan Indonesia. Akan tetapi, sebuah harapan yang kami wujudkan dalam bentuk tindakan, bukan kata-kata, karena kata persatuan umat sudah terlalu lama kami dengar tanpa melahirkan apa pun kecuali retorika belaka. Mohon maaf, ikutlah dengan kami ke satu tempat untuk memproklamasikan partai yang mampu menyatukan seluruh potensi umat dalam satu wadah satu harakah satu cita-cita ittihadul ummah."

Akan tetapi, nurani bagaikan tercabik koyak. Pemikiran seperti ini hanyalah sebuah khayalan. Bahkan, bisa menjadi cemooh belaka. Dan segudang tudingan pun pasti menuju kepada orang-orang utopis itu. Ini berarti tidak demokratis, biarkanlah semua orang mempunyai haknya masing-masing. Hargailah orang yang berbeda pendapat, berbeda kelompok --yang segudang hadits dan ayat pun mereka bacakan. Anda jangan memaksakan kehendak karena ingin mewujudkan persatuan umat dengan cara paksa dan itu adalah fasis (berpemikiran otoriter/memaksa, ed.).

F. Hancurnya Persatuan
Persatuan umat Islam dalam bentuk ittihadul-ummah atau kuatnya persatuan dan kesatuan suatu bangsa adalah musuh utama kaum zionis.

Mereka tidak pernah membiarkan umat atau suatu bangsa bersatu, kecuali itu hanya sebagai bahan perimbangan kekuatan semata-mata. Beberapa bangsa dibiarkannya untuk stabil dan bersatu sepanjang dapat mereka kontrol demi kepentingan mereka. Karena dalam gerakan konspirasinya, kaum zionis menganggap pemimpin yang baik adalah yang mampu menciptakan konflik, mampu membuat musuh, tetapi semuanya itu harus dalam kerangka besar perencanaannya sehingga tetap terkontrol.

Memang benar bahwasanya umat Islam bukanlah pemalas. Mereka sama-sama bekerja, tetapi sayangnya tidak pernah mau bekerja sama. Satu sama lain asyik dengan kepentingan atau urusannya sendiri. Menutup sekat dari nilai esensial persatuan dan persaudaraan yang hanya sebatas pemanis retorika belaka. Jiwanya rapuh diterpa kecintaan yang sangat mendalam terhadap dunia, terperangkap dalam jaringan yang telah dipersiapkan kaum Dajal. Hal ini telah ditegaskan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya:

"Akan datang suatu saat, kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain yang bagaikan orang-orang yang kelaparan memperebutkan makanan dalam mangkok. Para sahabat bertanya, 'Apakah karena jumlah kami waktu itu sedikit?' Beliau menjawab, 'Tidak, bahkan jumlah kalian banyak sekali, tetapi bagaikan buih dan kalian ditimpa penyakit wahan.' Mereka bertanya, 'Apa yang dimaksud penyakit wahan, ya Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Kalian sangat cinta kepada dunia dan takut mati'…" (HR Abu Daud).

Dengan hadits tersebut, seharusnya kita merasa digugah bahwa gerakan kaum Dajal itu sudah memperhitungkan pula kualitas umat Islam yang saat ini mulai kehilangan nilai, bobot kualitas, dan hidup hanya bagaikan gunungan buih, sehingga dengan sangat mudahnya Dajal dan para pengikutnya merambah dan merombak seluruh sistem kehidupan umat Islam seperti yang disebutkan dalam surat al-Baqarah:120. Sehingga, berbagai cara harus dilakukan agar umat Islam tidak sempat menjadi kuat dan menepuk dada sebagai satu bentuk negara yang baik. Pokoknya, tidak ada satu "lubang" pun yang luput dari pengawasan mereka. Dia pelihara benih-benih konflik agar pada waktu yang tepat dapat menjadi bahan akseleratif kekacauan yang menjadi sarana baginya, yaitu agar orang-orang yang dalam keadaan kacau (chaos) dan frustrasi itu datang menyembah kepadanya.

Cita-cita Dajal membangun satu dunia baru yang global, yaitu: satu pemerintahan, satu agama; satu kewarganegaraan, dan satu sistem perekonomian merupakan falsafah baru bagi para pengikutnya, kaum zionis. Mereka akan menghapuskan segala bentuk kebangsaan dan nasionalisme serta agama-agama yang ada. Dengan terang-terangan, mereka membuat gerakan unitarian-universalist dan menentang dengan sengit kekuatan gereja Katolik.

Mereka menyebut dirinya sebagai anti-Kristus. Salah satu target mereka adalah menghancurkan kekuatan Kepausan yang menguasai dunia melalui gereja Katoliknya. Sejarah masa lalu serta terusirnya kaum Yahudi dan terbunuhnya Jaques de Molay merupakan satu cita-cita untuk membalas dendam. Maka dicarilah berbagai justifikasi (pengesahan hukum sepihak) diantaranya dengan membuat tafsir-tafsir Bible yang disesuaikan dengan kepentingan gerakan konspirasi mereka.

Dengan sangat cantiknya mereka menafsirkan peristiwa Menara Babil, di mana pada saat itu seluruh manusia berbahasa satu, berkebangsaan satu, dan mempunyai tujuan yang satu. Sebab itu adalah cita-cita yang sangat suci bila mereka mengembalikan kedudukan Menara Babil tersebut, agar manusia mencapai kesejahteraan yang sebenarnya. Mereka sangat anti terhadap agama yang dianggapnya sebagai racun. Karena dengan dogma-dogmanya, ia telah membius manusia sehingga terpenjara dan tidak mempunyai kebebasan berpikir kecuali harus sesuai dengan agama mereka.

Generasi muda merupakan sasaran utama mereka, karena sifat para pemuda yang sangat senang dengan pemikiran-pemikiran baru atau menunjukkan sikap yang berbeda dan anti-status quo. Di samping itu, pemikiran bebas (free-thinking) akan menjadikan satu mode pemberontakan terselubung untuk menghadapi sistem pemikiran yang diperkenalkan agama sebagai status quo dan membunuh kreativitas. Dajal dan para pengikutnya seakan-akan berteriak:

"Bebaskan dirimu dari segala 'penjara kuno' ini. Jadilah kaum pembaru. Lihatlah dunia semakin global. Janganlah terpuruk dalam tempat yang sempit. Lihatlah dunia, mengembaralah engkau sebagai manusia bebas. Jadilah seorang pembela demokrasi sejati, melepaskan segala belenggu dari tirani dogma agama. Berpalinglah kepada setan karena dia adalah 'bapak demokrasi' yang berani memprotes status quo dan mengambil risiko terusir dari surga sebagai 'malaikat diturunkan' (the fallen angels). Lihatlah kenyataannya, agama tidak lain hanyalah racun dan sumber konflik belaka."

Racun pemikirannya yang didasarkan pada rasionalisme, mengarahkan "mata pedangnya" kepada seluruh bangsa. Tentu saja, dalam situasi yang stabil dan tenang, gerakan mereka menghadapi kesulitan karena berperannya seluruh institusi untuk mengembangkan agama (dakwah). Oleh karenanya, hanya dengan membangun perpecahan diantara umat beragama maka dengan meminjam istilah Prof J.S. Malan yaitu, "Cita-cita 'era reformasi pembaruan' hanya dapat diwujudkan bila dogma-dogma agama konservatif sudah dapat dilumpuhkan."

Dalam beberapa dekade ini, kita menyaksikan satu panggung kehancuran suatu bangsa yang terkoyak dan berkeping-keping menjadi negara-negara kecil sehingga memudahkan kaum zionis melakukan kontrol. Negara Uni Soviet dan Rusia yang selama ini menjadi pesaing keras harus dijadikan contoh utama kemenangan zionis. Selanjutnya, mereka hancurkan pula Yugoslavia dengan memelihara kaum fanatik Serbia untuk menjadi ujung tombak atau budak zionis menghancurkan etnik muslim di Bosnia dan Kosovo Albania. Mata pedang selanjutnya di arahkan pula ke timur jauh, yaitu Indonesia. Isu suku, agama, dan antar golongan (SARA) harus dipelihara agar sewaktu-waktu menjadi bom yang memporak-porandakan negara kesatuan Republik Indonesia yang notabene penduduknya mayoritas umat Islam. Dalam rencana konspirasi mereka, tentu saja tidak akan lama lagi terjadi huru-hara pertentangan atau konffik agama, antara Islam dan Kristen, khususnya Kristen Protestan --rumor beredar bahwa beberapa pulau di Indonesia yang penduduknya mayoritas Kristen Protestan bisa jadi target zionis-- karena diperkirakannya Katolik sudah cukup mendapatkan lahan di TimorTimur. Hal ini sangat penting bagi terwujudnya cita-cita zionisme, yaitu memecah satu bangsa menjadi satu negara kecil, lalu mereka meniupkan kebebasan, kemandirian, dan sebagainya sebagai kamuflase. Bahkan, bisa jadi Indonesia akan diarahkan menjadi negara-negara kecil dalam bentuk federasi, atau bahkan terlepas sama sekali. Isu seperti ini akan terus merebak, dan umat Islam berkelompok-kelompok dengan memakai simbol-simbol baru.

Untuk memecah-belah persatuan harus ada motivator atau provokatornya. Untuk itu, kebebasan pers yang benar-benar bebas harus ditumbuhkan, sehingga media massa dapat menjadi pembawa pesan sesuai dengan fungsinya yang mempunyai daya mendampaki beritanya kepada publik sehingga membentuk opini. Media massa bisa memprovokasi suatu bangsa dan provokasinya bersifat legal karena mereka berlindung di balik kebebasan pers.

Amerika sebagai "rajanya demokrasi" telah memperkenalkan satu bentuk kebebasan pers tersebut melalui jaminan konstitusional berdasarkan: kebebasan untuk berbicara (the freedom of speech); kebebasan untuk berekspresi (the freedom of expression), kebebasan untuk mendapatkan dan memberikan informasi (the freedom of information), sehingga masyarakat Amerika dan dunia Barat lainnya adalah masyarakat yang sangat informatif. Hidup dalam limpahan informasi --harap diingat bahwa kecerdasan bangsa tersebut memungkinkan untuk memilih informasi sesuai dengan hati nuraninya. Pers yang kredibel dan profesional lebih banyak dibaca dibandingkan "pers kuning" --dalam dunia jurnalistik dikenal dengan yellow paper.

Untuk itu, kita hanya dapat berharap kepada insan pers islami yang mempunyai integritas tinggi dan mernpunyai komitmen atau keberpihakan kepada umat Islam serta persatuan bangsa untuk membantu perjuangan mempertahankan persatuan. Selebihnya, umat Islam hanya menjadi konsumen setia dari lembaga pers orang-orang kafir yang dikelola secara profesional, atau memilih "koran kuning" yang hanya mementingkan nilai-nilai komersial ketimbang keadilan dan moralitas bangsa dan agama.

Bagaikan tidak berdaya, umat Islam telah menjadi objek dan konsumen setia terhadap pers kaum kafir. Setiap detik, tayangan CNN, CNBS, ABC, dan sekian banyak lagi jaringan informasi "memasuki" rumah-rumah umat Islam melalui parabola tanpa mampu menolaknya. Kita tidak lagi menonton televisi, tetapi televisi menonton kita. Emosi dan keinginan kita disaksikan, dianalisis, kemudian dijadikan bahan untuk membuat kemasan iklan dan berita yang dapat memasuki syaraf kita dan tanpa kita sadari.

Cara berpikir dan cara berbudaya kita sudah sangat berbeda sama sekali dengan apa yang selama ini kita yakini. Benturan budaya dan pemikiran terus berlangsung, tanpa sedikit pun ada keinginan untuk membalas dengan kuantitas dan kualitas yang sama. Bila kita mengharapkan keadilan dunia pers internasional untuk membuat keseimbangan beritanya, tentulah itu hanyalah sebuah utopia belaka. Hal itu karena seluruh jaringan media telah mereka kuasai dan jadikan alat zionisme. Dengan kata lain, kita semua sedang berada dalam satu "turbulensi budaya" yang berada dalam posisi pasif. Kita hanya menjadi satu "noktah kecil" yang menjadi objek dari teleskop dunia. Seluruh gerak kehidupan kita bagaikan telanjang di hadapan mata Lucifer tuhannya para zionis, yang dengan tajam mengawasi seluruh bangsa di dunia.

Walaupun dalam kaitan ini ajakan untuk menyebarkan ide persatuan umat dan seruan itu bagaikan percikan air hujan di tengah padang pasir, tetapi setidaknya dapat menjadi catatan generasi yang akan datang bahwa masih ada seorang mahluk hamba Allah yang merindukan terwujudnya persatuan dan jami'atul-muslimin. Kita yakin hanya inilah kunci kemenangan umat Islam di muka bumi, sebagaimana Allah memberikan kuncinya, yaitu bersatu dan berpihak pada partai Allah (hizbullah). Selama umat Islam tetap membanggakan dirinya dengan golongan, mazhab, dan kelompoknya, selama itu pula pertolongan Allah tidak pernah akan datang. Hal ini merupakan aksioma Ilahiyah yang seharusnya dapat dipahami dan diyakini oleh para pemimpin umat. Bila umat Islam terpecah menjadi kelompok-kelompok, kekalahanlah yang akan kita terima.




Bab III Menghadapi Perang Global (3)
G. Tantangan Kaum Dajal

Allah SWT telah memperingatkan kita di dalam Al-Qur'an bahwa seluruh umat Islam, bangsa Indonesia, bahkan seluruh umat beragama lainnya, harus mewaspadai pengaruh kaum Dajal yang akan menjadikan masyarakat dan bangsa Indonesia tercerai-berai agar memudahkan mereka menyebarkan "racun-racun" ideologinya.

Dalam suasana kita sedang mengupayakan pelaksaan program reformasi (ishlah), serta upaya untuk membuat berbagai perbaikan dan menghancurkan segala yang rusak (f'asad) dan yang merusak (ifsad), jangan sampai ada pihak-pihak yang mengatas-namakan reformasi, padahal di lubuk hati mereka sedang mempersiapkan sebuah rencana besar untuk mempersiapkan kehancuran kaum beragama, sebagaimana disinyalir Al-Qur'an:

"Dan bila dikatakan kepada mereka, 'janganlah membuat kerusakan di muka bumi.' Mereka berkata, 'Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.' Ingatlah sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar." (al-Baqarah:11-12).

Reformasi bukanlah upaya musiman, bukan pula sekadar "mode busana", melainkan merupakan bagian dari misi dan visi setiap pribadi muslim dan bangsa Indonesia. Sebagaimana kita memahami makna upaya jihad untuk mengubah diri dari kegelapan menuju cahaya (minadz dzulumaati ilan-nuur). Sebab itu, reformasi merupakan sebuah upaya yang berkesinambungan, sebuah kontinuitas, dan dia tidak pernah akan berhenti, kendati para pejuangnya telah mati. Manusia boleh mati, lembaga dan partai boleh bubar, tetapi cita-cita dan upaya ishlah atau reformasi tidak pernah mengenal kata berhenti apalagi mati.

Dalam kaitan itu, janganlah terlalu terpaku, seakan-akan bahwa Dajal itu hanya melulu dibuat oleh tangan kaum zionis. Ketahuilah bahwa siapa pun dapat menjadi pengikut dan menjadi anggota masyarakat Dajal, selama dia tidak lagi berpihak kepada kebenaran Al-Qur'an dan Sunnah. Masyarakat Dajal adalah masyarakat yang telah kufur dan selalu berusaha melaksanakan program kafirisasi dalam segala bidang. Pokoknya, siapa pun dapat menjadi masyarakat Dajal, selama mereka melepaskan tali persaudaraan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. Selama mereka melepaskan segala ikatan moral dan etika yang telah lahir dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia yang panjang, sejak benih-benih negara modern ditanamkan oleh gerakan kebangkitan nasional yang pertama yang dipelopori oleh kaum Serikat Dagang Indonesia, H.O.S. Tjokroaminoto pada tahun 1911, lalu dilanjutkan oleh Budi Oetomo pada tahun 1920.

Sebab itu, generasi demi generasi harus selalu menunjukkan sikap keberpihakannya kepada persatuan, persaudaraan di atas landasan cinta. Ke manapun kita pergi, cinta adalah bahasa universal. Dia adalah bahasanya umat beragama, bahasanya suku, dan bangsa-bangsa di muka bumi. Cinta berarti semangat jiwa untuk saling menghargai, saling menolong, dan saling memberikan cahaya. Semangat ini harus menjadi pijakan utama bangsa Indonesia. Terlebih dalam menghadapi abad baru yang penuh dengan keterbukaan, benturan budaya dan ideologi, serta cara berpikir yang semakin global. Dalam cinta itulah, kita semua bergantung, tanpa cinta bangsa Indonesia akan terpuruk dalam kepingan-kepingan derita yang teramat panjang dan menjadi "budak" dari Amerika Serikat sebagai sentralnya gerakan zionis yang memang selalu ingin menunjukkan kedigdayaannya di muka bumi ini.

H. Tantangan Tiada Henti
Dalam waktu yang dekat, ideologi Dajal akan segera merasuki seluruh denyut kehidupan. Dia akan diawali dengan cara berpikir, yang disebut dengan istilah berpikir bebas (free-thinking), melepaskan segala rujukan dan dasar pijakan dari agama. Menurut orang-orang yang berpikir bebas ini, selama masih merujuk kepada agama sebagai dasar argumentasinya, maka belumlah bebas. Merujuk kepada agama berarti masih diperbudak dan masih dalam perangkap tirani pemikiran. "Bebaskan pikiranmu dari segala ikatan, barulah engkau dapat merasakan kebebasan itu sendiri," demikianlah, seakan-akan moto berpikir mereka, yang sekaligus akan menjadi tantangan baru bagi kaum agamawan. Berpikir bebas berarti benar-benar bebas dari segala spekulasi, segala sesuatunya harus bersifat empiris. Bagaimana mungkin kita percaya dengan surga dan neraka, sedangkan tidak ada satu pun peristiwa empiris yang memberitakan kebenarannya.

Lepaskan dirimu dari segala ikatan dogma. Lihatlah kenyataan, berpadulah dalam realitas, bukan dalam khayal dan impian. Kami ingin memberikan satu contoh untuk kalian wahai kaum agamawan. Tanpa merujuk pada satu ayat pun; kita akan merasakan bahwa "kemanusiaan" adalah bahasa yang universal. Ini lebih logis, lebih membumi, dan menyentuh realitas yang sebenarnya. Selama manusia masih merujuk pada agama, maka konflik tidak pernah akan lindap di muka bumi ini. Lihatlah sejarah, berapa banyak sumber konflik, diawali dari keyakinan dogma-dogma agama yang memenjarakan kebebasan berpikir dan tidak manusiawi.

Dunia telah mengglobal, tidak mungkin lagi ada isolasi atau sekat-sekat kehidupan manusia atas dasar agama, bangsa, atau budaya. Di muka bumi ini sudah menjadi hukum alam (sunnatullah) bahwa yang kuat itulah yang akan menang. Aksioma survival for the fittest (siapa yang kuat, dia yang akan bertahan, ed.) akan berlaku sepanjang zaman. Maka lepaskan segala fanatisme, nasionalisme, agama, dan kesukuan. Meleburlah menjadi satu "warga dunia" (planetary citizens), bergabunglah dalam satu pemerintahan global yang perkasa, ikatkan dirimu dalam satu budaya, satu agama, satu cita-cita, dan satu warna peradaban dunia yang baru novus ordo seclorum.

Lihatlah realitas. Berapa banyak manusia kelaparan di belahan bumi selatan: Afrika, Asia, India, Bangladesh, dan negara-negara lain di luar Barat. Mereka tidak berdaya tanpa pertolongan kemanusiaan dari dunia Barat yang sekuler, tanpa embel-embel agama. Negara mana yang dengan fanatisme agamanya, ia mampu mengulurkan tangannya untuk membantu sesamanya, sebagaimana yang diajarkan oleh agama?

Janganlah melarikan diri dari kenyataan. Hukum alam telah membuktikan bahwa budaya yang kuat akan mengungguli budaya yang lemah. Tidak lama lagi, seluruh dunia akan mengikuti budaya kami, budaya zionis. Budaya yang paling unggul dan yang akan meninggikan derajat manusia di muka bumi ini. Inilah realitas yang tidak terbantahkan. Kami mempunyai teknologi, juga pengalaman dari sebuah peradaban yang telah lama berkembang, dan kini sedang berproses mencapai titik yang tidak pernah akan terbayangkan oleh peradaban manusia sebelumnya. Berhentilah bermimpi dengan segala omong kosong. Reguk dan nikmatilah dunia nyata. Negeri kami bisa tegak, sejahtera, dan berkembang bukan karena dogma agama, tetapi karena intelektualitas, hukum yang menjadi primadona kehidupan dan hak azasi, di mana setiap orang dihargai sebagai manusia yang merdeka --inilah cita-cita Dajal beserta zionisnya

Inilah pula cita-cita para zionis dengan perkataannya, "Kami datang untuk melebarkan sayap budaya unggul kami, dan janganlah dicurigai. Kami ingin mengangkat martabat manusia untuk menjadi manusia yang sebenarnya. Manusia yang bebas dan mengetahui hak asasinya sebagai manusia. Kami ingin melepaskan Anda dari segala tirani gereja dan lembaga agama apa pun yang tidak memberikan hak demokrasi serta kebebasan bagi manusia. Itulah sebabnya, demi hak dan martabat manusia, kami membuka pintu bagi kaum lesbian, homo seksual, dan intergender serta lainnya. Mereka semua adalah manusia, dan kita harus memperlakukannya sebagaimana seharusnya manusia merdeka dan bebas."

I. Pekerjaan Besar Untuk Para Ulama, Mubaligh, dan Agamawan
Dunia bertambah global dengan segala implikasinya yang merupakan sebuah realitas. Dan pertanyaan serta tantangan masyarakat Dajal tidak bisa dipandang dengan sebelah mata. Karena ideologi ini sudah dapat kita saksikan beberapa fragmentasinya di panggung kehidupan dunia Barat yang sekuler.

Mereka mengembangkan dan mencoba meningkatkan propagandanya dengan pendekatan total dan multidimensional. Gerakan: kemerdekaan manusia (libertian), orang-orang kiri (leftist), pemikir bebas (freethinkers), sosialisme baru, neo-komunisme, sekularisme matrialistik, termasuk pseudo agama dalam bentuk mistik dan okultisme. Itu semua tidak dapat dihadapi hanya dengan pendekatan hitam-putih maupun halal-haram. Akan tetapi, itu membutuhkan sebuah format intelektual yang membuka wawasan serta mampu menjawab seluruh argumentasi ideologi baru ini melalui kapasitas intelektual logis --yang saat ini menjadi mode di kalangan para kawula muda.

Kaum agamawan tidak cukup hanya dengan menguraikan nilai-nilai normatif dalam menghadapi objek dakwah yang kebetulan telah bersentuhan dengan informasi global. Mereka menguji kita dengan pendekatan komparatif (perbandingan). Mempertanyakan norma-norma yang disajikan dengan deskriptif-empiris. Kita telah menyaksikan betapa gerakan dakwah sangat sedikit, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, apabila dibandingkan dengan propaganda budaya sekuler tersebut. Dakwah bagaikan deret hitung, sementara godaan kenikmatan hedonistik bagaikan deret ukur.

J. Solusi Atakah Ilusi
Apakah ilusi bisa menjadi solusi, ataukah sebaliknya penawaran sebuah solusi hanyalah ilusi belaka yang akhirnya tidak memberikan apa pun kecuali kembali kepada kebiasaan-kebiasaan dan membiarkan diri "telanjang" di hadapan bidikan "kamera" kaum Dajal.

K. Bidang Ekonomi
Kalau saja saat ini, umat Islam mempunyai pemimpin sebenar-benarnya pemimpin, seperti Rasulullah saw, niscaya ekonomi menurut syariat Islam bisa dikomandokan agar seluruh umat Islam melaksanakannya. Dan niscaya umat Islam akan mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat dan sulit utuk ditembus oleh infiltrasi paham zionis, walau mereka bersekutu dengan kaum Dajal lainnya di muka bumi ini. Setiap pengusaha atau masyarakat mempunyai keterpanggilan untuk hanya menyimpan uang mereka di bank Islam. Melakukan sistern ekonomi dan perbankan dengan sistem yang ditetapkan secara halal menurut konvensi syariat. Tentunya, bank Islam tersebut akan mengalami likuiditas yang tinggi, dana tunai yang sehat, dan pada saatnya mampu mengalirkan kembali dana tabungan tersebut untuk membantu kaum muslimin. Jaringan dunia perbankan Islam akan menyebar ke semua pelosok dan memperkuat fondasi ekonomi umat.

Akan tetapi, jauh dari lubuk hati kita masing-masing, tentunya ada semacam pesimisme, selama umat Islam tidak berada dalam satu komando kepemimpnan umat yang berwibawa. Selama kepemimpinan dan jamaah belum dianggap sebagai persyaratan kehidupan umat Islam, maka imbauan apa pun akan tetap kalah bersaing dengan hingar bingarnya sistem zionis yang secara duniawi sangat memikat manusia. Pantaslah Rasulullah saw menjawab bahwa umat yang banyak, tetapi berkualitas buih. Kita telah kehilangan daya inovasi dan lebih senang menari dengan iringan musik kaum kafir yang tidak pernah mengenal lelah ingin mengadu domba sesama umat Islam.

L. Zakat, Infaq, dan Sedekah
Kalau saja umat Islam mempunyai "imam" yang mampu mengomandokan agar beberapa bagian dari penghasilan umat Islam dikeluarkan untuk dizakatkan, diinfakkan, dan disedekahkan kepada mereka yang memerlukannya (kaum dhuafa) niscaya tidak akan ada lagi proposal yang beredar atau surat-surat edaran yang meminta sumbangan, tidak akan ada lagi para saudara kita yang mengulur-ulurkan tangan diiringi loudspeaker di pinggir jalan untuk biaya pembangunan masjid baru. Karena pengelolaan dana dizakatkan, diinfakkan, dan disedekahkan umat dilakukan dengan profesional dengan satu imamah, tentunya.

Pembangunan masjid dievaluasi oleh satu tim. Apakah diperlukan membangun masjid baru sedangkan di sebelahnya ada masjid yang sepi dari jamaah. Bagaimana rasio populasinya, dari manakah dananya, dan lainnya. Karena kita tidak mempunyai imamah maka umat Islam mencicit seperti anak ayam kehilangan induknya yang bergerak di lapangan terbuka tanpa perlindungan dari mata tajam elang rajawali yang siap menerkamnya. Bagaimana membuat satu fatwa atau gerakan dakwah agar dapat meramaikan masjid. Memakmurkannya dengan shalat berjamaah adalah sama besar pahalanya dengan membangun masjid. Apalah artinya masjid dibangun di setiap RT atau RW, tetapi sepi dari orang-orang yang meramaikannya dengan shalat fardu berjamaah.

M. Membelanjakan Uang
Kita tidak ingin berdebat soal khilafiah bahwa ibadah seseorang tidak akan diterima selama empat puluh hari apabila di dala perutnya ada makanan haram, tetapi kiranya harus direnungkan bagaimana dan kepada siapa kita harus membelanjakan uang ini.

Dengan perekonomian global yang kita hadapi saat ini, berapa banyak perusahaan asing menanamkan modalnya di negara yang mayoritas penduduknya umat Islam. Mereka melakukan kerja sama (joint venture) dengan pembagian keuntungan yang lebih besar profitnya kepada para penanam modal dan pemilik royalti. Misalnya, sistem komposisi sahamnya adalah 80:20, di mana 80 persen untuk pemilik modal mayoritas dan pemilik royalti, dan 20 persennya untuk pemodal dalam negeri. Maka sudah dapat kita ketahui berapa milyar rupiah mengucur ke para pemodal asing tersebut, lalu dibawanya keuntungan tersebut ke negeri asalnya. Uang yang kita belanjakan ternyata membantu pengembangan usaha mereka, karena mayoritas keuntungannya dinikmati di negara asalnya yang notabene merupakan bagian dari jaringan zionis. Dan mereka tidak mendapatkan kewajiban berzakat, sehingga mustahil mereka menyisihkan keuntungan perusahaan dalam bentuk zakat.

N. Keberpihakan Kepada Islam
Bagaimana mungkin ajaran dan syiar Islam akan merebak dan menjadi kuat, sedangkan umat Islam sendiri tidak mempunyai keberpihakan terhadap ajaran Islam secara kaffah (keseluruhan).

Untuk itu, harus ada semacam reformasi besar di kalangan para pemimpin Isram untuk melepaskan segala egonya dan membiarkan dirinya hanya dipandu oleh semangat Islam dalam sebuah gerak langkah yang indah, yaitu persatuan umat (ittihadul ummah).

Semua persoalan dan kehidupan umat dapat kita kembalikan kepada program (manhaj) yang sesuai dengan syariat-Nya, dikarenakan umat dapat dengan jelas dan mudah pula ke mana mereka harus "mengadukan" nasib dirinya. Peran lembaga-lembaga Islam yang ada saat ini seharusnya berada dalam satu payung para pemimpin ahli (ahlul hal walaqdi) yang berhimpun penuh integritas dan kredibilitas untuk menjadi pengawal umat.

Akan tetapi, rasa skeptis seakan menerpa diri kita. Mungkinkah kita mempunyai cukup keberanian untuk menyatakan diri berhimpun dalam satu "dewan imamah"? Duduk di dalam dewan tersebut para ulama, tokoh, dan cendekiawan yang 24 jam memikirkan nasib umat Islam?

Nurani berbisik dari lubuk hati, benarlah apa yang disabdakan Rasulullah saw. bahwa umat Islam yang banyak ini bagaikan semangkok makanan yang diperebutkan kaum Dajal yang kelaparan, karena umat dilanda penyakit wahan (terlalu cinta dengan dunia).

O. Persatuan Umat Beragama versus Ideologi Baru
Nabi Ibrahim a.s. sebagai "bapak tauhid" telah melahirkan tiga agama besar: Yahudi, Nasrani, dan Islam. Semua misinya adalah sama, yaitu mengangkat martabat, kesejahteraan, serta kebahagiaan manusia; mempunyai akar sejarah yang sama serta misi tauhid yang semula begitu indah dan murni. Di satu sisi, kita menyaksikan bahwa zionisme bukan lagi aspirasi dari agama Yahudi, melainkan sudah menjadi ideologi imperialistik, menjadi satu "paham atau ideologi baru", sehingga tidak harus menjadi Yahudi dahulu untuk menjadi seorang zionis.

Negara Cina yang penduduknya dua miliar serta kekuatannya, the overseas Chinese (Huaren), merupakan pula satu potensi, yang harus diwaspadai. Bila mereka bergerak dan dirasuki paham zionis, niscaya jaringan konspirasinya (Triad) akan sama bahayanya. Juga akan sama halnya dengan Jepang yang telah menggurita perekonomiannya, dan semakin berkecambah aliran-aliran mistik serta konspirasi rahasianya (Yakuza), akan menjadi ancaman pula di masa depan bagi para juru dakwah.

Kaum zionis akan menghantam seluruh agama samawi. Menyingkirkan logika iman yang dianggapnya sebagai tirani, racun, dan kebodohan untuk digantikan dengan liberalisme total serta sekuler matrialistik. Dengan demikian, dalam menghadapi kaum kafir zionis yang bercita-cita untuk menghapus agama (abollition of all religion) merupakan tugas para juru dakwah.

Sudah saatnya seluruh agama bersatu-padu menghadap ideologi mereka. Tidak ada alasan lagi untuk melakuan konflik dan silang sengketa yang melelahkan, saling berebut pengaruh dengan menghitung jumlah dan menghalalkan segala cara untuk memperbanyak jamaah. Konflik diantara umat beragama hanya membuat "tertawa dan terbahaknya" kaum zionis. Dan tentunya pula, hal itu melemahkan misi umat beragama itu sendiri.

Perpecahan dan konflik dalam dan antar-agama, hanyalah sebuah kegelapan yang panjang. Itu tidak memberikan dampak apa pun kecuali luka yang semakin menganga dan derita yang semakin membuat nelangsa.

Tantangan dan Jawaban

Tantangan Kaum Dajal:
Menghapuskan segala dogma agama yang dianggapnya sebagai tirani yang mengebiri kebebasan manusia. Agama tidak realistis, bertentangan dengan fitrah manusia yang realistis, dan empirik. Dalam sejarah manusia, ternyata agama merupakan sumber konflik.

Jawaban Umat Islam:
Gerakan reformasi (ishlah) dalam metode dan aplikasi dakwah secara total dan menyentuh kehidupan (total dakwah). Melalui pendekatan: pengetahuan kesejarahan, pendekatan rasional, dan penguasaan berbagai ideologi sebagai bahan perbandingan.

Tantangan Kaum Dajal:
Menguasai seluruh jaringan pranata kehidupan, terutama dominasi di bidang ekonomi dan moneter, ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai jembatan emas menuju cita-cita satu pemerintahan dunia (novus ordo seclorum).

Jawaban Umat Islam:
Pola pendidikan umat yang harus dikembangkan secara faktual. Di samping pendekatan ritual normatif, ditanamkan pula berbagai metode pendidikan yang bersifat aktual aplikatif serta metode belajar partisipatif.

Tantangan Kaum Dajal:
Untuk memecah keyakinan dogmatis, dirancang agama palsu (pseudo and quasi religion) dalam bentuk agama alternative, misalnya: jehovah, satanisme, okultisme, unitarian-universalist, dan sebagainya, dengan pendekatan rasional.

Jawaban Umat Islam:
Pola pendidikan tauhid, pemahaman budaya barat (westernologi) sudah harus dikuasai oleh para cendekiawan Islam, sehingga mampu mengkounter tendensi atau mewabahnya aliran mistik, pseudo tasawuf dan sebagainya.

Tantangan Kaum Dajal:
Untuk mewujudkan cita-cita Dajal menguasai dunia maka seluruh potensi konflik harus dimunculkan ke permukaan. Pertentangan antar-etnik, pertentangan rasial dan konflik agama harus dijadikan pemicu untuk kepentingan konspirasi Dajal. Kebanggaan nasionalisme; patriotisme merupakan penghalang bagi melajunya cita-cita kaum Dajal, sehingga sejak awal sudah harus direncanakan satu gerakan penghancuran nasionalisme melalui konflik SARA, agar dengan mudah Dajal memperbudak mereka dalam kandang kekuasaan dunia yang monolitik.

Jawaban Umat Islam:
Umat Islam hanya akan menang selama bersatu (ittihadul-ummah). Bila umat Islam pecah maka bersiaplah untuk kalah. Sudah merupakan aksioma Ilahiyah bahwa persatuan umat dan jamaah merupakan kunci untuk menjawab tantangan Dajal. Termasuk juga menggalang persaudaraan antar-agama, etnik, dan ras demi menghadapi gerakan kafirisasi yang akan memorak-porandakan persatuan dan kesatuan, dan menghapuskan semangat kebangsaan atau nasionalisme. Sudah saatnya umat beragama bersatu dalam tali cinta dan persudaraan karena kesejarahan kebangsaan yang pluralis-unitarian dan sebaliknya.

Tantangan Kaum Dajal:
Mengembangkan budaya natural-realistis yang bebas dari nuansa agama, sehingga mampu merasuki alam pikiran masyarakat.

Jawaban Umat Islam:
Melakukan kounter dengan memotivasi para budayawan Islam untuk lebih kreatif dan tetap populis, sehingga seni budaya mampu menjadi sarana dakwah yang mengglobal.

Tantangan Kaum Dajal:
Meningkatkan peredaran obat-obatan setan, alkohol, serta berbagai bentuk hiburan modern, misal kafe, klub malam, dan bentuk hiburan lainnya sebagai tempat peredaran obat.

Jawaban Umat Islam:
Menanamkan fanatisme bahwa memasuki kafe, klub malam, serta tempat hiburan malam bernuansa sekuler adalah sama nista dengan mendekati zinah. Dan pada saat yang sama menghidupkan kembali rumah tangga Islami (usrah-Islamiyah).

Tantangan Kaum Dajal:
Membius anak-anak muda dengan berbagai jerat yang sangat profesional, mulai dari budaya seni, artis, selebritis, obat, dan penghancuran mentalitas.

Jawaban Umat Islam:
Menggiatkan minat anak-anak remaja terhadap olahraga, seni budaya, dan seluruh pranata sosial dengan cara saling menunjang satu dengan lainnya.

Tantangan Kaum Dajal:
Menyebarkan fitnah dan mengadu-domba (friksi) di kalangan tokoh- tokoh agama atau para mujahid Islam yang cerdas dan potensial, sehingga mereka mati sebelum berkembang. Fitnah merupakan senjata kaum Dajal yang ampuh dan membunuh tanpa harus mati.

Jawaban Umat Islam:
Menanamkan fanatisme tentang pentingnya jamaah, ukhuwah dalam bentuk yang nyata. Memberikan bekas yang mendalam bahwa fitnah adalah api menyala dari nafsu Dajal. Dan mereka yang memfitnah, betapapun mengatas-namakan agama, tidak lain adalah pengikut Dajal.

Tantangan Kaum Dajal:
Memanfaatkan media massa sebagai "juru bicara ideologi" dan memojokkan atau tidak memberi kesempatan kepada para tokoh potensial untuk berdakwah (menulis) di media massa yang ada, sehingga hubungan emosional para tokoh tersebut tertutup dengan umatnya. Sebarkan fitnah kepada para pemimpin redaksi terhadap tokoh tertentu agar mereka punya alasan untuk mem-black out.

Jawaban Umat Islam:
Melakukan satu rekrutmen organisasi jurnalis Islami, sehingga mereka senantiasa mampu berpihak pada agamanya dari bersifat objektif. Para pemangku lembaga media massa harus mempunyai gairah Islamiyah yang nyata dan transparan. Memberikan kesempatan yang luas kepada tokoh agama untuk memberikan pemikirannya melalui media massa di mana mereka mempunyai akses dan otoritas.

Tantangan Kaum Dajal:
Agama merupakan dogma yang menyalahi kebebasan berpikir, tidak sesuai dengan jalan pikiran logis, dan tidak bisa dibuktikan dengan hukum, sebagaimana diyakini oleh kaum pemikir.

Jawaban Umat Islam:
Melakukan gerakan pembaruan dalam materi dan metode dakwah dengan melalui pendekatan argumentatif, mempelajari hukum logika dan mengikuti perkembangan pemikiran zaman, di mana banyak tantangan ideologi baru yang pada hakikatnya cenderung untuk bersifat matrialistik absolut dengan mengandalkan ilmu logika.

Tantangan Kaum Dajal:
Mempersiapkan kader-kader muda pendukung ideologi masyarakat Dajal yang berpikir bebas nilai tanpa ikatan dogma agama.

Jawaban Umat Islam:
Menggerakkan seluruh pranata dakwah dan menjadikan masjid sebagai pusat pengkaderan.

Tantangan Kaum Dajal:
Mencuci otak anak-anak kecil dengan fantasi dan buku-buku sekuler, sehingga jiwanya dikuasai oleh ideologi Dajal.

Jawaban Umat Islam:
Melakukan kounter dengan cara menerbitkan buku-buku Islami yang bersifat kontemporer dan aktual sehingga diminati anak-anak kecil.

Tabel di atas terlihat simplistis, padahal kenyataannya jauh lebih kompleks dari apa yang telah kita urut dalam tabel tersebut Hal ini baru tahap awal analisis penulis.




Bab IV : Jamaah dan Essensi Persatuan Umat (1)
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercera-berai…" (Ali Imran:103).

Menghadapi tantangan zaman yang semakin mengglobal serta jaringan Dajal yang telah merasuki seluruh denyut kehidupan manusia, seharusnya ada semacam tekad yang sungguh-sungguh diantara kita. Yaitu, tekad bahwa gerakan kaum kafir tidak mungkin dihadapi secara individu, kecuali dalam satu tatanan persatuan umat (ittihadul-ummah) yang hanya berpihak kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kekuatan, kekompakan, kecerdasan, serta ambisi kaum Dajal matrialistis tersebut bukan sebuah ilusi, tetapi benar-benar nyata. Bukan hanya dapat dibuktikan secara faktual, tetapi diperingatkan dalam Al-Qur'an dan hadits. Sehingga, tidak ada satu cara pun untuk menghadapi mereka kecuali membangun akidah dan pemahaman agama secara komprehensif bagi generasi muda agar mereka mampu menghadapi tantangan global dan memenangkannya, sebagaimana termaktub dalam surat at-Taubah:33, al-Fath:28, dan ash-Shaff:9.

Sebagaimana diketahui, agama-agama formal di dunia Barat telah kehilangan nilainya sebagai pegangan hidup. Hal ini dimanfaatkan olehnya dengan membuat agama-agama palsu dengan memperkenalkan berbagai aliran-aliran okultisme mistik yang direkayasa dan dipromosikan melalui berbagai media sebagai agama baru yang bersifat menipu dan hanyalah sebuah angan-angan belaka (deceptive).

Pengaruh aliran filsafat neo-Platonisme (paham Plato, ed.) yang banyak mempengaruhi agama Kristen telah memperkuat kecenderungan dunia Barat untuk melahirkan berbagai aliran mistik okultis yang dikemas dan dipropagandakan dengan bahasa rasional dan penuh dengan janji-janji. Sehingga, kemudian orang-orang yang dalam keadaan depresi sangat mudah terpengaruh untuk menerimanya. Di satu pihak, falsafah aliran Aristoteles yang banyak mempengaruhi agama Yahudi lebih menekankan pada pendekatan yang menonjolkan rasio telah menafsirkan berbagai ayat Bibel (Alkitab) dengan semangat Judaisme zionistik, di mana ada semacam misi imperialistik untuk menguasai dunia dalam bentuk yang lebih rasional. Sebagaimana diketahui, agama Yahudi bukanlah agama misionaris sehingga semangat ekspansi zionisnya bukan atas dasar berapa banyak orang harus beragama Yahudi, tetapi berapa banyak orang dikuasai oleh paham-paham rasionalitasnya, sebagaimana telah dibahas sebelumnya, yaitu melalui penguasaan teknologi, moneter, dan konspirasi global. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan daabatam minal ardhi (binatang melata dari dalam bumi), yaitu sosok bangsa yang selama ini berada di bawah tanah, yang melakukan gerakan rahasia. Dan pada milenium ketiga ini, sosok tersebut akan menampakkan wujudnya secara terang-terangan untuk menguasai dunia serta menyingkirkan umat beragama, terutarna umat Islam.

Kunci untuk membendungnya tidak lain adalah memperkokoh seluruh tatanan sistem dan derap kehidupan, sesuai dengan Sunnah Rasul, sebagaimana firman-Nya:

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung." (al-Anfal: 45).

Oleh sebab itu, kalau memang iman sudah bersemayam di dalam hati dan penuh dengan kerinduan akan persatuan dan kekuatan umat, kiranya ada baiknya kita mentafakuri makna dari shalat berjamaah, yaitu shalat wajib yang dilaksanakan lebih dari satu orang, yang nilai pahalanya lebih dibandingkan dengan shalat sendirian atau munfarid. Beberapa isi kandungan etika yang dikaitkan dengan nilai dan prinsip shalat berjamaah, diantaranya sebagai berikut:

1. Apabila iqamat sudah dilaksanakan maka diwajibkan untuk segera menetapkan, menunjuk, dan memilih siapa yang akan menjadi imam dalam shalat berjamaah, juga kewajiban untuk meluruskan shaf (baris).

2. Dilarang untuk mendahului imam, baik dalam gerakan maupun bacaan.

3. Dilarang mengeraskan suara bacaan melebihi ucapan atau suara imam.

4. Kewajiban untuk melakukan gerakan yang kompak diantara sesama makmum, setelah terlebih dahulu mendapatkan isyarat sempurna dari imam.

5. Dilarang membuat jamaah baru, apabila jamaah yang awal belum selesai (menutup salam), bahkan kepada makmum yang tertinggal (masbuk) diharuskan untuk segera bergabung dengan jamaah.

6. Diwajibkan mengikuti seluruh gerakan imam tanpa "mencadangi-nya", kecuali apabila imam berbuat salah baik dalam ucapan maupun gerakannya, maka kewajiban makmum untuk menegurnya dengan mengucapkan, "Subhanallah."

Alangkah indahnya tujuh prinsip yang terkandung dalam tatanan shalat berjamaah. Di dalamnya tersirat suatu pesan yang teramat dalam untuk dijadikan bahan renungan bagi setiap pribadi muslim yang sedang berjuang untuk meraih keindahan dan kelezatan iman. Sehingga pantaslah ia untuk disebut sebagai seorang mukmin. Prinsip iqamat menunjukkan suatu simbolisasi bahwa mereka yang telah berkumpul untuk niat (shalat berjamaah) yang sama, harus segera mengumandangkan iqamat. Dengan panggilan iqamat tersebut, terputuslah segala urusan dengan dunia luar, tidak ada lagi yang melakukan pekerjaan lain, kecuali dengan penuh tanggung jawab memenuhi seruan iqamat untuk segera melaksanakan shalat berjamaah.

Iqamat adalah lambang yang menyerukan persiapan untuk menuju pada satu arah kiblat yang sama, yaitu Ka'bah Baitullah. Ruku yang sama, iktidal yang sama, bahkan ucapan serta niat yang sama. Dengan niat yang sama ini, mereka segera menunjuk imam shalat. Seakan-akan, hal itu merupakan suatu simbol agar kaum mukmin segera menunjuk siapa pemimpinnya, yang secara akrab, transparan dapat menuntun hidup dan kehidupannya yang maslahat dalam tatanan suara takbir yang indah. Di
dalam hubungan makmum dan imam ini, terlihat pula "prinsip demokrasi" yang dilambangkan melalui suatu norma bahwa apabila imam berbuat salah, baik dalam ruku maupun bacaannya, maka makmum dapat mengoreksinya dengan mengucapkan subhanallah atau meluruskan bacaannya yang benar. Demikian pula, apabila secara nyata imam telah batal maka irnam tersebut harus secara konsekuen segera mundur (untuk memperbaiki wudhunya) dan segera diganti oleh makmum di belakangnya untuk meneruskan shalat berjamaah.

Kewajiban untuk meluruskan shaf adalah suatu prinsip yang menunjukkan satu simbol manajemen serta pengelolaan jamaah yang berpadu dan bagaikan benteng yang kokoh-seperti yang disebutkan dalam surat ash-Shaff: 4 --bahu bersentuhan dengan bahu yang lain, barisannya lurus, sehingga tidak satu pun ada ruang yang kosong yang memberi peluang kepada setan untuk merusak dan menggoda kekhusyu'an shalat berjamaah.

Rasulullah saw bersabda, "Imam itu untuk diikuti", sehingga kita pun mahfum bahwa yang dimaksudkan dengan "diikuti", tentunya berada di belakang, dan bergerak sesuai dengan komando sang imam. Kepatuhan inilah yang menyebabkan sempurnanya jamaah. Dilarangnya makmum mengeraskan suara melebihi imam, adalah suatu perlambang bahwa para makmum tidak diperkenankan untuk mengambil tindakan atau menyempal di luar apa yang ditetapkan oleh pemimpinnya. Karena dalam prinsip berjamaah ini, seluruh tatanan gerak harus di bawah satu kepemimpinan. Penyempalan atau tindakan lain hanya akan membatalkan makna dan kesempurnaan shalat itu sendiri.

Selama gerakan shalat berjamaah belum selesai, dan ada orang yang tertinggal atau baru memasuki ruang masjid, maka orang yang baru datang tersebut (makmum masbuk), wajib bergabung dan masuk diantara shaf yang ada, kemudian dengan khusyu' mengikuti seluruh gerakan imamnya. Prinsip ini seakan memberikan suatu simbolisasi bahwa seorang muslim tidak diperbolehkan untuk menyempal, membuat gerakan sendiri, padahal sudah ada shaf yang bergerak terlebih dahulu.

Inilah tatanan dalam shalat berjamaah yang ternyata mengandung nilai-nilai serta prinsip yang menunjukkan suatu perlambang agar umat Islam wajib berjamaah, apabila sudah berada dalam satu tempat, waktu shalat, dan telah mengumandangkan iqamat. Di dalam Al-Qur'an pun banyak disebutkan tentang wajibnya kita hidup berjamaah. Bahkan, pertolongan Allah hanya diberikan kepada setiap mukmin yang hidup berjamaah (yadullah fauqal jamaah), penuh persaudaraan, tidak pernah berbantah bantahan, saling mengasihi dalam suka dan duka yang dibalut oleh cahaya ukhuwah semata.

Sangat jelas, Allah memerintahkan agar kita hanya mengambil jalur petunjuk serta ikatan batin yang hanya didasarkan pada tali Allah, dan menghindarkan perpecahan (tafaruk), sebagaimana termaktub pada surat Ali Imran:103 dan ar-Rum: 32. Di mana pun seorang muslim berada, dia akan terus meningkatkan kualitas dirinya untuk menjadi bagian dari kelompok kaum mukminin, karena hanya dengan menjadi seorang mukminin, maka Allah akan memberikan pertolongan kepada dirinya. Seruan Allah di dalam Al-Qur'an yang merupakan petunjuk yang utama dan pertama bagi mereka yang telah berikrar syahadat, ditujukan hanya kepada mereka yang telah beriman (yaa ayuhaladzina amanuu).

Dengan demikian, yang dimaksud dengan jamaah, bukanlah hanya sekadar sekelompok orang, tetapi di dalamnya terikat satu "semen perekat" yang sangat kental, yaitu cita dan rasa, visi dan tindakan yang seragam, serta menyatu dalam kerinduan untuk meraih cinta dan ridha Allah (mahab'bah lillah) semata-mata. Oleh karena setiap anggota jamaah sangat sadar bahwasanya hanya orang-orang yang istiqamah, serta memiliki jiwa yang tenang sajalah yang akan mendapatkan kemuliaan di hari akhir kelak. Bagi setiap muslim yang mukmin, kehadiran jamaah merupakan pelabuhan hati, sekaligus sebagai terminal perjuangan hidupnya. Di dalam jamaah itulah, dia menimba butit-butir kebijakan hidup. Di dalam jamaah itu pulalah, ia mengasuh keimanannya sehingga setiap kali menambatkan hatinya, dia pun merasakan kedamaian Qur'ani.

Akan tetapi, tidak mungkinlah dia tenggelam atau terlalu asyik untuk menambatkan dirinya di pelabuhan ini. Sebab, selanjutnya dia harus segera berangkat mengayuh biduknya menerjang ombak samudra kehidupan yang penuh dengan liku-liku tantangan. Lalu dia menjelajahi samudra tersebut untuk mencari fadilah dan menaburkan jejak-jejak prestasi Qur'ani di se panjang perjalanannya, berdakwah, dan beruswah menyeru dan menjadikan dirinya sebagai manusia yang paling pantas menjadi teladan.

Tengoklah perilaku kita ketika mengikuti shalat Jumat, tidak ada khotbah dan shalat berjamaah yang terus berlangsung seharian, kecuali ditutup dengan salam. Kemudian setiap pribadi kembali ke tempatnya masing-masing untuk menyebar di muka bumi (f'antasiruu fil ardhi), lalu mempraktekkan apa yang telah diingatkan khotib, sebagimana disebutkan dalam surat al-Jumu'ah:10 dan al-Mulk:15. Maka jelas sudah bahwa jamaah bukan sekedar kumpulan manusia (as a crowd). Oleh karena di dalarn jamaah, ada satu prinsip yang mutlak harus dijadikan landasan pokoknya, ialah berpautnya cinta.

Dengan cinta sebagai dasar persaudaraan dan kegiatannya, maka hati setiap anggota akan terlihat transparan (tembus pandang). Tidak ada yang satu mencoba menyembunyikan cita rasanya kepada anggotanya yang lain. Karena hal ini jelas bertentangan dengan prinsip persaudaraan muslim, sebagaimana Nabi bersabda bahwa setiap muslim dengan muslim lainnya bagaikan satu bangunan tubuh, yang satu mengokohkan yang lainnya. Ke dalam pun saling mengoreksi atau menasihati dan ke luar dia saling mengokohkan dan membelanya dari jebakan kekafiran maupun bujukan kekufuran.

Hal ini berarti bahwa esensi jamaah bukanlah terletak pada wujud, tetapi lebih penting lagi adalah ikatan emosional dan keterikatan jiwa. Sebab, Al-Qur'an menegaskan bahwa tipikal jamaah bukanlah sekelompok manusia yang sekadar berjumpanya sejumlah manusia, sedangkan hatinya berpecah, itikad anggotanya berbeda satu dengan lainnya. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT, "...Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah-belah...." (al-Hasyr: 14).

Hati yang dimaksudkan adalah aspirasi, ide, serta kerangka acuan dan tujuan dari para anggota jamaah yang sifatnya harus sama dan sebangun; yaitu hidup dalam jalan dan pengawasan Al-Qur'an serta Sunnah. Bagi kita yang telah mengaku diri sebagai seorang muslim, tentunya seluruh sikap hidup kita hanya didasarkan pada Al-Qur'an dan Sunnah, sebab apabila dia mengambil ajaran atau panduan hidup yang lain, maka gugurlah nilai dan kualitas dirinya sebagai seorang muslim.

Adapun sikap dirinya hanyalah berserah diri atau taslim, seraya berkata, "kami dengar dan aku taat" (sami'na wa atha'na) tanpa dislogani kecuali mengharapkan ridha Allah semata-mata. Apabila Al-Qur'an dan Sunnah sudah disepakati sebagai satu-satunya petunjuk utama dan pertama serta dijadikan sebagai dasar aspirasi dan tindakan kita, maka bolehlah kita bersiap diri untuk menuju pada tingkat yang berikutnya, yaitu meraih gelar sebagai seorang pribadi mukmin, sebagaimana disebutkan pada surat at-Taubah:111-112.

Mengingat konsep jamaah adalah prinsip yang disyariatkan, maka siapa pun yang mencoba untuk menutup mata, bahkan tidak mau peduli dengan prinsip ini, maka terjebaklah dirinya ke dalam tatanan yang disadari maupun tidak. Dia telah mencabik ajarannya sendiri. Logikanya sangat sederhana, apabila sahnya seorang muslim karena syahadat, maka konsekuensi syahadat adalah bersikap hidup konsekuen dan denyutan jantungnya selalu merujuk kepada Al-Qur'an dan Sunnah.

Prinsip berjamaah adalah mutlak ajaran Al-Qur'an. Kemudian dicontohkan dengan sangat indah oleh Rasulullah saw . Maka kesimpulannya, siapa pun yang tidak mau peduli dengan prinsip jamaah adalah membohongi dirinya sendiri. Apabila penolakan atas prinsip jamaah sudah mengakar sebagai suatu egoisme dan kecenderungan untuk mengisolasi diri dari pergaulan tatanan jamaah, maka jatuhlah dia ke dalam kelompok sempalan (mufariqun). Haru birunya umat Islam dikarenakan dia telah mencampakkan prinsip berjamaah. Bagaikan benda asing, umat Islam merasa alergi setiap mendengarkan kata kata tentang jamaah, bahkan bagaikan penyakit yang bisa menular Upaya dan kesadaran apa pun tentang arti jamaah ini, pastilah dianggap aneh, justru oleh orang Islam sendiri, sungguh ironis.

Apabila umat Islam sudah merasa aneh dengan ajarannya sendiri, sungguh apakah Allah tidak berkenan menganugerahkan karunia-Nya? Kehancuran umat Islam, bukan karena jumlahnya yang banyak, tetapi justru karena mereka sudah merasa asing dengan esensi agamanya sendiri. Kejayaan Islam pada kurun waktu paling awal, dimulai dari prinsip jamaah ini. Ikatan persaudaraan yang kental, perasaan yang sama di dalam menghadapi segala tantangan kehidupan, dan merasa memiliki kebenaran Islam adalah kondisi dari sesuatu yang mutlak. Mereka tidak pernah berniat atau melanggarnya sedikit pun, karena bagi mereka menjadi seorang muslim konsekuen adalah suatu aksioma Ilahiah yang tidak bisa ditawar-tawar lagi keabsahannya.

Persatuan muslim bukanlah dikarenakan ikatan bangsa, primordial, kesukuan, ras, atau kelompok profesi, tetapi persatuan itu didasarkan atas iman semata-mata yang ditampung dalam semangat persaudaraan jamaah. Sejarah tentang kejayaan dan kemuliaan umat Islam di masa lalu tidak bisa dipungkiri eksistensinya tanpa kehadiran semangat jamaah. Pada periode awal, sejak di Darul Arqam, para sahabat yang mendarah-dagingi jamaah dengan mewarnai dunia dengan tauhid, telah melahirkan satu generasi yang sangat unik dan sangat disegani. Itu semua karena mereka menjadikan jamaah sebagai pelabuhan hati mereka untuk menimba, mengkaji, dan mempraktekkan semangat Qur'ani yang diilhami oleh tali persaudaraan yang teramat kuat

Tetapi tengoklah sekarang ini umat Islam terpelanting dalam kolam-kolam kecil, kebanggaan turunan, kelompok profesi, dan kepentingan, terperangkap dalam semangat primordial yang sempit. Kalaupun mereka mengaku sesama muslim, tetapi kepentingan golongan, suku, dan bangsa justru menjadikan penyekat yang paling utama. Kebanggaan kelompok ternyata nilainya telah melebihi semangat agamanya sendiri, bahkan melebihi semangat kemerdekaan dirinya sendiri yang setiap lima kali sehari diikrarkan sebuah pengakuan tauhid dalam melasanakan shalat, innaa shalati wa nusuki wa mahyaya wamamati lillahirabil alamiin. Sayang, banyak umat Islam tidak memahami dan tidak mau konsekuen mempraktekkan ucapannya sendiri.

Doa Iftitah tersebut kini hanya tinggal penghias bibir, sekadar formalitas, bahkan mungkin saja tanpa disadarinya apa yang diucapkan dalam doanya itu hanyalah sekadar pelengkap shalat, tidak ada bekasnya, dan tidak ada getaran kalbu. Tapi kita pun mahfum bagaimana bisa menghayati isi doa tersebut, karena kita pun tidak mengerti, bahkan membacanya pun kadang-kadang sangat terburu-buru, tanpa kehadiran jiwa, serta tanpa emosi sama sekali.

Padahal, kalau saja setiap pribadi muslim menyadari betapa dalamnya ikrar yang dia ucapkan ketika membaca doa iftitah tersebut, niscaya akan bergetar jiwanya, dan tersungkur dengan penuh kesahduan di hadapan Ilahi Rabbi. Oleh karena ikrar itu adalah lambang "kebebasan bertanggung jawab" manusia sebagai wakil Allah di muka bumi (khalifah fil-ardhi). Kemerdekaan jiwa inilah yang dimiliki oleh kelompok para pengikut Rasul pada kurun pertama kejayaan Islam. Mereka bergabung dalam jamaah yang secara kuantitatif adalah minoritas, tetapi tampil sebagai kelompok yang bernilai, dikarenakan memiliki harga diri dan kemuliaan sebagai manusia merdeka.

Rasio yang dibimbing oleh hawa nafsu, tentunya tidak pernah akan memahami untuk dapat mengalahkan kemenangan umat Islam di dalam Perang Badar untuk melawan musuh-musuh jahiliah yang berlipat ganda, persenjataan yang konvensional, dan terbatas? Akan tetapi, rasio yang dibimbing cahaya Ilahi, lentera iman, dan semangat tauhid, pastilah dengan sangat tangkas akan segera memperoleh jawabannya, "Insya Allah, kita pasti menang karena Allah beserta kita."

Sesekali kita pun boleh bertanya, semangat apakah gerangan yang mengilhami para "penyiar" Islam sehingga dalam kurun waktu yang sangat singkat, cahaya kebenaran telah memeluk separo dari belahan bumi. Padahal mereka tidak dibayar, tidak mendapatkan pakaian yang cukup, bahkan harus menghadapi berbagai suku bangsa yang asing, daerah yang sulit, dan berbagai budaya yang sudah mengakar di kalangan penduduk. Akan tetapi, para mujahid dakwah mampu menyebarkan Islam dalam tempo yang sangat menakjubkan.

Sir Thomas Arnold yang menulis sebuah buku berjudul, The Preaching of Islam terkagum-kagum melihat prestasi ini, sehingga walaupun agak sarkastis dia melukiskan kejayaan sinar dakwah itu sebagai "suatu kekuatan dakwah yang luar biasa daripada Roma". Prestasi ini semua dikarenakan di dalam dada para pelopor pertama (assabiquunal awwalun) memiliki kepribadian yang sangat khas, yaitu hanya berpandukan pada Al-Qur'an. Mereka tidak pernah mempunyai sedikit pun keraguan terhadap isi kandungan Al-Qur'an sebagai panduan hidup yang akan memberikan kekuatan yang maha dahsyat apabila mau melaksanakannya dengan konsekuen.

Mereka adalah tipikal manusia yang berorientasi pada prestasi amaliah. Sehingga cara berpikir para jamaah ini, hanya semata-mata ingin dan sangatlah rindu untuk segera mengamalkan Al-Qur'an, walaupun hanya satu ayat. Betapa bersungguh-sungguhnya mereka, sehingga dalam sebuah hadits yang sahih, Rasulullah menyuruh Abdullah bin Umar, supaya mengkhatamkan Al-Qur'an sekali dalam seminggu. Begitulah juga para sahabat seperti Utsman, Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas'ud, dan Ubai bin Ka'ab telah menjadi bagian dari wiridnya untuk mengkhatamkan Al-Qur'an pada setiap hari Jumat.

Merupakan kebiasaan bagi para sahabat. Mereka secara bergotong-royong membaca Al-Qur'an, dengan cara membagi-baginya berdasarkan surat-surat tertentu secara berurutan dari mulai surat al-Baqarah sampai an-Nas, sehingga dalam tempo yang sangat singkat mereka mampu mengkhatamkannya. Inilah salah satu ciri khas dari pribadi anggota
jamaah, di mana Al-Qur'an dijadikannya "ramuan batin" dan bagian tidak terpisahkan dari hidupnya. Mereka merasa tidak bernilai apabila ada satu hari tanpa membaca Al-Qur'an.

Semangatnya untuk membaca dan mengkhatamkan Al-Qur'an, yang didorong oleh keikhlasan yang murni, bukanlah sekadar untuk menjadikan Al-Qur'an sebagai bahan ilmu pengetahuan, tetapi sebagai salah satu panggilan jiwa, perasaan akrab dengan Ilahi. Kemudian, muncul dorongan untuk segera lari dan ke luar dari kemah-kemah mereka, mengembara ke setiap pelosok bumi, untuk mengamalkan dan mendakwahkannya. Mereka sadar bahwa hanya dengan menghampiri, menghayati, dan mengamalkan Al-Qur'an sajalah, mereka akan memperoleh petunjuk. Apalagi mereka pun sadar bahwa apabila mereka mengambil jalan lain atau referensi lain selain Al-Qur'an, maka hanya perpecahan dan kesesatanlah yang akan menimpa jamaah dan persatuan akidah mereka.

Allah SWT berfirman, "Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan (yang lain) karena jalan- jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa." (al-An'am: 153).

Para sahabat yang berkumpul dalam jamaah adalah manusia Qur'ani, bahkan kehidupannya semata-mata hanyalah refleksi dari keinginan Al-Qur'an belaka. Pantaslah apabila kepada mereka digelari sebagai "Al-Qur'an berjalan" (the walking Qur'an). Menurut standar atau tolak ukur budaya jahiliah, tentu saja sikap hidup Qur'ani, seperti yang ditunjukkan jamaah para sahabat Rasul itu, dianggap sebagai suatu kehidupan yang eksklusif. Dan, tidak aneh pula apabila tuduhan palsu yang diarahkan kepada para sahabat --pada zaman jahiliah-- sebagai manusia yang membawa agama baru, yang akan merusak tatanan budaya, dan kepercayaan yang telah turun-temurun dipraktekkan oleh ajaran nenek moyangnya melalui sesembahan kaum jahiliah: Latta, Mana, dan Uzza.

Padahal, apa yang dilakukan oleh para jamaah itu bukanlah karena kebencian, tetapi karena hanya ingin meluruskan kembali, fitrah manusia untuk bersatu dalam satu ikatan tauhid, yaitu hanya bertuhankan Allah semata, sebagaimana firman-Nya, "Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. " (al-Anbiya':92).

Hanya karena perasaan penuh kasih, maka para sahabat tersebut ingin mengajak umat manusia untuk meluruskan keyakinannya; dan menjauhi kesesatan yang disebabkan oleh hawa nafsu (vested interest) kaum jahiliah. Memahami arti dan esensi jamaah, berarti setiap pribadi muslim terpanggil untuk selalu mendahulukan nilai persamaan, persaudaraan, dan kekompakan. Tentu saja bahwa aspirasi seperti ini, seharusnya menjadi ciri dan cara hidup setiap pribadi muslim, yang tergabung dalam jamaah mana pun.

Di samping itu, berjamaah janganlah ditafsirkan sebagai suatu penyempalan dari tatanan harakah dakwah, karena bisa jadi yang dimaksudkan dengan jamaah itu adalah suatu bentuk gerakan yang terorganisasi untuk melangsungkan dan memberikan kontribusi amar ma'ruf nahi munkar di dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteksnya yang lain, pemahaman terhadap esensi jamaah mendorong setiap pribadi muslim untuk ikut terjun secara berkelompok ke dalam suatu gerakan yang mempunyai aspirasi serta tujuan yang jelas.

Kita dilarang untuk hidup secara egois (ananiyah) dan membutakan diri dari berbagai aspek problematika umat. Dan, cara untuk masuk dalam kehidupan nyata itu adalah seruan Islam yang mengajak setiap individu untuk berjalan secara bergandengan tangan, bersaf-saf yang rapi bagaikan suatu benteng yang kokoh untuk membendung, bahkan melawan segala paham jahiliah. Hal ini sebagaimana ucapan Umar bin Khaththab:

"Bahwa kebenaran tanpa organisasi yang rapi akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi."

Memang benar bahwa kebenaran itu akhirnya pasti menang, karena pertolongan Allah, tetapi harap diingat pula bahwa apa yang dikatakan Umar r a. adalah suatu peringatan. Sesungguhnya, pertolongan Allah hanyalah diberikan kepada mereka yang memenuhi kriteria kekuatan saf atau barisan yang rapi.

Dengan kokohnya persatuan umat serta adanya kepemimpinan yang tangguh; niscaya gerakan Dajal zionistik dapat kita hadapi secara kompak. Sebaliknya, bila kita berpecah-belah maka hanya kenelangsaan yang akan ditanggung generasi demi generasi umat Islam yang telah terpuruk dalam kelompok-kelompok dan budak nafsu kaum Dajal tersebut




Bab IV : Jamaah dan Essensi Persatuan Umat (2)
A. Identitas Anggota Jamaah

Ibarat pohon yang akarnya menghunjam kuat dan daunnya rimbun mencakar langit. Demikian pula dengan jamaah, akarnya adalah tauhid, batangnya adalah persaudaraan, daunnya adalah zikir, dakwah adalah bunganya yang semerbak penuh kasih, dan akhirnya bersiaplah memetik amal prestatif yang akan memberikan rahmat bagi alam sekitarnya (rahmatan lil 'alaamin).

Ciri atau karakter orang mukmin yang berhimpun dalam jamaah tersimpulkan dalam sepuluh mutiara akhlak orang beriman yang akan diuraikan berikut sebagai bahan renungan bagi yang ingin mengembangkan kehidupan rohaninya dari seorang muslim menjadi mukmin. Sepuluh mutiara akhlak mukmin itu di antaranya sebagai berikut:
1. Berpikir dan bertindak sesuai dengan petunjuk dan wawasan Al-Qur'an (Quranic Oriented).

2. Melaksanakan hijrah dan jihad dengan penuh rasa tanggung jawab dan keikhlasan.

3. Tampak semangat persaudaraannya diantara sesama mukmin yang sangat kental dan penuh kasih.

4. Sangat menghargai keputusan musyawarah, selalu bertindak amanah menjaga keluhuran budi, indah akhlaknya, dan selalu ingin memberikan uswah atau keteladanan yang Qur'ani.

5. Sangat tabah (istiqamah) dalam menghadapi setiap cobaan dan rintangan.
6. Tawadhu dan rendah hati. Menjauhi sikap sombong, ta'asub (membanggakan diri).

7. Selalu dilanda obsesi untuk menjadikan hidupnya penuh arti dan bermanfaat bagi lingkungannya.

8. Isi dakwah dijadikannya sebagai salah satu panggilan jiwa, yang menunjukkan rasa tanggung-jawabnya yang besar akan kasih-sayangnya kepada sesama manusia dan sekaligus sebagai rasa cintanya kepada Risalatul Kurb.

9. Selalu ingin meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya.

10. Rindu untuk menjadikan dirinya sebagai jembatan penyambung tali ukhuwah diantara sesama saudara seiman dan selalu ingin akrab dengan kaum dhu'afa.

Sepuluh mutiara kaum mukminin ini terangkum dengan sangat indah dan sempurna dalam Al-Qur'an, sehingga sangat dianjurkan selalu membaca, menghayati, dan mentafakuri makna ayat demi ayat yang terkandung di dalamnya, agar kita memperoleh nyata, pergaulan dunia dengan segala tantangannya.

B. Berwawasan Al-Qur'an (Quranic Oriented)
Anggota jamaah Rasulullah saw. bukan sekadar sekelompok manusia yang mengaku diri sebagai muslim, tetapi lebih jauh dari itu. Mereka adalah para mukminin, yaitu tipe manusia yang selalu merindukan agar sikap hidupnya, tarikan nafas, dan prestasi dunianya selalu sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah.

Mereka membaca dan menerima A1-Qur'an bukan untuk penghias bahan retorika atau sekadar referensi pengetahuan dirinya, tetapi bagi para anggota jami'atul mukminin ini, Al-Qur'an dijadikannya sebagai sumber aspirasi untuk beramal secara konkret. Mereka menjadikan Al-Qur'an sebagai benih yang memberikan energi baru yang sangat kuat, kemudian menabur bunga dakwah, lalu memetik buah prestasi yang menjadi keteladanan bagi siapa pun yang menyaksikan jamaahnya.

Mereka bukan tidak percaya dengan kekuatan kata-kata, atau mengabaikan teori. Akan tetapi, bagi kelompok jamaah ini, kata-kata dan teori tidaklah cukup, karena puncak dari misi pengabdian seorang mukmin adalah mengajak manusia pada kalimat yang sama, yaitu menjadikan tauhid sebagai pangkal kehidupan manusia di mana pun mereka berada. Kata-kata dan teori hanyalah jembatan atau alat untuk mengantarkan ke puncak dakwah, yaitu sikap hidup atau tindakan yang dimanifestasikan dalam bentuk tindakan yang mempunyai ciri sebagai uswatun hasanah (keteladanan). Bagi mereka: "tindakan dan perbuatan itu lebih membekas ketimbang hanya kata-kata (action speak louder than words; lisaanul-haali afsahu min lisaanul maqaali)."

Bertebaran ayat-ayat Al-Qur'an tentang ciri dari orang mukmin, yaitu mereka yang telah menjadikan cangkir kalbunya penuh terisi oleh kesejukkan citra Qur'ani dan rasa cinta yang mendalam terhadap Rasulullah saw. Pokoknya, Al-Qur'an merupakan sumber aspirasi dan dasar pijakan mereka untuk berpikir dan bertindak. Sehingga pantaslah kepada mereka diberikan judul Qur'anic Thinker (berpikir berdasarkan Al-Qur'an).

Seorang sahabat bertanya kepada Siti Aisyah r a., "Apakah akhlak Rasulullah itu." Siti Aisyah menjawab, "Akhlak beliau adalah Al-Qur'an (khuluquhul Qur'an)." Maka ciri atau karakter yang paling dominan dari para pengikut Rasul tidak lain hanyalah meneladani Al-Qur'an. Sehingga, kalau saja ditanyakan kepada mereka, apakah yang menjadi sumber hukum dan petunjuk hidup, dengan tangkas dan antusias, mereka akan menjawab: pertama Al-Qur'an, kedua Al-Qur'an, ketiga Al-Qur'an, dan seterusnya. Sehingga, mereka ini tipikal manusia yang berpikir berdasarkan Al-Qur'an dan bersikap dengan Sunnah Rasulullah saw. Dirinya terasa tidak berarti apabila ada satu hari luput dari "sorotan kamera" Al Qur'an. Rasanya tidak berharga apabila perbuatannya tidak mencerminkan tindakan yang Qur'ani.

Seruan berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat), tidaklah melulu hanya mendendangkan atau memperlombakan bacaan Al-Qur'an dan kemudian selesai. Bagi mereka memperlombakan esensi Al-Qur'an dalam akhlak dan prestasi amaliah yang nyata, justru merupakan aplikasi dari seruan fastabiqul-khairat tersebut. Mereka tidak pernah mempunyai motivasi untuk mendapatkan piala atau pujian manusia hanya karena membaca Al-Qur'an, tetapi dorongan yang paling menggebu di hati para anggota jamaah Rasul ini adalah kerinduannya untuk menyiarkan dan mengamalkan Al-Qur'an dalam bentuk yang membumi, nyata, dan ternikmati oleh manusia. Kalupun dia takzim, itu semua dikarenakan dorongan untuk memenuhi perintah agama. Karena hal tersebut merupakan salah satu perintah Rasulullah dalam metode dan pendekatan kita terhadap Kitab Suci.

Itulah sebabnya, salah satu program keluarga anggota jamaah, adalah menanamkan kecintaan putra-putrinya untuk menggemarkan membaca Al-Qur'an, menghafalkan surat-suratnya, dan secara tertib mulai menggali, menghayati, dan mengikat keluarganya dengan semangat Qur'ani. Sehingga tidak jarang di kalangan keluarga tersebut, ada putra-putrinya walaupun umurnya masih sangat muda, mampu menghafal puluhan surat, bahkan hafal Al-Qur'an.

Sayang sekali, dewasa ini pendidikan keluarga sudah sangat berorientasi ke dunia Barat dan tercabut dari akar fitrah diri seorang muslim. Dunia pendidikan keluarga dan sekolah menjadi gamang serta asing dengan ajaran agamanya sendiri, karena ada semacam "rekayasa kurikulum" yang justru menjebak para murid untuk menjadi manusia yang tumpul terhadap agama, otaknya encer, tetapi hatinya kering. Hardwarenya bertambah canggih, tetapi sayang software-nya terkena "virus" budaya Barat yang justru tidak pernah berangkat atau diniatkan sedikit pun untuk menjayakan siar Islam.

Sebab itu, janganlah terlalu kaget apabila ada sebuah keluarga muslim yang ternyata seluruh keluarganya tidak mampu membaca Al-Qur'an. Jangan pula heran apabila di rumah, ternyata pada rak bukunya tidak terdapat Kitab Suci Al-Qur'an. Bagi mereka bergengsi apabila rak buku yang dipajang di ruang tamu itu, penuh sesak dengan sederetan buku-buku tebal, dan mulai Encyclopedia Britanica, Americana, sampai National Geogyaphic. Jangan terlalu mengharapkan untuk melihat dinding kamar putra-putri muslim, terpampang kaligrafi atau tulisan-tulisan tentang hadits atau nasihat, karena kamar seorang putra yang modern harus dihiasi dengan segudang penyanyi musik rock, pop, dan rap. Adakah masih tersisa secercah kebanggaan untuk menjadi seorang manusia Qur'ani?

Ada sebuah adat istiadat yang mulai pudar di kalangan kaum muslimin dewasa ini, yaitu menguji calon mantu dengan mendengarkan bacaan Al-Qur'annya, sehingga bapak mertua merasa bangga mempunyai calon menantu yang takzam, akrab, dan membaca Al-Qur'an dengan tartil sebagai jembatan menuju amaliah Qur'ani. Jangan-jangan apa yang digambarkan oleh Rasul bahwa kelak akan datang satu zaman di mana Al-Qur'an hanya tinggal bacaannya saja, walaupun pelan tapi pasti, sebenarnya sudah mulai datang dan menyelinap dalam kehidupan kita yang mengaku diri sebagai muslim.

Cobalah simak sesekali mengenai upacara-upacara keagamaan yang ternyata tidak jarang di dalamnya dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Akan tetapi sayangnya, para hadirinnya tidak pernah merasakan kesejukan dan terpesona dengan bacaan ayat suci tersebut, padahal salah satu tanda orang yang beriman apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, maka mereka tersengkur, terharu, dan meleleh air matanya, karena jiwanya diingatkan kepada Dia yang Maha Pencipta. Hal itu sebagaimana firman-Nya:

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal." (al-Anfal: 2).

Mungkinkah Al-Qur'an hanya tinggal menjadi benda pusaka antik yang hanya pantas digelar sebagai maskawin (mahar) untuk pleengkap upacara ijab kabul pernikahan. Rumah dan masjid telah menjadi sepi dari gaung sahdu bacaan Al-Qur'an. Padahal, Rasulullah sering rindu untuk mendengarkan bacaan Al-Qur'an yang dibaca dengan suara yang merdu.

Bahkan, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah r.a. Rasulullah saw meminta Abdullah bin Mas'ud untuk membaca Al-Qur'an untuk beliau. Rasulullah saw. bersabda, "Bacakanlah untukku!" Aku (Abdullah bin Mas'ud) bertanya, "Aku bacakan kepadamu, padahal ia diturunkan kepadamu?" Beliau bersabda, "Aku ingin sekali mendengarkannya dari orang lain." Kemudian Aku membacakannya surat an-Nisa'
ketika sampai pada ayat 41 yaitu, "Maka bagaimanakah halnya orang kafir nanti apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)." Beliau bersabda, "Cukuplah dahulu." Aku melihat kedua air mata beliau berlinang. (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

C. Perdamaian (Ishlah) Wujud Reformasi Islami: Iman, Hijrah, dan Jihad
Bila kita mau konsekuen sampai ke lubuk hati dan menimba seluruh sunnah dan wasilah Al-Qur'an, niscaya kita akan lebih mengenal dan mempopulerkan kata ishlah, disamping kata reformasi. Dengan mempopulerkan kata ishlah di kalangan kita, diharapkan dapat lebih menumbuhkan gairah Islamiyah kita. Sebagaimana kita ketahui, kata "reformasi" mengingatkan kita terhadap budaya.serta cara metode gerakan dunia Barat yang diawali dengan kemelut di lingkungan Gereja Roma Katolik yang kemudian direformasi oleh Martin Luther dan Calvin. Sehingga, ada semacam nuansa Kristiani dalam kata reformasi tersebut. Tentu saja, kita tidak tabu dan mengharamkan kata reformasi, karena esensi dan maknanya yang mendalam telah kita tangkap dan bagian dari misi seorang muslim untuk selalu melakukan perbaikan. Akan tetapi tidakkah kita rasakan, betapa besarnya makna sebuah kata sebagai bentuk identitas umat Islam. Tidakkah kita rasakan bahwa dalam mempopulerkan sebuah "kata", umat Islam tidak berdaya mengunggulinya. Padahal, bagi kita sudah sangat jelas bahwa semangat reformasi merupakan bagian dari misi Islam itu sendiri yang selalu melakukan perbaikan dari waktu ke waktu. Dengan kata lain, Islam membawa misi reformasi, sebaliknya reformasi belum tentu membawa misi Islam.

Alangkah indahnya apabila kita memakai kata ishlah (perdamaian), sebuah kata yang melekat pada amal setiap muslim yang memberikan segala usaha untuk memperbaiki sesuatu, serta menjauhi segala bentuk kerusakan. Di dalam kata ishlah tersebut terkandung pula kata shalah (perbaikan) yang mempunyai esensi makna segala ikhtiar atau pilihan yang harus sesuai dengan kehendak Alah dan Rasul-Nya dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya. Kata ishlah sebagai usaha untuk melakukan usaha perbaikan yang sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah Rasul, merupakan lawan kata dari fasad (kerusakan).

Dengan memperkenalkan kata ishlah --dalam lingkup arti memper baiki kerusakan--dalam gerakan melawan kaum zionis Dajal ini, maka terkandung di dalamnya nuansa religius, etika, moral, dan tanggung jawab agar segala tindakan kita selalu sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya; memperbaiki yang rusak dan menyempurnakan yang bermanfaat.

Mengapa hal ini harus kita ke tengahkan? Tidak lain dalam rangka membersihkan hati dan pikiran, pada saat kita berupaya melakukan perbaikan. Sehingga tetap kita tetap pada metode (manhaj) Nabi dan jalan lurus-Nya (sirathal-mustaqim). Kekhawatiran ini tidaklah berlebihan apabila kita cermati konspirasi global kaum zionis, termasuk IMF yang selalu membawa kata "reformasi" sebagai persyaratan agar dana pinjaman dikucurkannya. Lalu, apa yang direformasi? Apakah di balik ini ada semacam pesan terselubung untuk menyingkirkan umat Islam dari panggung kehidupan masyarakat? Bukankah salah satu moto mereka "era reformasi baru" (new age reforms) sebuah misi untuk merombak dunia secara total, yang belum tentu membawa pesan-pesan Islami.

Memang benar, umat Islam tidak perlu terpaku dengan istilah tersebut. Karena dunia sudah menjadi global. Lagi pula bagi kaum intelektual dapat saja menjawab, "Apalah arti sebuah nama?" Padahal, bagi kaum muslim, nama merupakan sebuah identitas yang merupakan bagian dari Sunnah. Sehingga sejak dini, Rasulullah sangat menganjurkan agar kita memberikan nama-nama yang indah untuk putra-putri kita. Hal itu agar mereka lebih mendekatkan dirinya kepada Allah. Itulah sebabnya, kita bisa menjawab kaum intelektual itu dengan jawaban, "Ada berbagai makna yang baik pada sebuah nama, teman!"

Nama dan istilah bukan saja memberikan identitas dan makna, tetapi juga merupakan ukuran dan jiwa (muru'ah) dakwah. Ketika Islam terpinggirkan, berapa banyak kata dan istilah yang memakai bahasa sansekerta; bahasa fosil yang tidak memberikan getaran identitas. Padahal, ketika darah para syuhada yang merebut kemerdekaan dari kaum kufur, deretan nuansa Islam menghiasi kehidupan bernegara. Setidaknya, ada tujuh kata yang masuk dalam ideologi negara seperti: adil, adab, rakyat, hikmah, musyawarah, wakil, dan daulat.

Dengan demikian, seharusnya kita merasakan dengan penuh kenikmatan bahwa tiga kata ishlah, hijrah, dan jihad adalah mutiara yang paling indah, karena di dalamnya berisi begitu banyak hikmah serta roh perjuangan yang mampu mengantarkan manusia kepada kemuliaan dan kemenangan. Tiga kata yang tidak bisa terpisahkan, karena di dalam makna ishlah, ada semacam gerakan untuk selalu berbuat perbaikan, yang akan melahirkan "hijrah" dari yang batil menuju yang hak, dari yang gelap menuju yang terang dengan cara berjihad, yaitu mengerahkan seluruh potensi dan sumber daya untuk mewujudkan ishlah tersebut. Bahkan, hijrah kita tidaklah sekadar perubahan fisik, tetapi juga transformasi mental. Bahkan, kalau kita mau sedikit jeli menghayati makna hijrah, ternyata sejak Al-Qur'an diturunkan, sudah terdapat padanan kata hijrah pada surat al-Mudatstsir ayat 5, "Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah (war-rujza fahjur)."

Maka, salah satu ciri orang beriman adalah mereka yang melakukan hijrah mental, sebagaimana berulang-kali Al-Qur'an mengetuk kalbu kesadaran kaum beriman tentang makna dan keluhuran upaya untuk berhijrah ini. Hal ini sebagaimana firman-Nya:

"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." (at Taubah: 20).

Tiga kata yang dirangkai secara berututan pada surat at-Taubah:20 tersebut, yaitu iman, hijrah, dan jihad; tentunya mempunyai makna yang sangat mendalam. Tidak mungkin salah satu dari tiga rangkaian kata itu hilang, demikian pula tidak mungkin yang satu mendahului yang lain, karena semuanya sudah diatur dan disusun oleh Sang Maha Pencipta.

Orang tidak mungkin memperoleh nilai hijrah apabila upayanya itu tidak didasarkan pada iman. Demikian pula, orang yang mengaku berjihad, ia tidak akan mendapatkan nilai di sisi Allah, selama perjuangannya tidak didasarkan pada iman. Dan tidak mungkinlah orang disebut beriman, apabila keyakinannya tersebut tidak didasarkan pada Al-Qur'an dan Sunnah. Hijrah berarti membuat garis tegas antara yang hak dan batil, membuat batas pemisah ( furqan) antara mukmin dan kafir. Bagaikan racun dan madu, tidak mungkin dua-duanya tercampur dalam satu gelas jamaah.

Maka dengan iman dan sikap yang istiqamah, jamaah mukmin berani mengambil risiko, meninggalkan segala kenikmatan, gelar, dan sanjungan masyarakat jahiliah untuk menerima penderitaan dalam menapaki jalan yang penuh dengan ironi. Akan tetapi, karena yakin akan pertolongan kepada Allah dan semangat yang istiqamah tersebut, menyebabkan dalam jiwa mereka tidak pernah mengenal kata menyerah, apalagi bersekutu dengan kejahiliahan. Sesungguhnya, mereka yang telah berkata bahwa Allah adalah Tuhan kami, kemudian mereka beristiqamah, tidak ada rasa khawatir pada jiwa mereka, juga tidak merasa gentar. Mereka adalah calon penghuni surga yang kekal sebagai balasan atas jerih payahnya sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an pada surat al-Hujurat ayat 14-15.

Kualitas imanlah yang telah menjadikan mereka tidak lagi mempedulikan untung-rugi duniawi, apabila panggilan Allah menyeru nuraninya. Karena bagi mereka kebahagiaan yang hakiki itu adalah tercapainya jiwa yang bersih sebagai jaminan sukses di akhirat. Semangat seperti ini menjadikan generasi pelopor awal (assabiquunal awalun) menjadi umat yang unik yaitu yang tidak ada bandingannya sampai kapan pun. Lebih baik terisolasi, terkapar dalam derita daripada menggadaikan keyakinan. Apalah artinya kemuliaan dunia apabila akan disambut dengan penderitaan akhirat, sebagaimana firman Allah SWT:

"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri'...." (Saba': 46)

Iman, hijrah, dan jihad merupakan tiga kata yang harus menghunjam dan mengakar di lubuk hati setiap mukmin, karena hanya dengan tiga karakter inilah pertolongan Allah akan datang mengangkat dan memuliakan setiap orang yang telah mengikrarkan syahadatnya dengan konsekuen. Tipu daya orang kafir yang dikemas dengan sangat cantik, apakah dalam bentuk kemajuan teknologi, kehidupan mewah yang konsumtif budaya bebas tanpa moral, semuanya tidak akan menggoyahkan muslim yang memiliki "tiga bintang" ciri orang mukmin tersebut. Allah telah berfirman:

"Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi Pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan .pertolongan para mukmin." (al-Anfal: 62)

Apabila kualitas iman berbinar penuh cahaya langit, setiap anggota jamaah mukmin tidak pernah merasa khawatir menghadapi isolasi atau tipuan apa pun. Ayat itu menegaskan kembali bahwa yang akan menolong mereka hanyalah Allah dan sesama mukmin, sedangkan mereka yang nonmuslim tidak pernah akan peduli dengan ciri dan cara hidup demikian. Hijrah pada zaman sesudah Rasul, seperti zaman sekarang ini, tidak lain adalah melakukan suatu "renovasi diri" untuk memisahkan dan hanya berpihak kepada Allah dan jamaah orang-orang mukmin.

Dalam menghadapi konspirasi Dajal zionis yang semakin mengglobal ini, sudah merupakan aksioma bahwa Allah tidak pernah akan memberikan pertolongan kepada umat Islam, selama umat tidak berjihad, yaitu bersungguh-sungguh untuk meningkatkan diri sebagai seorang mukmin. Dan Allah tidak akan mengazab musuh-musuh Islam, selama ada sebagian umat Islam berada di tengah-tengah cara budaya kaum Dajal yang saling mendukung dengan orang-orang kafir secara campur baur. Hal ini dengan sangat tegas dinyatakan Allah dalam firmanNya:

"Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka (kaum kafir), sedangkan kamu masih ada diantara mereka...." (al-Anfal: 33).

Tak ayal lagi, apabila kita ingin menjadi subjek dan memiliki harga diri, melepaskan segala jerat budaya Dajal, maka setiap mukmin harus berhimpun dalam suatu jamaah-sebagaimana metode atau Sunnah Rasul yang dimulai dari rumah salah seorang sahabat beliau yang kemudian dikenal sebagai Darul Arqam. Karena hanya orang mukmin yang berjamaah yang mampu memiliki kentalnya iman, berpadunya cita, dan kokohnya persaudaraan.

Berhimpunnya kaum mukmin akan membuahkan suatu kekuatan iman yang mahadahsyat. Sebaliknya, apabila kaum mukmin tercerai-berai atau terkotak-kotak, niscaya tanpa kita sadari kekuatan yang ditawarkan Allah telah dibuang dengan sangat mubazir. Bukankah Rasul bersabda bahwa hanya kambing yang keluar dari kelompoknya-lah yang akan diterkam srigala? Maka setiap pribadi muslim yang akan melakukan hijrah menuju ke pemukiman kaum mukminin itu, haruslah mulai dari sekarang. Oleh karena itu, pandai-pandai memilih teman yang senasib sepenanggungan, dan janganlah memilih teman lain kecuali Allah, Rasulullah, dan orang mukmin, sebagaimana termaktub pada surat at-Taubah ayat 16.

Kemampuan dan kesungguhan setiap muslim yang dinyatakan dalam kerja keras serta menyerahkan diri kepada-Nya agar dapat terpisah dari kebatilan menuju ke hak. Itulah yang disebut dengan jihad. Orang yang memiliki semangat jihad akan lebih waspada meniti buih kehidupan, dirinya sangat berkeinginan untuk selalu menjaga diri dengan penuh ketabahan. Itulah sebabnya, ketika seorang mujahid tidak terlalu banyak bersenda-gurau atau tertawa terbahak bahak, karena hal seperti ini bisa melambangkan kelalaian dan gampang terperangkap pada nafsu duniawi. Mukmin itu sesungguhnya lebih banyak menangis daripada ketimbang tertawa, sebagaimana termaktub pada surat al Anfal ayat 22.

Menangis merupakan lambang keprihatinan, sebagai salah satu ciri orang mukmin yang jiwanya sangat sensitif melihat penderitaan dan kesesatan manusia. Sehingga di sela-sela wiridnya selalu tersisipkan doa memohon pertolongan Allah bagi para mukmin yang dhaif (lemah) agar mereka diangkat dan dicerahkan jiwanya menjadi satu umat yang kompak dan kuat (ummatan wahidah).

Para anggota jamaah sadar bahwa dengan mendekatkan diri kepada Allah (taqarub), bertakwa, dan terus berikhtiar kepada-Nya, maka pertolongan dari Allah pasti datang yang berupa furqan, yaitu kemampuan untuk membedakan antara yang hak dan batil, antara tauhid dan syirik, antara Al-Qur'an dan thagut seperti termaktub pada surat al-Anfal ayat 29. Hijrah dan jihad melahirkan rasa aman yang tidak terhingga dalam batin mereka, dan keikhlasan serta keridhaan yang tiada tara untuk menerima Allah sebagai cahaya benderang dari puncak harapan. Hidupnya memang hanyalah mencari keridhaan Allah semata, sebagaimana termaktub dalam surat at-Taubah ayat 100 dan al-Fath ayat 29.

Dengan hijrah dan jihad, seakan-akan dirinya telah tergadai hanya kepada hukum dan peraturan Allah. Mereka para anggota jamaah itu sangat merindukan perjumpaan abadi dengan Sang Kekasihnya dan mengharapkan agar Allah membeli dirinya dengan surga dan pengampunan-Nya, seperti termaktub pada surat at-Taubah: 111. Dengan kata lain, seruan yang kita dengar dari sang muadzin yang menyeru, "Marilah meraih kemenangan," (hayya alal-falah), hanyalah akan menjadi seruan kosong, apabila kita tidak menyambutnya dengan hijrah dan jihad yang disulut oleh tali iman sebagai lambang kecintaan yang mendalam kepada Allah.

Orang mukmin yang telah berhijrah dan berpihak kepada Allah, apabila waktu shalat telah tiba, maka ia akan segera meninggalkan kesibukan dunia dan meraih sajadahnya untuk menyembah-Nya, karena Dia Sang Maha-segalanya telah menanti. Bahkan, dalam hadits disebutkan bahwa hal itu tidak sekadar hijrah, apabila sang mukmin secara konsekuen mampu menjadikan perilakunya ini sebagai suatu kebiasaan, maka shalat itu menjadi "mikraj"-nya orang mukmin. Orang mukmin yang telah berhijrah segera berpihak kepada Allah, ketika bisikan setan menggebu menggoda nafsu untuk memalingkan perhatiannya dari dzikrullah, maka seorang pemuda yang gagah adalah seorang yang mampu berhijrah dan berjihad; ketika dia mampu menolak rayuan seorang wanita, bagaimanapun cantiknya wanita itu, karena ia takut kepada Allah. Adalah sebagai hijrah, apabila kita mengubah mentalitas memikirkan diri sendiri (ananiyah) dengan mencintai jamaah, mengubah sikap cinta pada golongan, ras, atau keturunan menjadi kecintaan pada jama'ah, yaitu persaudaraan kaum mukmin.

D. Semangat Persaudaraan
Ketika gerakan dabbah Dajal yang muncul dari bawah bumi mengibarkan panji-panji fitnah di seluruh dunia Islam, seharusnya kita segera merapatkan diri dan melawannya dengan panji-panji persaudaraan yang nyata. Mereka akan segera melangkahkan derap "sepatu laars"-nya atas nama "polisi internasional" (Amerika) untuk memporak-porandakan umat beragama dengan cara mengadu-domba satu dengan lainnya. Mereka menjadi provokator yang paiing profesional agar umat Islam dan umat beragama lain bertarung, sehingga lelah dan tidak lagi mempunyai suatu kekutaan untuk menghadapi tipu daya kaum Dajal zionis tersebut.

Betapa mungkin kita akan memenangkan sebuah pertempuran, bila diantara kita sendiri saling memfitnah, bahkan yang paling gigih memfitnah sesama seiman dan seagama. Alangkah pedihnya jiwa, seandainya ada seorang pemimpin dengan penuh semangat menuduh sesama saudaranya. Pemimpin yang menuduh sesamanya yang nyata-nyata telah bersyahadat; yang telah pula menunjukkan kecenderungannya kepada kebenaran (al-hanif), dan telah menunjukkan amal-amalnya untuk Islam, difitnah dan dihujat sebagai orang yang seagama, tetapi tidak seiman. Bila memang ada peristiwa seperti itu, maka "bahasa" orang yang mengaku pemimpin itu tidak lain adalah "bahasa kaum zionis" yang memutar-mutarkan lidahnya bagaikan para Ahli Kitab yang menyisipkan kalimat kebohongan dan diakuinya datang dari Allah.

Pemimpin itu pun dengan tidak merasa berdosa sedikit pun menepuk dada sambil merangkul kaum kafir dan menginjak martabat sesama saudaranya seagama. Akhlak karimahnya telah tercerabut dari jiwa dan mereka menggantinya dengan akhlak dabbah. Mereka merasa sangat bahagia bila dapat menertawakan penderitaan orang tertindas yang merintihkan doa, seraya bercucuran air mata. Di manakah lagi kata maaf? Di manakah keluhuran budi umat yang telah dicontohkan Rasulullah saw. ketika memperlakuan musuh-musuhnya pada saat penaklukan Mekah?

Padahal, tidak ada yang paling indah dalam kehidupan manusia kecuali mempunyai sahabat seagama dan seiman. Betapa kentalnya nilai persaudaraan yang disambung oleh tali iman telah dibuktikan oleh para anggota jamaah Rasulullah, yang sekaligus sebagai bingkai kaca untuk bercermin dan menata kehidupan masyarakat Islam yang Qur'ani. Persaudaraan iman inilah yang menyatukan rasa, karsa, dan cinta dalam jamaah, yang mampu membongkar segala kebanggaan golongan (ta'asub), keturunan, ras, dan kebanggaan kelompok lainnya.

Akan tetapi, cobalah raba hati dan keadaan kita sekarang ini, betapa umat Islam yang terkena penyakit "mencintai dunia dan takut akhirat" (wahan), tercabik-cabik menjadi santapan orang-orang kafir dikarenakan hilangnya nilai persaudaraan diantara sesama muslim sendiri. Bila ukhuwah Islamiyah telah redup cahayanya, apakah mungkin menyambung tali ukhuwah bashariyah dan wathaniyah. Pelita hikmah tentang seruan Allah, "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara...." (al-Hujurat:10) telah lenyap ditelan gemuruhnya pidato dengan gaya retorika yang hanya sebatas mencari pendukung golongannya, padahal janji-janji yang dikemas dengan bahasa retorika itu hanyalah manis dalam pernyataan, tetapi pahit dalam kenyataan. Jelaga hitam di hati kita, bertambah tebal dengan masuknya paham dan budaya kaum Dajal yang secara halus menyelusup bagaikan virus yang merusak cara berpikir umat, sehingga seluruh sikap dan keputusannya sudah sangat jauh dengan Al-Qur'an.

Prinsip demokrasi yang diagungkan dunia Barat, ternyata diterima di kalangan umat Islam dengan sangat mentah, sehingga telah menyebabkan tumbuhnya berbagai kepentingan (vested interest) berbagai pengkotakan, perbedaan paham, dan perbedaan cita yang dikonfrontasikan secara tajam, bagaikan lawan dengan rnusuh dalam arti yang sebenarnya. Organisasi atau partai yang semula secara ideal dianggap sebagai alat untuk menampung aspirasi program dan rencana pembangunan umat, justru menjadi "alat pembunuh" persaudaraan. Hanya karena berbeda partai atau organisasi, kadang-kadang kita menjadi berpikir hitam-putih (black and white). Sikap kebersamaan telah lenyap digasak kebanggaan kelompok dan yang mencuat secara dominan adalah sikap keegoisannya (keindividuannya) . Bahkan, bisa jadi kelihatannya mereka bersatu, padahal hatinya tidak pernah jumpa dan tidak ada kecocokan ide; kelihatannya berjamaah, padahal hatinya telah lama berpisah.

Kejayaan umat akan tampil kembali di panggung dunia, apabila kita mau melebur diri dalam satu jamaah yang di dalamnya berkumpul kaum mukmin yang maju menundukkan dunia secara bersaf, dan berkepribadian luhur sesuai dengan Al-Qur an, yaitu barisan yang tangguh bagaikan benteng yang kokoh. Masing-masing muslim, saat ini, telah sama-sama bekerja untuk berbagai keperluan terrmasuk sama-sama bekerja dalam siar dakwah. Akan tetapi disayangkan; hal itu belum mewujudkan suatu saling kerja sama yang total. Padahal, inti menuju bekerja sama, hanyalah dengan menjadikan Al-Qur'an sebagai sumber berpijak dan tindakan, serta Sunnah Rasul sebagai rujukan sikap hidup kita. Semangat merujuk dan melaksanakan dua sumber hukum utama Islam tersebut tidak boleh pudar, betapa pun hebatnya otak kita. Karena apalah artinya isi otak kita yang hanya beberapa sentimeter kubik, dibandingkan dengan kebesaran alam semesta hasil ciptaan Sang Mahaperkasa itu.

Kebersamaan sebagai salah satu buah persaudaraan itu mutlak berada di lubuk hati masing-masing. Setiap anggota jamaah merasa larut dan merasa satu wujud, karena nilai iman telah melebur dan sekaligus meruntuhkan segala perbedaan artifisial (palsu). Mereka yang mendambakan bunga dan buah persaudaraan, serta mau duduk sebagai anggota jamaah, maka tidak ada satu pun sekat atau tabir yang akan menyebabkan tumbuhnya prasangka serta sikap egois (ananiyah). Hati dan sikap mereka satu dan transparan, sehingga tidak ada satu kebenaran pun yang dia sembunyikan di hadapan saudaranya.

Sikap seperti ini menyebabkan para anggota jamaah merasa aman dan damai. Ibarat ikan dalam air, mereka tidak mau lagi keluar dari kolam jamaah. Cinta kasih, kelembutan, sopan santun, serta rasa tanggung jawab diantara sesama anggota muslim, merupakan ciri khas yang paling menonjol dalam pribadi para anggota jamaah. Demikian pula, dalam cara pernyataan keyakinan yang mencakup iman, syariat, dan prinsip-prinsip beragama dan berkehidupan, dinyatakannya dengan sangat banyak sekali. Keterangan maupun berbagai nash Islam ternyata memberikan satu pesan agar dalam menegakkan siar Islam, selalu menyeru kepada satu sikap iktidal (dipertengahan). Hal itu karena akan melarang sikap-sikap yang membuat rumit perilaku serta penalaran alami, seperti: berlebih-lebihan (ghuluw), merasa diri paling pintar (tanatthu), dan mempersulit atau membuat bertambah berat (tasydid).

Sebenarnya, banyak sekali ayat Al-Qur'an maupun hadits Nabi yang menyatakan agar dalam beragama, kita berada di pertengahan. Hal itu banyak disampaikan oleh Rasulullah, misalnya hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dengan Musnad-nya, an-Nasa'i dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya, dan al-Hakim dalam Mustadrak-nya. Dari Abdullah bin Abbas r a. bahwa Nabi saw bersabda:

"Hindarkanlah daripadamu sikap melampaui batas dalam agama (ghuluw), karena sesungguhnya orang-orang sebelum kamu telah binasa karenanya."

Tentang peringatan agar suatu kaum, bahkan Ahli Kitab sekalipun untuk bersikap tidak melampaui batas dalam agama, telah dinyatakan di dalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabi. Oleh dua sumber utama umat tersebut telah diberikan contoh beribadah yang ringan. Misalnya saja, dalam pelaksanaan rukun haji, yaitu dalam hal memilih batu untuk melempar (jumrah), hendaknya mengambil batu sebesar biji kacang, dan diperintahkannya agar tidak melampaui batas (kualitas lemparannya).

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya, dari Abdullah bin Mas'ud. Ia berkata bahwa Rasullullah saw. bersabda "Binasalah kaum Mutanatthi'un" dan beliau mengulanginya tiga kali. Imam Nawawi berkata, "Al-Mutanatthi'un ialah orang-orang yang merasa dirinya benar dan merasa paling pintar, serta merasa paling menguasai ketika membahas sebuah perkara. Ucapan mereka penuh bara angkara yang membakar, sehingga kadang-kadang keluar dari sifatnya seorang panutan yang seharusnya tetap berpegang pada tata nilai qaulan ma'rufan (kata-kata yang indah menyejukkan). Nabi pernah menegur Mu'adz dengan keras karena Mu'adz memanjangkan bacaannya ketika shalat berjamaah, sehingga banyak orang yang mengadu kepada Nabi. Kemudian Nabi bersabda, "Apakah engkau ingin menimbulkan fitnah, hai Mu'adz?" Beliau mengulanginya tiga kali. Dalam peristiwa yang sama beliau bersabda pula:

"Sesungguhnya diantara kalian ada orang-orang yang menimbulkan antipati. Barangsiapa mengimami shalat bersama orang banyak (jamaah), maka ringankanlah (bacaannya) karena di belakangnya ada orang tua, orang lemah, dan orang yang mempunyai keperluan." (HR Bukhari).

Bila kita membuat analogi antara seorang imam shalat dan imam pada sebuah masyarakat, tentunya prinsip-prinsip imamah itu harus melekat pada para pemimpin Islam. Dia rasakan denyutan kepedihan umat. Dia ringankan beban hidupnya. Dia sejukkan pula kegelisahan jiwanya, dan dia berikan pelita keteduhan kepada mereka yang berjalan menatap hari esok dengan ketidakpastian.

Ketika Nabi akan melepas Mu'adz dan Abu Musa ke Yaman, beliau bersabda, "Permudahlah olehmu berdua dan jangan mempersulit. Gembirakanlah dan jangan menyusahkan. Bersepakatlah dan jangan berselisih. " (HR Bukhari dan Muslim)

Demikian pula dengan firman Allah, "...Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu...." (al-Baqarah: 185).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya agama ini adalah kemudahan. Dan tidaklah seseorang mempersulit agama, melainkan ia pasti akan dikalahkan. Maka dari itu bersahajalah, dekatlah, dan gembiralah." (HR Bukhari dan Nasa'i).

Maka dalam tatanan pergaulan dengan siapa pun, hendaknya selalu menampakkan wajah dakwah. Sebuah refleksi tata etika kesopanan Islami yang sangat tinggi nilai luhurnya. Menyejukkan dan senantiasa memberikan kesan yang mendalam bagi pihak lain karena keteladanan akhlaknya.

E. Tiang Persaudaraan
Sebagaimana telah ditetapkan oleh para anggota Ikhwanul Muslimin yang dipelopori oleh Hasan al-Banna --semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya-- prinsip persaudaraan itu dilandaskan pada empat tiang yang harus dibina secara kokoh, yaitu ta'aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), ta'awun (saling menolong), dan takaaful (saling bertanggung jawab). Itulah empat tiang yang ditegakkan di atas landasan akidah kuat yang merupakan ciri khas dari mereka, yaitu para anggota jamaah di mana pun mereka berada, seperti yang dicontohkan oleh gerakan ikhwan.




Bab IV : Jamaah dan Essensi Persatuan Umat (3)
l. Ta'aruf (Saling Mengenal)

Bagaimana mungkin terjadi wujud persaudaraan apabila hati penuh dendam amarah. Apakah kita telah berubah haluan sehingga menjadikan hawa nafsu menjadi Tuhan, dan tidak ada lagi pintu hati yang terbuka untuk mengulurkan tangan? Bagaimana mungkin kita membangun tali persatuan apabila tali silaturrahmi telah putus atau bahkan menumpuk di "gudang" karena tidak pernah direntangkan sama sekali?

Padahal, kita mengenal peribahasa: "tak kenal maka tak sayang". Begitu juga dalam hal berjamaah, ta'aruf ini merupakan tiang pertama yang harus ditegakkan dalam menjalin tali persaudaraan. Dengan frekuensi dan intensitas yang tinggi, setiap anggota jamaah wajib ber-ta'aruf sehingga dengan cara seperti ini, akan timbullah tiga rasa yang merasuk setiap relung dada anggota jamaah yaitu sebagai berikut:

Timbulnya rasa persaudaraan yang kokoh.
Berseminya rasa kasih sayang yang mendalam.
Berbuahnya rasa tanggung jawab yang besar.

Untuk membuahkan rasa persaudaraan tersebut, setiap anggota hendaknya memiliki jiwa besar untuk siap menerima dan memberikan bantuan dan pertolongan kepada sesama saudaranya. Menerima kritikan dan memberi teguran dengan kata-kata yang penuh kebijakan adalah warna anggota jamaah yang rindu persaudaraan muslim tersebut. Hendaknya, jiwa besar ini mampu mendorong setiap anggota untuk berpikir positif (khusnudzan), dengan cara sesama saudaranya saling menasihati. Kalau perlu memberikan kritikan kepada sesama saudaranya dengan landasan semangat seorang mutawadhi (rendah hati). Kritikan yang diarahkan kepada dirinya, akan dia terima atau dianggap sebagai "pantulan cinta" dari sesama saudaranya yang merasa takut apabila dirinya terjerumus dalam kezaliman.

Bagi sesama anggota jamaah, kritikan dianggapnya sebagai cermin sikap diri, yang sekaligus merupakan dampak yang memberikan informasi atas segala bentuk tingkah pola dan wajah diri di hadapan orang lain. Bagaikan orang yang bersolek di depan cermin, maka demikianlah pantulan cermin itu sebagai kritik diri. Seandainya, ada kotoran pada wajah, tentu kita berterima-kasih kepada cermin, karena dengan informasi yang dipantulkannya kita menjadi tahu di mana letak kotoran tersebut menempel. Alangkah lucunya, apabila kita marah dan memecahkannya, hanya karena wajah kita tampak kotor di depan cermin tersebut

Walau begitu hendaknya kita waspada terhadap kritikan, sebab bisa jadi memang cermin yang kita hadapi itu, adalah cermin yang kurang memiliki pantulan yang baik. Cermin yang tidak objektif, yang tidak memantulkan wajah kita yang sebenarnya. Orang dengan niat dan itikad tertentu mungkin saja memberikan informasi yang baik, padahal ada udang di balik batu. Maka dengan sikap yang positif, kita harus tetap waspada, dengan cara melakukan pemeriksaan ulang (rechecking) terhadap informasi yang diterima. Hal itu sebagaimana firman Allah:

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (al-Hujurat: 6).

Dengan ayat ini dimaksudkan agar setiap pribadi muslim tidak cepat menjatuhkan vonis, berprasangkaa buruk apabila menerima sesuatu berita yang menyangkut sesama saudaranya anggota jamaah. Dengan mengenal saudaranya secara mendalam, baik cara berpikirnya, kesulitannya, kelemahan, dan kelebihannya maka kita tidak akan tergesa-gesa bersikap reaktif terhadap sesuatu berita yang dapat merugikan sahabat dan saudara kita.

Sesungguhnya, yang menghancurkan umat itu adalah wabah buruk sangka. Kurang ta'aruf dan silaturrahmi diantara kaum muslimin, sehingga menyebabkan setiap pribadi mengambil keputusan atau membuat asumsi menurut prasangkanya sendiri. Jika ada seorang teman yang menonjol, biasanya berseliweran tanggapan terhadapnya. Seorang muslim yang lemah, dengan mudah menerima informasi dari pihak lain yang tidak jelas kebenarannya, kemudian dengan sangat berapi-api membuat analisis subjektif dan terus menjatuhkan vonis melampui batas hukum. Padahal, seharusnya ia tidak langsung menjatuhkan vonis bersalah, sebelum mengetahui kebenaran fakta kesalahannya.

Al-Qur'an pun mengajarkan sikap kritis dan melarang hanya memperturutkan hawa nafsu untuk mengikuti sesuatu tanpa ilmu atau data terlebih dahulu --sebagaimana termaktub pada surat al-Isra':36. Vonis terhadap suatu berita yang belum diperiksa kebenaran faktanya, adalah suatu fitnah. Dengan fitnah, seseorang dihadapkan pada musuh yang tidak berwujud. Dengan fitnah itu pula, seseorang akan tersingkir dari dunianya, dia akan sangat menderita lahir dan batin. Oleh karena itu, kita menyadari betapa besarnya dampak dari suatu fitnah, maka janganlah terlalu cepat mencap negatif terhadap sesama saudara kita, sebelum berjumpa atau mengetahui duduk perkaranya.

Sesungguhnya, dalam hal inilah, kebanyakan manusia mendapatkan dirinya sangat lemah, karena memang setan sangat berkepentingan untuk menumbuhkan perpecahan di kalangan saudara sesama muslim tersebut. Kendati sudah dilakukan pemeriksaan terhadap kebenaran berita yang ada, dan ternyata saudara kita memang bersalah, maka untuk menyelamatkan saudaranya dari jurang kehancuran, di dalam dadanya terkandung rasa cinta yang menutupi jelaga kebencian yang membara dalam nafsu dirinya. Tundukkan kepala, ketika menerima berita buruk yang menimpa saudara kita. Kemudian berangkatlah menemuinya untuk menanyakan kebenaran berita tersebut, dan jika ada sesuatu keburukan maka cegahlah dengan perasaan penuh kasih sayang.

Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah saw., "Orang muslim dengan muslim lainnya itu bersaudara. Ia tidak menzaliminya dan tidak saling membiarkan." (al-Hadits).

Inilah ikatan yang kuat diantara sesama muslim. Seorang muslim sejati meyakini bahwa dirinya belum pantas tergolong orang mukmin apabila dia tidak mencintai sesama saudaranya, sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. Seorang muslim tidak akan melakukan sesuatu yang menyakiti orang lain, karena dia sendiri tidak mau diperlakukan dengan perbuatan seperti itu. Agama Islam bukanlah "agama museum" yang hanya sedap dalam pandangan, hanya digemari oleh para kolektor barang antik yang termenung dalam kenangan penuh nostalgia. Islam adalah agama amaliah yang mengalir hidup untuk menghidupkan.

Tanamkanlah pada diri kita bahwa Islam ini akan jaya, bila setiap muslim sudah mempunyai niat, tindakan, dan wawasan bahwa jamaah itu adalah penting sebagai tali pengikat untuk berdirinya daulat Islamiyah. Dengan menanamkan pentingnya jamaah maka setiap muslim akan mampu mencurahkan kasih bagi alam semesta, sesuai dengan karakter setiap muslim yang harus tampil membawakan panji rahmatan lilalamin. Sebenarnya, eksistensi manusia itu hanya berharga ketika dia beda dalam kebersamaan. Sebab itu, tidak mungkin seorang muslim menutup sebelah mata terhadap orang lain (nonmuslim), sebab bagaimanapun juga orang lain tersebut telah membawa arti bagi eksistensi dirinya tersebut.

Cobalah renungkanlah, mungkinkah kita bisa menikmati sepiring nasi, apabila tidak ada seorang petani pun yang menanam padi? Mungkinkah seorang pemimpin menepuk dada, apabila tidak ada pengikut yang mendukungnya? Pantaskah seorang bangga dengan menyandang atributnya sebagai hartawan, apabila tidak ada orang miskin? Itulah tiang ta'aruf dalam membina persaudaraan Islam. Mereka sangat mendalam perhatiannya pada sesama saudaranya, sebagaimana kepada dirinya sendiri.

2. Tafahum (Saling Memahami)
Tiang persaudaraan yang kedua adalah tafahum yang artinya saling memahami atau ingin mengerti lebih mendalam. Tafahum berarti pula usaha setiap muslim untuk dapat menggali informasi sebanyak mungkin. Yaitu, menggali segala hal yang berkaitan dengan "cara berpikir" dan "lingkup pengalamannya" dari sesama saudara sejamaah.

Masing-masing anggota akan saling menyesuaikan dirinya dengan kedua faktor tersebut, sehingga timbulah apa yang disebut dengan kerja sama yang harmonis: kesamaan wawasan, tujuan, dan tindakan. Harus dipahami bahwa keutuhan mereka itu sudah merupakan satu semen perekat yang membaur dan sulit untuk dipisahkan, karena terjadi suatu simbiosis-mutualis (kerja sama yang harmonis) yang sangat masif (utuh). Komunikasi yang harmonis, silaturahmi yang ikhlas dalam frekuensi yang intens, merupakan cara kita menjalin hubungan persaudaraan. Dalam hal ini, perlu disimak ucapan dari Ali bin Abi Thalib r a., "Setiap manusia memandang manusia yang lainnya berdasarkan tabiatnya."

Juga sebagaimana Rasulullah saw bersabda, "Kami diperintahkan supaya berbicara kepada manusia menurut kadar akalnya masing-masing." (al-Hadits).

Hadits tersebut memberikan keyakinan kepada diri kita bahwa setiap muslim harus dapat menyampaikan idenya sesuai dengan kadar akalnya, tabiat, serta pengalaman sesama saudaranya. Dengan pendekatan ini, diharapkan setiap ucapan tidak akan menimbulkan kesalah-pahaman diantara sesama saudara sejamaah. Untuk belajar memahami orang lain, hendaknya kita mampu mengidentifikasikan diri kita, sebagaimana karakter orang lain. Kita harus memiliki gambar khayalan tentang saudara kita yang kita sebut empati (memahami seseorang, ed.). Tafahum dalam persaudaraan merupakan tiang yang sangat penting agar dapat menyelami hakikat persaudaraan dengan cinta dan hikmah. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik...." (an-Nahl: 125).

Sesama muslim juga saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, serta saling bertukar pikiran (mudzakarah) diantara sesama muslim. Hal itu merupakan dasar pokok terwujudnya persaudaraan Islamiyah. Dengan bertambah intensifnya komunikasi, bertambah seringnya bersilaturrahmi, dan bertambah luasnya saling tukar pikiran diantara sesama muslim, maka niscaya akan datang suatu saat di mana kasih sayang itu akan tumbuh dengan semarak dalam jamaah muslimin. Juga kita tidak perlu harus tergesa-gesa untuk segera menerima paham orang lain.

Hendaknya disadari bahwa di dunia ini tidak mungkin mengharapkan semuanya serba seragam dan serba memuaskan. Sebab, itu adalah salah satu sikap kita untuk mencapai tafahum dan mencari titik persamaan. Dari titik inilah, kita mulai berbicara dan mengembangkannya. Kemudian titik persamaan itu bertambah melebar, sehingga perbedaan yang secara kualitatif tidak bersifat hakiki, dapat kita abaikan untuk sementara waktu. Akan tetapi, kita akan banyak berkomunikasi berdasarkan sifat-sifatnya yang sama sebagai nilai pertama dari awal jalinan silaturahmi. Kita hendaknya bersabar dan konsisten untuk menjadikan perbedaan itu tergeser oleh berbagai persamaan dalam segala hal, baik itu wawasan, sikap, dan tindakan. Dengan bertambah melebarnya persamaan dan menyempitnya perbedaan, maka jadilah kita kelak bagaikan satu mata uang yang berhimpit, serta sempurna bagaikan satu tubuh yang menyatu.

Selanjutnya, hendaklah kita dapat berpikir realistis dan terbuka, serta tidak cepat menyerah apabila berhadapan dengan orang yang berbeda pendapat. Karena dengan kesabaran dan sikap yang istiqamah, tidaklah ada sesuatu yang tidak mungkin untuk ditundukkan. Bagaikan air yang menetes secara perlahan dan kontinu, ternyata mampu memberikan bekas mendalam, yaitu sebuah lubang pada batu cadas. Memahami seseorang, berarti kita masuk ke dalam diri orang tersebut. Kita tidak dapat dengan cepat mengambil kesimpulan tentang baik dan buruk seseorang. Kita harus mengenal dengan sangat kental dan terjun ke dalam hati sanubarinya. Memang inilah beratnya. Kadang-kadang asumsi-asumsi subjektif sering menyelusup ke dalam hati kita, serta nilai ukur yang membuka diri, sehingga tidak ada dialog yang merupakan cara untuk melakukan pengambilan kesimpulan dari dua arah.

Kita sangat akrab dengan istilah ukhuwah, yang artinya persamaan, keselarasan, dan keserasian. Apabila kata ukhuwah ini kita tambah dengan Islamiyah, berarti mempunyai makna, sebagai berikut:
a. Persamaan antara sesama muslim.
b. Persaudaraan yang bersifat Islami.
c. Persaudaraan yang diikat oleh nilai-nilai Islam dan sebagainya.

Apa pun juga, apabila kita hayati makna ukhuwah maka harus ada semacam getaran awal pada diri kita akan makna persamaan, keakraban, persaudaraan, sebagaimana dalam kamus bahasa Arab kata al-akh dapat berarti bersahabat, intim, atau akrab. Bahkan, kata al-akh dalam Al-Qur'an dalam bentuk jamak disebut sebanyak 52 kali dalam konteks pengertian yang merujuk pada arti saudara kandung.

Dengan demikian, ketika berbicara, mengulas, bahkan mempraktekkan ukhuwah Islamiyah, yang terkandung di dalamnya suatu upaya diri untuk mencari titik persamaan diantara sesama muslim yang didasarkan pada semangat persaudaraan. Banyak orang melupakan makna persamaan ini, sehingga mereka selalu terperangkap pada kehendak untuk melakukan suatu percakapan, bahkan perdebatan yang mubazir di daerah perbedaan. Mereka lupa bahwa berbantahan itu hanya akan melemahkan kekuatan diantara sesama harakah pendakwah.

3. Ta'awun (Saling Menolong)
Apabila cinta kepada Allah telah menghujam di segenap relung dada seorang muslim, maka sifat ta'awun (saling menolong) merupakan salah satu karakter yang melekat seutuhnya pada dirinya. Menolong memiliki makna mengangkat atau meringankan beban orang lain, baik yang diminta maupun yang tidak diminta. Mengangkat seseorang dari penderitaan atau minimal meringankannya, baik dengan harta, jiwa, doa, dan nasihat. Hal itu tidak ada kerugiannya barang sedikit pun, kecuali hanyalah kebaikan belaka.

Itulah sebabnya, ta'awun sebagai dasar falsafah agama begitu mementingkan kekuatan yang merupakan tonggak utama bagi kejayaan akhlak setiap pribadi muslim. Cobalah tengok sejenak, mungkinkah kita mampu menolong orang lain, apabila di dalam dada dan sanubari kita tidak tertanam kekuatan akhlak: Jadi titik sentral Islam ini adalah kekuatan, karena hanya dengan menjadi kuatlah maka segala sesuatunya dapat terwujud. Compang-campingnya umat Islam sekarang ini karena tidak memiliki kekuatan, tercabut kebanggaan diri sebagai khairulummah (yang terbaik), dan hilangnya mahkota jiwa, yaitu semangat jihad.

Ta'awun atau saling menolong tidak murigkin bisa menjadi kenyataan, apabila setiap individu dilanda oleh penyakit wahan, yang pengecut dan lemah. Padahal, tidak ada kamusnya bahwa setiap muslim itu harus hidup secara anani, terisolasi, dan tercabut dari kebersamaan dengan saudara semuslim. Tidak pantas seorang muslim perutnya kekenyangan, sedangkan saudaranya atau tetangganya gemetar menahan diri dari kelaparan. Sangat tidak etis seorang muslim yang hidup berkemewahan: rumah dengan gaya kastil, berbagai mobil mewah dan mutakhir dipajang di garasi rumah, sedangkan di lain pihak tepat beberapa meter dari rumah mewahnya itu bergumul para kaum lemah dan tidak berdaya (mustad'afin), yang terpuruk di gubuk-gubuk kumuh sambil menjalin mimpi. Lantas bagaimana jika para hartawan itu tidak mempunyai kekuatan moral untuk menolong sesama, saudaranya, lalu apalah arti kemewahan yang Allah karuniakan kepadanya?

Tolong-menolong itu sudah dijadikan satu aksioma dalam agama kita, khususnya tolong-menolong dalam kebaikan (al-birri) dan dalam kecintaan kepada Allah (at-taqwa). Hal ini sebagaimana firman Allah:

"...Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. " (al-Maa'idah: 2).

Sikap saling menolong tersebut memberikan empat konsepsi bagi setiap anggota jamaah, yaitu sebagai berikut:

a. Dia tidak akan membiarkan saudaranya berbuat zalim maupun menzalimi dirinya.

b. Dia tidak akan makan kenyang apabila di lain pihak saudaranya masih kelaparan. Dia tidaklah pula akan mampu tertawa, sementara masih banyak saudaranya yang rnenangis.

c. Dia akan selalu menjadi seorang pionir untuk mengambil inisiatif menolong dan mengangkat sesama saudaranya dari derita dan duka mereka. Meringankannya dari segala beban, mencegahnya dari yang mungkar, walaupun tidak dimintakan pertolongan sekalipun. Karena baginya hidup yang indah adalah kehidupan yang mempunyai makna dan arti bagi lingkungannya. Dialah manusia yang pertama hadir, ketika ada orang yang tertimpa musibah. Dengan harta, tenaga, lidah, bahkan jiwa raganya, dia pertaruhkan dirinya untuk membela dan menolong sesama saudaranya, dalam arti yang sebenar-benarnya, tanpa mengharap pujian, apalagi tepukan.

d. Jiwanya cepat tergetar setiap melihat penderitaan manusia, karena dia sadar bahwa pada dirinya ada energi batin yang tidak bisa dibiarkan secara mubazir, sehingga selalu mendorong dirinya untuk menyingsingkan lengan baju, dan siap memberikan pertolongan. Sungguh dia ingin menjadi sirajam munira (orang menyentuh mata hati dan menyinari sesamanya). Menjadi lampu yang mempunyai cahaya benderang dan menerangi setiap relung kehidupan dengan syiar Islam melalui sikap dan tindakannya yang nyata.

Sungguh, apabila sikap ta'awun ini sudah menjadi "kegemaran" bagi setiap pribadi muslim, khususnya anggota jamiatul mukmin, maka akan lahirlah harmoni, keseimbangan, dimana yang kuat menjadi pelindung yang lemah, yang kaya menjadi penggembira orang yang miskin, yang berilmu menjadi pelita bagi yang awam. Besar tidak melanda, kecil tidak patut terhina. Inilah sikap ta'awun tersebut. Cobalah bayangkan makna dari doa dalam bersin. Bukankah apabila ada orang yang bersin, kemudian dia berkata, "Alhamdulillah." Maka harus kita jawab dengan ucapan atau doa, "Yarhamukullah." Ini juga punya makna global bahwa apabila ada saudaranya yang bersin di Sabang, maka akan segeralah terdengar balasan ucapan yarhamukullah, dari seluruh saudaranya sampai ke Merauke.

4. Takaful (Saling Bertanggung Jawab)
Hasrat ingin ber-ta'aruf, rindu bersilaturahmi, gandrung ber-ta'awun, sebenarnya dikarenakan kita semua merasakan adanya rasa tanggung jawab terhadap agama, terhadap amanat, dan rasa cinta yang besar terhadap sesama saudara seiman. Perasaan tanggung jawab ini, menyebabkan dirinya sangat waspada, dan mempunyai kendali diri yang tinggi untuk menjaga sesama saudaranya dari kehancuran, fitnah, dan celaan. Dia merasakan bahwa dirinya adalah juga bagian dari saudaranya yang lain. Juga merupakan satu tubuh, yang apabila kakinya terinjak duri maka berdenyutlah rasa sakit itu sekujur tubuhnya. Inilah dasar tanggung-jawab setiap muslim untuk menghindari dan sekaligus membentengi saudaranya dari segala cela dan fitnah. Rasulullah saw bersabda:

"Barangsiapa menutupi cela saudaranya, maka Allah Ta'ala akan menutupi celanya di dunia dan akhirat." (HR Ibnu Majah).

Seorang muslim harus pandai sekali menjaga rahasia temannya, penuh amanat apabila diberi titipan, dan penuh tanggung jawab terhadap keselamatan sesama saudara seiman. Bahkan, dalam memegang rahasia, setiap pribadi muslim benar-benar menjaga amanat tersebut. Karena teguhnya memegang suatu rahasia maka ia langsung "mengubur" amanat tersebut dan tidak pernah sedikit pun terbongkar.

Karena rasa tanggung jawab yang diselimuti dengan rasa cinta sesama anggota jamaah, maka ia tidak pernah sedikit pun ingin mengungkit sejarah buruk saudaranya dan membongkar cacat saudaranya sendiri. Rasulullah saw bersabda:

"Janganlah kamu semua meneliti (mencari-cari) kejelekan orang lain, jangan pula mengamat-amatinya, juga janganlah saling memutuskan ikatan, saling menyeteru, dan jadilah hamba Allah yang saling bersaudara." (HR Bukhari dan Muslim).

Jika seorang muslim mendengar berita dari seseorang tentang perbuatan tercela saudaranya, hendaknya ia berdiam diri. Tidak perlu menambah dengan komentar dan tidak pula ikut larut menganalisis dengan penuh buruk sangka (su'uzhan). Sesungguhnya, yang menyebabkan renggangnya tali persaudaraan dan rapuhnya tali cinta adalah perasaan buruk sangka.

Setiap umat Rasul selalu mawas diri, menjaga lidahnya, dan terus-menerus merakit tali persaudaraan diantara sesama muslim. Hal ini tampak dari tekadnya untuk selalu menjadikan dirinya sebagai pembela dan pelindung dari harkat dan derajat sesama muslim. Apabila diberi amanat Allah berupa kekayaan, kekuasaan, atau ilmu pengetahuan, dia tidak akan melupakan sesama saudaranya untuk memberikan bantuan dan pertolongan agar dapat dicarikan jalan keluar bagi saudaranya tersebut.

Kekuasaan, jabatan, dan harta adalah amanat. Dia sadar bahwa semuanya harus mempunyai nilai bagi saudaranya yang seiman. Sebab itu, seorang muslim tidak perhah egois. Dia selalu merindukan saudaranya agar dekat dan akrab dengan dirinya dalam suka dan duka. Apabila dia berkuasa maka sesama saudaranyalah yang dijadikan prioritas untuk dibantunya. Apabila dia punya kelebihan harta maka infak yang dia berikan ditujukan untuk para kerabat saudaranya seiman terlebih dahulu, ini semua menunjukkan rasa takaful dari seorang anggota jamiatul muslimin.

F. Mengibarkan Panji Persaudaraan
Sebagaimana metode (manhaj) yang telah digariskan Rasulullah saw., maka program rekrutmen untuk menambah jumlah saudara seiman itu dimulai dari kelompok terdekat terlebih dahulu. Setiap anggota wajib hadir dalam pertemuan taklim, tarbiyah, dan takwiniyah yang digariskan oleh jamaahnya. Kemudian masing-masing anggota akan berupaya dengan keteladanan akhlaknya merekrut saudaranya terdekat untuk masuk dalam taklim tersebut guna mendapatkan cucuran hikmah dan kemuliaan akhlaknya melalui percikan petunjuk A1-Qur'an.

Jiwa seorang mujahid dakwah akan tampak dalam semangat untuk menyeru dan menarik manusia ke dalam shaf persaudaraan lni. Jiwanya tidak mengenal lelah, tidak mengenal minder, apalagi gentar untuk menawarkan sebuah jalan yang lurus, guna menyelamatkan dari kegelapan menuju cahaya. Partikel-partikel ikhwan bertebaran menebarkan cahaya nubuwah dengan memercikkan air rohani yang menyegarkan tumbuhan yang kering. Kemudian dia tebarkan benih-benih unggul itu dalam taman jamaah yang disiram melalui butiran tarbiyah yang membawa ketenteraman batin (mutma'inah). Sebuah taman miniatur dari kehidupan yang Islami, di mana terlihat dengan sangat jelas keakraban, persaudaraan, serta budi luhur yang diikat oleh sebuah kerinduan untuk menebarkan rasa damai.

Apabila setiap anggota jamaah mampu membuat perencanaan yang baik dan tepat, serta ditindak-lanjuti melalui program jamaahnya, maka dalam waktu beberapa hari saja akan tampaklah bekas-bekas sujudnya. Yaitu, ketika jami'atul ikhwan sebagai lambang persaudaraan itu terwujud dan membawa manfaat kedamaian bagi umat semuanya. Partikel ini bagaikan pecahan sel-sel hidup yang menghidupkan, yang ditata dan dikelola dengan profesional yang terpadu serta kurikulum yang jelas. Niscaya jamaah ini akan mempunyai mujahid dakwah yang bergerak dinamis, yaitu menyeru dan menebarkan benih-benih kesejukan hati.

Panji-panji persaudaraan harus diangkat ke atas sebagai suatu pertanda atau simbol yang memberikan petunjuk bahwa di dalam masyarakat, di mana pun keberadaannya, ada satu kelompok manusia yang menawarkan jasa pelayanan, sebagai bala tentara persaudaraan yang akan memberikan harapan, kesejukan, dan kedamaian bagi umat manusia. Panji-panji ini bagaikan pisau bermata dua, dari segi intern membina anggota muslim untuk menjadikan dirinya manusia berprestasi yang berakhlak mulia melalui berbagai programnya yang ringan dan realistis. Sedangkan segi eksternnya, mereka menyeru bukan menghakimi. Ikatan persaudaraan yang berawal dari ucapan dan keyakinan terhadap dua kalimat syahadat harus menjadi dasar pijakan anggota jamaah. Perbedaan dalam metode dakwah, maupun tata cara yang berkaitan dengan khilafiah, bukan suatu alasan untuk memutuskan tali silaturahmi. Keyakinan ini harus melekat dan menghunjam di hati kita semua sebagai seorang muslim yang merindukan satu binaan umat yang padu.

Kita harus mahfum bahwa masyarakat itu selalu berkembang. Tingkat berpikir manusia selalu berkembang. Tingkat berpikir manusia selalu bervariasi. Dan pola perilakunya pun sangat ditentukan oleh intensitas rangsangan (stimulans) yang mempengaruhi dirinya. Maka kewajiban kita semua adalah berlomba untuk memenangkan rangsangan terhadap Al-Qur'an melawan rangsangan non-Al-Qur'an. Hal ini jelas membutuhkan waktu, kesabaran, keuletan, dan toleransi yang amat tinggi. Persaudaraan yang dilandasi roh tauhid, seharusnya lebih diutamakan daripada berbagai perbedaan yang ada di kalangan umat. Apalagi kalau perbedaan itu hanyalah dalam hal khilafiah, rasanya tidak pantas menjadi penyebab putusnya tali ukhuwah. Begitu pula perbedaan dalam hal metode dakwah, juga tidak boleh mengalahkan roh ukhuwah diantara sesama muslim yang bergerak maju untuk menjayakan al-Islam.

G. Ringankan Jangan Memberatkan
Dakwah dan panji persaudaraan yang diikat oleh tali iman akan menunjuk pada satu sikap iktidal (lurus) dikarenakan para jamaah muslim itu menghayati betul akan berbagai makna ayat di dalam Al-Qur'an maupun hadits yang mengajak umat manusia untuk berbuat segala sesuatunya termasuk ibadah dalam kondisi yang tu'maninah
ringan dan tidak berlebih-lebihan. Hal itu sebagaimana firman Allah SWT:

"... Allah menghendaki kemudahan bagi kamu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu...." (al-Baqarah: 185).

Apabila Allah sendiri menghendaki perbuatan amaliah yang akan meringankan hamba-Nya, apalagi kita sebagai manusia yang lemah ini, apakah tidak mau peduli dengan kerahmanan-Nya Allah? Hal itu sebagaimana hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas. Ia mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda:

"Jauhilah olehmu sikap melampaui batas dalam agama, sebab orang-orang sebelum kamu telah binasa karena sikap melampaui batas dalam agama." (HR Ahmad, an Nasa'i, Ibnu Majah, dan Hakim dengan sanad sahih).

Ketika Mu'adz memanjangkan bacaan shalat berjamaah, beliau pun bersabda kepadanya, "Hai Mu'adz, apakah engkau ingin menimbulkan fitnah?" Ucapan ini, beliau ulangi sampai tiga kali. Teguran Rasulullah tersebut terhadap Mu'adz memberikan penegasan kepada kita bahwa janganlah kita melaksanakan suatu syariat agama hanya sekadar mengikuti kata hati saja. Akan tetapi, hendaknya selalu ditimbang dengan kadar akal dan kemampuan dari para jama'ah atau kaum muslimin lainnya. Hal ini sebagaimana kebiasaan Rasulullah saw apabila diminta untuk memilih diantara dua pilihan, maka beliau memilih yang lebih ringan selama hal itu tidak mengandung dosa.

Walau demikian, hal ini tentunya tidak melarang seseorang yang karena ingin mencari keutamaan dalam pendekatan (taqarub) kepada Allah, lantas melatih diri dan mencari sesuatu yang lebih utama yang oleh kebanyakan manusia dirasakan berat. Karena hal itu justru merupakan suatu panggilan nurani dalam rangka mencanangkan pembersihan jiwa (tadzkiatun-nafs) melalui berbagai program melatih diri (riyadhah). Hanya saja janganlah amalan yang sifatnya khusus dipaksakan sebagai sesuatu yang bersifat umum, sehingga bisa menumbuhkan berbagai tafsiran seakan-akan agama ini terasa sangat berat bagi pemeluknya yaitu manusia pada umumnya.

Dr Yusuf Qardhawi seorang intelektual dari Mesir --dikenal si'bagai penerus dari kepeloporan Hasan al-Bana--menyebutkan, "Bahwa seorang juru dakwah yang bijaksana adalah yang dapat menyampaikan dakwahnya dengan sehalus-halus cara dan selunak-lunak kata, tanpa mengurangi sedikit pun dari kandungan maknanya kepada orang."

Sedangkan Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulummuddin menyebutkan, "Tidaklah seseorang layak ber-amar maruf nahi munkar, kecuali ia bersikap lemah lembut dalam menyuruh berbuat baik dan lebih lembut dalam mencegah kemungkaran, dan benar-benar memahami apa yang diperintahkan-Nya dan apa yang dilarang-Nya."

Suatu saat, seseorang mendatangi dan mendakwahi Sultan al-Makmun agar ia berbuat baik dan menghindari kemungkaran. Akan tetapi, cara yang disampaikannya terasa kasar dan jauh dari sikap kesejukkan. Kemudian al-Makmun yang dikenal oleh orang-orang karena pengetahuannya yang luas dalam agama, maka ia berkata kepadanya, "Wahai Saudaraku, bersikaplah lemah lembut dan santun. Sebab Allah SWT pun telah mengutus orang yang lebih baik darimu (Nabi Musa a.s.) kepada orang yang lebih jahat daripadaku (Fir'aun), dengan perintah-Nya agar bersikap lemah lembut. Diutus-Nya Musa dan Harun untuk menemui dan menegur Fir'aun, seorang yang lebih jahat daripadaku, seraya berpesan kepadanya kemudian al-Makmun membacakan kepadanya sebuah ayat:

"Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lembah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (Thaha: 43-44).

Dengan cara itu, lelaki yang mendakwahi al-Makmun tersebut terdiam. Dia sadar akan kata dan kalimat yang disampaikannya kepada al-Makmun sebagai suatu sikap yang tidak Islami.

Beberapa orang Yahudi pernah mengolok-olok Rasulullah, mereka menyampaikan salam kepada Rasulullah dengan ucapan, "As-samu'alaikum," (artinya, matilah engkau), sebagai ganti dari ucapan, "Assalamu'alaikum" (damai sejahtera untukmu). Kemudian Aisyah ra. marah dan membalas ucapan Yahudi itu dengan ucapan yang keras. Sedangkan, Rasulullah saw tidak mengucapkan apa pun kecuali sebuah ucapan pembalasan yaitu "wa'alaikum" (demikian pula atasmu). Setelah itu, beliau menegur Aisyah r a.. seraya bersabda:

"Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bersikap lemah-lembut dalam segala hal." (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain Rasulullah saw bersabda, "Siapa saja yang dijauhkan daripadanya sikap lemah lembut adalah orang yang dijauhkan daripadanya segala kebaikan." (HR Muslim).

H. Air Mata dan Amalnya
Malam hari menangis, siang hari bagaikan singa lapar yang "bolak balik" tidak mengenal lelah menundukkan dunia mencari fadilah yang disulut oleh sebuah tekad semangat yang ingin menjadikan dirinya penuh arti, bermanfaat, dan berprestasi. Para ikhwan gampang terenyuh melihat penderitaan kaum mukmin, sehingga kadang-kadang dirinya sendiri tidak begitu diperhatikan demi membela sesama saudaranya. Maka, dalam melatih diri (riyadhak) agar menjadi hati yang tumpah cintanya kepada Allah (mahabbah lillah), tampaklah tetesan air matanya yang mengenang di pelupuk matanya yang merefleksikan rasa cemas dan harap kepada Allah.

Sikap seperti inilal yang difiirmankan oleh Allah SWT: "Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu." (al-Isra': 109).

"Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis?" (an-Najm: 59-60).

Air mata yang bergulir dari kelopak mata dan membasahi kedua pipi para ikhwan, bukanlah suatu gambaran kecengengan, tetapi suatu sikap kelembutan hati dari suatu jihad. Karena bagi para ikhwan sikap yang keras itu tidak selamanya harus dinyatakan dengan cara yang keras. Bahkan sebaliknya, ada semacam moto bahwa pendiriannya tetap keras dan tangguh (istiqamah), tetapi cara mendakwahkannya adalah lemah-lembut menyejukkan.

Di dalam Sunnah Rasulullah saw, tetesan air mata pun mempunyai nilai ibadah yang sangat luhur, sebagaimana berbagai hadits sahih meriwayatkannya. Rasulullah saw bersabda:

"Andaikan kamu mengetahui sebagaimana yang aku ketahui, niscaya engkau akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis." Seketika itu pula para sahabat menutup muka masing-masing, dan menangis terisak-isak. (HR Bukhari dan Muslim).

Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, "Tidak akan pernah masuk ke dalam neraka, seorang yang pernah menangis karena takut kepada Allah. Dan tidak akan dapat berkumpul debu dalam jihad fisabilillah dengan asap neraka Jahanam." (HR at-Tirmidzi).

Bahkan, cobalah simak dan resapkan dengan sangat mendalam, lalu jadikanlah tujuh tipe manusia yang akan dilindungi Allah kelak di yaumul akhir ini sebagai kepribadian anggota Ikhwanul Muslimin semuanya; sebagaimana sabda Rasulullah saw pada riwayat berikut:

Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, "Ada tujuh macam orang yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya, pada hari di mana tidak ada naungan (hari kiamat) kecuali naungan Allah, yaitu:

1. Imam (pemimpin) yang adil,
2. pemuda yang tumbuh dan tetap taat beribadah kepada Allah,
3. orang yang hatinya terpaut di masjid,
4. dua orang yang saling mengasihi semata-mata karena Allah, baik ketika berjumpa maupun berpisah,
5. seorang laki-laki yang diajak berzina oleh wanita bangsawan yang cantik maka ia menolaknya dengan berkata, 'Aku takut kepada Allah.'
6. orang yang merahasiakan sedekahnya, sehingga tidak diketahui oleh tangan yang kiri terhadap yang diberikan oleh tangan yang kanan.
7. seorang yang berzikir dengan mengingat kepada Allah dengan seorang diri, kemudian bercucuran air matanya, dan menangis." (HR Bukhari dan Muslim).

Abdullah bin as-Sikhiri r a.. mendatangi Nabi saw, namun beliau dalam keadaan shalat, maka terdengar napas tangisnya, bagaikan suara air mendidih dalam bejana. (HR Abu Daud dan at Tirmidzi).

Ibnu Umar r a. mengatakan bahwa ketika Rasulullah saw. sakit keras dan beliau mengingatkan untuk shalat berjamaah. Lalu Nabi bersabda, "Suruhlah Abu Bakar menjadi imam." Lalu, Siti Aisyah ra. berkata, "Abu Bakar itu seorang yang lembut hatinya, jika membaca Al-Qur'an, ia tidak dapat menahan tangisnya." Nabi bersabda, "Suruhlah Abu Bakar menjadi imam." (al-Hadits).

Pada riwayat lain, Siti Aisyah ra berkata, "Abu Bakar jika berdiri di tempatmu, orang tidak akan mendengar suaranya karena tangisannya." (HR Bukhari dan Muslim).

Abu Utsman bin Ajlan Albahli r a. berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, 'Tiada suatu yang sangat disukai Allah dari dua tetesan dan dua bekas, tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang tumpah karena mempertahankan agama Allah. Adapun dua bekas ialah bekas dalam perjuangan fisabilillah dan bekas karena melaksanakan kewajiban Allah." (HR at Tirmidzi).

Hendaknya dengan hadits-hadits yang sahih tadi, kita semua dapat meniru dan meresapkannya, sehingga jiwa kita menjadi roh yang ringan karena selalu mampu melepaskan beban dunia, menyucikan diri dan membersihkan segala jelaga kepahitan hidup melalui linangan air mata. Setelah itu, setelah air mata tumpah dan rasa optimis membumbung, maka tegakkan kembali wajahmu. Pandanglah dunia yang menantang ini, kemudian kerahkan segala pikiran, otot tubuh untuk bersimbah keringat. Lalu tundukkanlah segala budaya durjana dan tegakkanlah prestasi gemilang sebagai suatu kewajiban kehidupan nyata yang Islami. Perasaan berdosa terus mengejar, apabila dalam hidup pribadi maupun berjamaah, ternyata kita tidak mampu mewujudkan apa yang dikonsepsikan oleh Al Qur'an. Oleh karena itu, kepada para ikhwan selalu dituntut sebuah jawaban dari pertanyaan yang sangat sederhana, "Mana bukti konkret dari amalmu, mana gerak nyata dari pernyataanmu, mana pula uluran tanganmu yang mampu mengangkat martabat umat?"

Rangkaian pertanyaan ini membutuhkan jawaban dalam bentuk amal yang nyata. Oleh sebab itu, tidak ada satu pun dari para ikhwan yang berbantah-bantahan, karena berselisih atau berbantahan dalam hal kebenaran yang nyata hanya akan melemahkan persatuan dan tertundanya amal yang nyata. Budaya "kami dengar dan aku taat" (sami'na wa atha'na), menjadi satu kepribadian para ikhwan, bukan karena bai'at kepada imam, tetapi karena panduan A1-Qur'an yang mewajibkannya.

Bisa menjadi suatu kelemahan yang sangat nista, apabila kita hanya menghafalkan ayat-ayat Al-Qur'an dan menyimak ratusan hadits. Akan tetapi, hafalan dan pengetahuan kita hanyalah sekadar penyedap retorika, pemanis bahan pidato, dan sekadar pelengkap referensi dalam diskusi belaka, sungguh merugilah mereka. Sikap "kami dengar dan aku taat" terhadap seluruh keputusan majelis dan komitmen jamaah harus merasuk pada dada semua ikhwan. Karena hanya dengan sistem seperti inilah, wujud kerja konkret dapat segera terlaksana. Insya Allah.

Dari berbagai penjelasan dan penegasan ayat dan hadits-hadits yang sahih tadi, maka muncullah pertanyaan yang ditujukan kepada para jami'atul ikhwan, yaitu sebagai berikut:

1. Pernahkah engkau melakukan timbangan atas amal baik dan amal buruk, melakukan penilaian mengevaluasikan dan mengadili dirimu sendiri (muhasbatun-nafs)?

2. Pernahkah engkau menangis karena menyesali dosa dan kesalahanmu? Padahal bukankah lebih baik kita menyesati dosa kita di dunia, daripada kelak kita menyesali setelah di akhirat? Maka, sesekali menangislah sebelum datang hari di mana engkau yang ditangisi.

3. Pernahkah engkau menangisi segala dosa dan kesalahan yang akan melahirkan optimisme dan ketegaran serta kelembutan jiwa.

Harus dihayati oleh pribadi muslim bahwa air mata --yang dimaksudkan dalam pembahasan ini-- bukan saja tetesan yang bergulir dari pelupuk mata kita karena perasaan dosa dan segaia hal yang bersifat melankolis Ilahiyah. Tetapi, air mata juga merupakan suatu perlambang perasaan empati atas penderitaan para dhuafa. Suatu refleksi jiwa yang tergetar melihat penderitaan, kepincangan, serta ketidakadilan.

I. Rumahtangga Muslim Adalah Benteng Pertama dan Utama
Menghadapi budaya Dajal yang semakin menampakkan bentuknya, dengan mencabut jiwa anak-anak muda dari kerinduan dan kecintaannya kepada Allah. Budaya Dajal menawarkan berbagai kenikmatan dunia, dan kita pun harus menghadapinya dengan pola pendidikan dan kebiasaan rumah tangga yang Islami (usrah Islamiyah).

Tayangan televisi menawarkan kehidupan hedonistik sekuler. Gerakan pemikiran bebas nilai (freethinking), okultisme sebagai ajaran mistik, tahayul yang menyesatkan, serta obat-obat setan yang ditebarkan di setiap kegiatan para anak-anak muda, merupakan bentuk yang sehari-hari sangat nyata kita saksikan.

Salah satu usaha preventifnya, tidak lain seluruh keluarga muslim harus mampu membentengi putra-putrinya dari godaan mereka. Yaitu, dengan cara menghidupkan rumah tangga sebagai masyarakat Islam, yaitu miniatur yang di dalamnya ditumbuhkan sunnah dan kebiasaan Islami.

Kebaikan suatu masyarakat sangat ditentukan oleh upaya para keluarga untuk membina dan menegakkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan keluarganya sendiri. Pada periode Rasulullah melaksanakan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi (sirriyah), sasaran dakwah yang pertama beliau lakukan adalah menuntun keluarga dan kerabatnya yang terdekat terlebih dahulu, untuk memenuhi perintah Allah. Hal itu sebagaimana firman-Nya:

"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah, 'Sesungguhnya, aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan'…" (asy-Syu'ara: 214-216).

Demikianlah metode awal dakwah Rasulullah yang disambut pertama kali oleh Khadijah binti Khuwalid yang beriman kepada Allah dan Rasulullah saw. Meyakini, membenarkan, bahkan membela dakwah Rasul dengan mengorbankan seluruh hartanya. Seruan dakwah kepada kerabatnya disambut oleh Ali bin Abi Thalib yang merupakan laki-laki pertama yang menerima seruan Rasulullah untuk memeluk Islam.

Walaupun di zaman sekarang sasaran dakwah yang ditujukan kepada keluarga kadang-kadang lebih sulit dibandingkan dengan seruan kepada orang lain, tetapi para anggota jamaah tidak pernah patah hati. Dia sadar bahwa berbagai faktor psikologis yang berkaitan dengan keluarga dan kerabat terdekat, justru lebih besar tantangannya. Mereka tidak patah hati dengan tantangan keluarganya. Karena hal ini pun sudah menjadi suratan sejarah. Sebagaimana Nabi Nuh as. yang tidak mampu menolong anaknya, ummat Nabi Luth a.s. yang membangkang, bahkan paman Rasul sendiri tidak mampu mendapatkan hidayah dari Allah. Apalagi untuk kualitas manusia seperti kita, apakah karena tantangan keluarga atau ketidak-berhasilan membina keluarga menyebabkan kita surut dari dakwah?

Maka di tengah-tengah badai tantangan dan akhlak para keluarga sendiri yang bisa jadi sangat bertentangan atau jauh dari Sunnah, para anggota jamaah akan tetap tegar menampilkan sosok dirinya sebagai mujahid. Mereka sadar bahwa pendidikan dan keteladanan orangtua, serta rasa hormat dan sikap berdisiplin dalam beragama sejak kanak-kanak --sebagai pewaris tauhid-- akan sangat jelas mewarnai seluruh perilaku anggota rumah-tangga tersebut. Sehingga, tidak ada alasan baginya untuk memalingkan muka dari tanggung-jawabnya sampai pada batas-batas tertentu, sesuai dengan kemampuannya masing masing.

Hidup yang penuh dengan segala tantangan materiil, godaan kenikmatan sekularisme, serta budaya hedonisme, ternyata tidak saja didapatkan di luar pekarangan rumah, sekolah, atau budaya masyarakatnya, tetapi rangsangan itu telah pula memasuki sudut kehidupan yang sangat pribadi yaitu rumah. Kalau bukan karena pendidikan dan keteladanan yang istiqamah, niscaya rumah pun akan membusuk sebagai "tempat sampah duniawi" yang rakus. Laser disc, video tape, bahkan program televisi atau film yang jarang sekali, bahkan sama sekali tidak pernah sedikit pun memikirkan akhlak, tidak pelak lagi akan menggoda anggota masyarakat kita yang terkecil ini, yaitu rumah tangga.

Membina rumah tangga muslim (binaa al-usrah al-muslimin), jelas bukan pekerjaan yang gampang. Apalagi kita sadari bahwa betapa pun hebatnya keteladanan orang tua, mereka tidak sepenuhnya dapat diawasi dua puluh empat jam oleh mata orang tuanya yang sangat terbatas, dan didera oleh kesibukan hidup yang padat. Hampir separo dari gerak dan wahana pikiran anak-anak kita menjadi objek dari budaya di luar rumah dengan segala konsekuensinya. Bacaan, pergaulan, peran guru, pengaruh teman, dan sahabat di sekolah atau klub permainan, semuanya kadang-kadang bagi anak-anak kita dianggap sebagai sesuatu yang membingungkan, terjadi satu benturan nilai.

Antara sesuatu yang ideal (das sollen) dan kenyataan (das sein). Seakan antara teori dan praktek berbenturan, bahkan bertolak-belakang secara diametral antagonistik. Untuk menjadi anak yang Islami, rasanya dia harus terisolasi dari tatanan pergaulan. Untuk menjadi mahasiswa yang Islami, dia akan berhadapan dengan segala perangkat birokrat yang kadang-kadang bertentangan dengan hati nurani. Banyak lagi persoalan yang sangat kompleks dalam sebuah garis nilai yang seakan-akan saling berlawanan. Tetapi, bagi keluarga anggota jami'atul muslimin, kenyataan ini tidaklah membuat dirinya surut. Mereka sadar bahwa untuk menggapai surga dan janji kenikmatan yang abadi, bukanlah sebuah permainan tanpa perjuangan. Segala konsekuensi telah dia perhitungkan. Segala risiko sudah dia kalkulasi, sekali tauhid tetap tauhid, sekali menata keluarga Islami tidak pantang surut untuk berkompromi dengan budaya jahiliah. Semangat ini yang harus ditanamkan terlebih dahulu kepada seluruh anggota keluarga muslim. Bahwa dia mempunyai jati diri, serta mempunyai sesuatu yang memang berbeda dengan kaum jahiliah.

Semangat dan kekuatan batin para anggota keluarga jamaah merupakan "filter'' atau alat penyaring utama keluarga jamaah yang harus ditanamkan kepada seluruh anggota keluarga jamaah. Mereka harus bangga bahwa mereka bukan tipe manusia yang gampang larut karena kebiasaan pergaulan. Mereka tidak merasa terpelanting, dari pergaulan, manakala pergaulan yang ditawarkannya justru bertentangan dengan keyakinannya. Setiap perbedaan bagi para anggota keluarga jamaah dianggapnya sebagai sasaran dakwah. Tidak mungkin dia dipengaruhi ajaran jahiliah, karena justru dirinya harus tampil ke depan mempengaruhi mereka dengan ajaran keselamatan yang akan meluhurkan martabat manusia yang tidak lain adalah al-Islam.

J. Membiasakan Diri
Karena dahsyatnya tantangan di luar lingkungan jami'atul muslimin ini, maka prinsip jamaah mengajarkan kepada seluruh anggotanya agar mereka melatih dan selalu membiasakan diri dalam kebaikan melalui amal-amal jamaah. Misalnya, shalat berjamaah dengan seluruh anggota keluarganya merupakan salah satu ciri amalannya. Makan berjamaah yang diawali dengan doa, dan diakhiri pula dengan saling mendoakan. Sungguh itu adalah suatu kemesraan keluarga yang harus menjadi ciri dan citra keluarga muslim (usrah Islamiyah).

Membiasakan diri mengajak anggota keluarga melakukan perjalanan silaturahmi kepada para kerabat, maupun keluarga sesama jamaah adalah merupakan satu program pembinaan keluarga muslim. Keluarga muslim tidak dibentuk menjadi manusia yang ekstrem atau eksklusif tetapi dilatih dan diajarkan untuk pandai memilih dalam tata pergaulan tanpa memberikan bekas kebencian.

Kalau orang kebanyakan melakukan piknik, mereka pun bisa melakukannya, karena hal itu adalah fitrah manusia. Hanya saja keluarga muslim harus pandai memilih dan merencanakan jenis piknik (rihlah) tersebut, yang jusrtu akan menambah perekat tali kekeluargaannya. Dengan cara ini, mereka dilatih untuk hidup fungsional, tepat guna dan tidak terjebak pada kemubaziran apalagi mempertontonkan kemewahan. Hidup sebagai muslim adalah hidup yang mempunyai program dan arah yang jelas, karena mereka adalah tipe manusia yang dilahirkan sebagai makhluk yang memiliki jati diri, visi, dan misi llahiah, sebagaimana termaktub pada surat at-Taubah:33, al-Fath:28, dan al-Haqqah: 9.

Beberapa kebiasaan yang sangat dominan dilakukan oleh anggota keluarga jamaah diantaranya sebagai berikut:

1. Selalu melaksanakan ibadah berjamaah. Bahkan, salah satu tanda- tanda atau ciri ibadah jamaah adalah mereka yang selalu merindukan shalat berjamaah. Begitu haus dan rindunya mereka akan shalat jamaah maka dia tidak segan-segan mengajak, atau menantikan orang lain agar mereka bisa shalat berjamaah. Apalagi rumah mereka dekat dengan masjid maka secara berombongan, mereka bagaikan lebah menuju sangkar madunya, mereka bergerak menuju masjid terdekat

2. Selalu ada waktu khusus untuk sarana pembinaan dan pengarahan bagi anggota keluarganya. Dalam pertemuan, orang tua memberikan arahan, sekaligus melakukan dialog dengan seluruh anggota keluarganya.

3. Para anggota keluarga dibiasakan untuk melakukan silaturahmi, dan saling mengenal diantara para ikhwan sesama anggota jamaah agar misi perjuangan serta tali persaudaraan dan kekerabatan tidak terputus, tetapi akan dilanjutkan oleh para putra-putrinya sebagai generasi Qur'ani yang akan meneruskan amanat al-Islam.

4. Bersama anggota keluarga ikut aktif melakukan perjalanan dakwah dengan sesama anggota jamaah (rihlah jama'iyah), sehingga bukan saja selalu terjalin hubungan (ittishal), tetapi juga akan mampu menumbuhkan ukhuwah yang lebih mendalam dalam menghayati semangat dan cita-cita jamaahnya.

5. Dengan menanamkan kebiasaan ini diantara sesama anggota keluarga sendiri maupun bersama dengan keluarga anggota jamaah lain, maka secara tidak sadar tumbuhlah pembinaan terhadap masyarakat muslim (bina'al-mujtama'al muslim) yang secara spesifik memberikan kesejukan bagi sekitarnya melalui dakwah amaliah yang simpatik.

Kalau saja para anggota jami'atul muslimin melakukannya dengan konsekuen dan tetap dipimpin oleh niat dan semangat menjayakan agama dan umatnya, maka persatuan umat yang kita rindukan akan segera terwujud. Insya Allah.




Bab V Dakwah Persaudaraan (1)
"Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu
untuk , menjadi saksi pembawa kabar
gembira, dan pemberi peringatan. Dan untuk
menjadi penyeru kepada agama Allah dengan
izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang
menerangi." (al-Ahzab: 45).



Menghadapi gerakan konspirasi Dajal yang bersifat global hanya dapat dilawan dengan kerinduan dan upaya kontinu kepada persatuan dan persaudaraan Islam yang sebenarnya. Dalam sebuah barisan yang kokoh bagaikan benteng yang kuat, umat Islam harus mampu menghimpun diri dan mewaspadai seluruh "jarum-jarum racun" serta "ranjau budaya" yang begitu halus menyelusup di setiap pori-pori tubuh manusia yang ditebarkan kaum Dajal. Mereka tidak hanya menyebarkan ideologi pemikiran bebas dan membongkar keimanan umat Islam dengan segala perangkatnya, tetapi mereka juga mengadu-domba dan memecah-belah diantara sesama kaum Muslimin melalui penyebaran fitnah.

Jaringan zionisme Dajal yang akan memecah-belah kesatuan dan persatuan umat harus dilawan dengan dakwah persaudaraan, yaitu seruan dan ajakan yang ditujukan kepada sesama Muslim dalam rangka menumbuhkan semangat persaudaraan sebagai salah satu tali perekat persatuan umat.

Dalam program ini, gerakan dakwah harus memprioritaskan pencerahan keilmuan, kecintaan terhadap agama, akhlak karimah, serta semangat ksatria (futuwah) atas dasar persaudaraan. Dengan kata lain, program dakwah yang disusun oleh jamaah sebaiknya berorientasikan pada satu tahapan (marhalah) yang sistematis untuk mewujudkan kualitas sumber daya insani yang mampu menghadapi racun-racun Dajal yang akan meracuni mentalitas, akhlak, serta arah perilaku generasi muda yang semakin dijauhkannya dari semangat jihad, dan cara berpikir berdasarkan Al-Qur'an.

Gerakan dakwah yang dikoordinasikan oleh satu lembaga koordinasikan dakwah Islamiyah atau lembaga yang kredibel harus diupayakan dengan sangat sungguh-sungguh, karena inilah kunci keberhasilan melawan kaum Dajal zionis yang sangat kompak dan menguasai hampir setiap pelosok kehidupan.

Dakwah persaudaraan yang bersifat universal (rahmatan lil-alamin) harus mampu bersaing dengan propaganda Dajal. Dengan dakwah juga diupayakan merebut simpati semua golongan dalam tubuh umat Islam dan umat lainnya dalam rangka membangun citra dunia Dakwah yang memikat dan mengikat dalam satu pandangan yang utuh dan sempurna (syamil kamil) diupayakan agar jalan menuju pada persatuan umat menjadi lebih terbentang di hadapan kita. Setidak-tidaknya, dalam suasana penuh persaudaraan dan tidak teganggu oleh konflik-konflik diantara sesama saudara maka akan melahirkan suasana kondusif, sehingga melahirkan berbagai gagasan monumental sebagai warisan pencapaian keilmuan dan budaya bagi generasi yang akan datang. Sekaligus dapat membina kualitas umat agar mampu bersaing dengan umat yang lainnya.

Untuk itu, strategi dakwah persaudaraan jamaah harus menekankan kepada kerangka acuan yang mendasar dalam gerakannya, yaitu sebagai berikut:

1. Perbedaan paham diantara sesama muslim tidak menjadikan hambatan bagi dirinya untuk menyambung tali persaudaraan. Mereka sadar pada akhirnya hanya Allah jualah yang akan menentukan kata akhir dari perjalanan hidupnya. Mereka akan berbicara tentang hal-hal yang sama diantara sesama muslim. Cita-cita yang sama, gerakan atau program-program amaliah yang sama, dan berusaha terus untuk memperlebar kesamaan diantara mereka, serta tetap saling menghargai hal-hal operasional, yang secara prinsip tidak membedakan dirinya dengan yang lain. Kita semua telah terikat oleh satu semangat yang terus berkembang menuju pada pemahaman tauhid yang sama.

2. Ciri khas dari gerakan dakwah Islamiyah adalah perasaan cinta dan rasa tanggung jawab yang besar terhadap kemaslahatan umat Dia menyeru, mengimbau, melakukan persuasi, dan bukan menghakimi, menuding, mencaci-maki, apalagi memutuskan tali silaturahmi. Mereka sadar bahwa dakwah berdasarkan cinta telah mendorongnya untuk mendatangi dan menyelamatkan. Sebaliknya, dakwah yang disulut oleh rasa benci akan menjauhkan dirinya. dari objek dakwah dan membiarkan manusia berenang dalam kesesatan. Mereka sadar bahwa dirinya bukan panglima perang yang didoktrin dengan propaganda kebencian untuk melemahkan mental musuh agar mudahlah baginya membunuh lawan sebanyak-banyaknya untuk memenangkan pertempuran. Dirinya adalah mujahid dakwah yang bertugas untuk menundukkan paham, sikap, dan pandangan orang lain agar menjadi kawan, bahkan sahabat yang akan memperkuat barisan jamaahnya.

3. Rasa persaudaraannya yang sangat mendalam telah mendorong dirinya untuk ikut mempelajari segala hal yang ada dalam lingkungan budayanya. Sehingga, menjadikan dirinya sebagai sumber ilmu yang luas pandangannya dan karenanya tidak cepat terburu nafsu menjatuhkan vonis. Dia mengetahui di mana dan kapan harus berbicara dan mengambil keputusan. Hanya dengan kekuatan akhlak, ilmu, dan pandangan yang luas, kita akan mampu menggerakkan program dakwah. Sebaliknya, keringnya keilmuan dan sempitnya wawasan, akan mendorong kita mengambil keputusan atau memecahkan berbagai persoalan secara sepihak. Maka setiap anggota jamaah adalah tipikal manusia yang selalu haus dalam mereguk tinta keilmuan, menapaki seluruh pelosok kehidupan, dan membaur di dalam masyarakatnya. Mereka jbukanlah manusia yang mengisolasi diri, membuat hijab, seakan-akan dirinyalah yang paling benar, seraya menafikan atau mencemoohkan golongan yang lain.

Dengan semangat persaudaraan, bergeraklah kita untuk menjalin tali ukhuwah yang konkret dan membekas. Mewujudkan seluruh ayat dan hadits tentang tema-tema persaudaraan, tentang perasaan empati yang diungkapkan lewat makna "bersatunya raga". Membuka rasa tanggung jawab dan rasa cinta, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

"Tidaklah (sempurna) iman seseorang diantaramu sehingga ia mencintai saudaranya (sesama muslim), sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri." (HR Bukhari dan Muslim).

Lalu hal itu dilanjutkan dengan perasaan bahwa ada satu beban untuk terus mewujudkan satu program konkret dan membekas dalam diri jamaah muslim, yaitu makna dari ayat yang menjadi acuan kita bersama yaitu, "Sesungguhnya orang orang mukmin adalah bersaudara…" (al-Hujurat:10).

Perasaan ini menyebabkan para anggota jami'atul ikhwan dalam setiap gerakan dakwahnya, menghindari diri dari sikap menjatuhkan vonis, apalagi mengafirkan sesama muslim. Rasulullah saw memberikan peringatan yang sangat keras, seraya bersabda:

"Barangsiapa berkata kepada saudaranya, 'Hai kafir', maka berlakulah perkataan itu pada salah seorang dari keduanya." (al-Hadits).

Dalam hadits yang lain beliau bersabda, "Barangsiapa mengucapkan laailaha illallah, maka ia telah masuk Islam serta terpelihara jiwa dan hartanya. Kalaupun ia mengucapkan kalimat itu karena takut atau hendak berlindung dari tajamnya pedang, maka perhitungannya kepada Allah. Sedangkan bagi kita cukuplah dengan yang lahir (nyata)." (al-Hadits).

Bagi kita, cukuplah seseorang menjadi muslim dari apa yang tampak di permukaannya dan kewajiban kita adalah bersama-sama memberikan pencerahan dan jalan terang untuk membangun kualitas iman, akhlak, dan amaliahnya, sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh syariat. Karena itu pula, Nabi mengecam Usamah, ketika dia membunuh seseorang dalam suatu pertempuran, padahal orang yang dibunuh itu telah mengucapkan syahadat. Beliau bertanya, "Engkau membunuhnya, setelah ia mengucapkan lailaha illallah?" Usamah menjawab, "Ia hanya mengucapkan kalimat itu karena hendak berlindung dari pukulan pedang." Maka beliau pun bertanya kembali, "Mengapa tidak engkau belah dadanya?" Kemudian Usamah berujar terus-menerus bahwa Nabi tidak putus-putusnya mengucapkannya sehingga aku sangat ingin seandainya baru hari itu aku menjadi seorang muslim." (al Hadits)

Tidak pelak lagi, persaudaraan adalah kuncinya persatuan, bahkan merupakan roh yang menghidupkan di dalam denyutan jantung kehidupan jamaah. Haru biru umat Islam, cerai-berai, dan terpuruk dalam kenelangsaan perpecahan yang hampir-hampir membuat konflik diantara sesama umat, dikarenakan roh persaudaraan hanyalah menjadi pemanis bibir belaka. Indah dalam pernyataan, tetapi hampa dalam kenyataan. Ini semua dikarenakan kita semua hampir menjadikan ayat dan hadits hanya sekadar barisan huruf dan kalimat untuk konsumsi hafalan verbal, pelengkap skripsi, dan bumbu penyedap dalam pidato semata-mata.

Membina masyarakat muslim, di mana siar dan keteladanan kolektif (uswah jama') harus tumbuh dari dasar kehidupan masyarakat yang dewasa ini telah terkotak-kotak, karena pengaruh budaya antar bangsa sebagaimana kita pun tidak bisa mengisolasi diri dari pengaruh era globalisasi dan kemajuan teknologi yang tidak bisa dihindarkan oleh siapa pun makhluk manusia di muka bumi ini. Kehidupan kita adalah kehidupan yang penuh dengan segala informasi dan stimulasi yang diekspos melalui berbagai media elektronik yang setiap hari dirasakan bertambah maju. Antisipasi masyarakat atas pengaruh ini, tentu saja beragam dan penuh dengan goncangan.

Keagungan dan kesucian dakwah yang dibawakan oleh Rasulullah, ternyata mampu melahirkan satu generasi manusia, yaitu generasi para sahabat suatu generasi yang mempunyai ciri tersendiri dalam sejarah Islam dan dalam seluruh sejarah umat manusia. Kita mengenal berbagai tokoh dalam sejarah, tetapi sedikit sekali kisah dan keteladanan sejarah, sebagaimana dicontohkan oleh para pelopor dan para sahabat dalam kehidupan. Kenyataan ini harus menjadi pemikiran kita bersama, sebagai bahan renungan yang tajam dan saksama.

Ini Al-Qur'an, hadits, dan petuah serta tulisan para ulama berada di rak buku kita semua. Bertumpuk di perpustakaan dan dijajakan di toko-toko buku, tetapi mengapa generasi itu tidak terlahir kembali? Apakah karena kita berasumsi, generasi itu terlahir oleh karena ada Rasulullah. Kalau asumsi ini dijadikan pegangan, lantas apakah Al-Qur'an itu hanya sebatas waktu dan tempat, serta karena adanya Rasulullah sebagai tokoh utama atau figur sentral? Lantas di manakah keyakinan kita bahwa Al-Qur'an itu dapat berlaku sepanjang zaman?

Ketahuilah, sebenarnya bukanlah tokoh, waktu, dan tempat yang menjadikan kendala lahirnya generasi ini. Tetapi, kenyataannya justru sebaliknya bahwa sudah lama diantara kita tidak lagi bersikap konsekuen meniru perilaku dan gaya hidup serta metode Rasulullah. Padahal, ketika Siti Aisyah r.a. ditanya seperti apakah akhlak Rasulullah, ia menjawab, "Akhlak yang berdasarkan Al-Qur'an," (khuluquhul-Qur'an). Ini menandakan bahwa A1-Qur'an telah merasuk dan menjadi butir darah rasul dan diterima tanpa keraguan sedikit pun oleh para sahabat dengan penuh gairah dan kepatuhan yang mengagumkan. Mereka bersihkan jiwanya dengan Al-Qur'an. Mereka meluruskan shaf dan barisan masyarakatnya dengan Al-Qur'an. Hanya dengan Al-Qur'an, mereka merasakan hidupnya punya arti. Dalam kondisi apa pun hatinya tidak pernah kosong dari butiran Al-Qur'an. Inilah kunci rahasianya. Apalagi pada zaman sekarang ini sedang terjadi "pertempuran ideologi" manusia melawan akidah, yaitu perang antara keyakinan iman yang dipertentangkan dengan alam pikir empiris.

Hari ini dan di masa yang akan datang, perang berkecamuk bukan dengan senjata konvensional. Tetapi, perang hanyalah merupakan akibat saja dari pertarungan iman melawan keserakahan. Konflik abadi antara partai Allah (Hizbullah) yang berhadapan dengan pasukan kafir setan, yang tampil dan bersembunyi di balik jubah kesombongan serba materil. Seharusnya, kita menyimak kembali sejarah, ketika para sahabat atau rombongan pelopor awal (assabiqunal-awalun), yaitu pada saat mereka masuk dan memeluk Islam, mereka meninggalkan seluruh masa lalunya. Pada waktu mereka memeluk Islam, rriereka merasakan ada kehidupan baru dalam dirinya. Dia campakkan masa silamnya yang kotor, sehingga dirinya benar-benar merasa lahir kembali, pada saat mereka menghayati ikrar dua kalimat syahadat.

Kesadaran diri memeluk Islam membawa satu amanat bahwa mereka harus segera membuat garis yang tegas (al-furqan) antara yang hak dan yang batil. Memberanguskan perilaku jahiliah mereka yang lalu dan beralih menuju pada satu harapan manusia Qurani dengan berupaya untuk menjadikan seluruh ajaran Islam sebagai pedoman hidup (minhajud-hayat) secara total.

Setiap pribadi muslim harus menghayati amanat dakwah ini. Seruan suci ini adalah kewajiban setiap pribadi muslim yang melekat pada identitas dirinya. Amanat dakwah adalah tugas dan harga diri seorang muslim. Sebab tanpa misi ini, hal itu akan menjadi sia-sia nilai keislaman dirinya di hadapan Allah. Sudah saatnya, kita semua mengisi qalbu dengan satu keyakinan bahwa Islam akan tegak dan menampakkan cahayanya, selama umat Islam peduli atas misi dakwah. Seharusnya, setiap pribadi muslim menyadari bahwa salah satu harga dirinya sangat bergantung pada prinsip untuk menyebarkan dakwah ini (an-nasyrul mabaadid-dakwah).

Bentuk perjuangan paling awal yang dilakukan oleh para nabi, khususnya Rasulullah saw, adalah perjuangan menyeru manusia untuk hanya memperhambakan dirinya kepada Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah, "Hai orang yang berkemul (berselimut) bangunlah, lalu berilah peringatan dan Tuhanmu agungkanlah.." (al-Muddatstsir: 1-3).

Perintah Allah tersebut membahana di seluruh relung dada Rasul, menyeruak dan membangkitkan satu kekuatan yang mahadahsyat untuk segera melaksanakan amanat dakwah. Pribadinya telah larut dalam tali kebenaran, batinnya luluh dalam harapan, dan mata batinnya benderang untuk mencari sasaran, dan kemudian menaburkan benih benih kasih sayang yang penuh dengan butir hikmah.

Kemudian diberitahulah perintah itu kepada istri Rasul bahwa beliau telah mendapatkan satu amanat yang mahaakbar Didatanginya sahabat sejak kecilnya, Abu Bakar ash-Shiddiq r a dan diusapnya kepala Ali bin Abu Thalib r a.. Dibinanya satu harakah pergerakan dakwah dari rumah ke rumah, yang dijadikannya sebagai "basis dakwah" paling awal untuk memupuk lezatnya tauhid dan tali persaudaraan dalam jamaah. Hal itu merupakan awal dari gerakan siar Islam yang sangat monumental.

Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah saw, "Islam pada awal perkenalannya dianggap asing, dan kelak akan datang suatu masa di mana Islam akan dianggap asing kembali, maka berbahagialah wahai orang-orang asing, yaitu mereka yang selalu menghidupkan Sunnahku…"

Kita sadar bahwa dakwah adalah Sunnah Rasul. Kita takut akan mengkhianati amanat Nya dan Rasul-Nya, di mana kita tidak bisa berpangku tangan membiarkan kemungkaran. Demikian pula, kita sadar bahwa sebagai umat Islam tidak mungkin menutup diri atau acuh berpangku tangan dengan problem umatnya sendiri. Maka seorang muslim adalah orang yang bahagia, karena di dalam kiprahnya ia mengupayakan untuk menegakkan Sunnah Rasulullah.

Akan tetapi; manakah tantangan yang lebih berat bila dibandingkan dengan para pelopor awal (assabquunal-awalun) ? Manakah yang paling menderita bila dibandingkan dengan para pengikut Rasul yang diboikot, diisolasi, bahkan disiksa di luar batas kemanusiaan? Manakah yang paling pahit, bila dibandingkan dengan dakwahnya pengikut Rasul yang compang-camping karena terusir dari kampung halamannya? Lantas, alasan apalagi bagi seorang muslim untuk menutup mata dan hidup dengan gaya penuh egoisme, seraya tidak peduli akan amanat dakwah? Lantas, hati dan iman yang mana lagi yang akan engkau pakai apabila persaudaraan sudah engkau putuskan?

Maka, ketahuilah wahai saudaraku para ikhwan, salah satu ciri khas kepribadian muslim adalah kentalnya rasa persaudaraan diantara sesama penegak syahadat. Yaitu, persaudaraan yang telah merobek segala fanatisme berlebihan (hisab ta'asub), nasionalisme yang berlebihan (chauvinisme ashabiyah), serta kebanggaan kelompok. Persaudaraan adalah rohnya Islam. Tanpa persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar, sehingga kaum Anshar rela membagi hartanya, rela membagi kebahagiaannya tanpa meminta imbalan, hanya semata-mata roh tauhid yang mencengkeram dadanya.

A. Perbedaan Metode Dakwah
Seringkali kita tercengang oleh lahirnya berbagai harakah dakwah. Dan, tidak jarang rasa heran ini kemudian melembaga dalam sanubari kita menjadi satu rasa khawatir yang berlebih-lebihan, seakan-akan lahirnya gerakan-gerakan dakwah menunjukkan terjadinya pengelompokan (firqah) dalam tatanan perjuangan yang menjunjung Islam dan kaum muslimin (izzul Islam wal-muslimin). Di hampir pelosok dunia, di mana ada kehidupan kaum muslimin, pastilah akan selalu tumbuh lembaga atau organisasi dakwah. Hal ini dikarenakan perintah Allah:

"Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung." (Ali Imran:104).

Lafal ummatun pada ayat tersebut menunjukkan jumlah yang banyak. Karena itu pula memberikan peluang kepada berbagai harakah dakwah yang beragam metodenya. Lagi pula kalau diperhatikan secara saksama, sighat jamak yang dipakai pada kata ummatun tersebut menunjukkan adanya kebolehan untuk terbentuknya berbagai organisasi atau harakah dakwah di dalam masyarakat Islam. Dengan demikian, lahirnya berbagai harakah dakwah janganlah ditafsirkan sebagai indikasi adanya perpecahan di dalam umat Islam. Akan tetapi, dengan kaca mata berpikir positif (husnuzhan), kita harus memperkaya khasanah dakwah Islamiyah. Selama harakah dakwah itu mempunyai cita-cita untuk menjayakan umat, memperbaiki akhlak dan tetap dalam satu struktur keislaman secara menyeluruh. Justru, inilah yang bisa kita tangkap pengertiannya sebagai suatu rahmat dalam pengertian pemerkayaan berpikir dalam tubuh umat Islam secara mondial (mendunia).

Orang yang menghakimi atau mengambil suatu kesimpulan bahwa dengan beragamnya gerakan dakwah tersebut adalah lahirnya firqah-firqah. Saya kira dikarenakan mereka dibayangi oleh obsesi persatuan umat manusia yang berlebih-lebihan, seakan-akan ingin umat manusia atau umat Islam pada khususnya bersatu dalam satu wadah harakah, bersatu dalam satu ummatan wahidah. Sebaliknya, harus kita pahami secara lebih bijaksana bahwa fenomena antropologis, sosiologis, dan kultural masyarakat yang beragam, membawa konsekuensi metode dakwah yang beragam pula. Bukankah Rasulullah sendiri telah bersabda, "Sampaikanlah dakwah ini sesuai dengan kadar akal mereka." (al-Hadits).

Hadits tersebut memperkuat satu pemikiran bahwa umat manusia ini beragam dan kerangka serta kadar akalnya berbeda satu sama lain. Konsekuensinya akan melahirkan harakah dakwah yang beragam pula.

Dengan demikian, munculnya berbagai harakah dakwah dengan memakai nama yang beragam pula, tidak serta-merta ditafsirkan sebagai firqah atau perpecahan dalam tubuh umat Islam. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:

"Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka..." (Hud: 118-119).

"Dan jika Tuhanmu menghendaki; tentulah beriman semua orang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka beriman semuanya?" (Yunus: 99).

Dengan firman tersebut, sadarlah bahwa tidak pernah kita akan menemukan satu masyarakat yang benar-benar mutlak bersatu secara "tatanan besar", tanpa di dalamnya ada perbedaan perbedaan. Kita harus menyadari bentang sejarah perkembangan dakwah Islamiyah bahwa sejak zaman Nabi sampai pada para sahabat Khulafa ar-Rasyidin, perbedaan itu selalu kita temukan dalam kuantitas dan kualitasnya sendiri-sendiri yang unik menurut zamannya. Moto "berbeda-beda namun tetap satu" (unity in diversity, e. pluribus unum, bhineka tunggal ika) seharusnya menjadi aspirasi bagi jamaah muslimin. Walaupun kita memiliki perbedaan-perbedaan kerangka metode atau fikih, tetapi seharusnya kita tetap bersatu dalam satu tatanan besar, yaitu akidah Islamiyah.

Dengan cara berpikir ini, kewajiban para anggota jamaah itu harus selalu berupaya untuk memperlebar jaringan silaturahmi, dan memperkuat tali persaudaraan diantara anggota harakah dakwah. Membuang fanatisme buta atau rasa kebanggaan (ashabiyah) yang bertentangan dengan semangat persaudaraan dan mengikis habis kilasan perasaan, seakan-akan kelompoknyalah yang terbaik atau organisasinyalah yang paling benar. Sikap sempit seperti ini, justru akan membuat tali persaudaraan diantara sesama pejuang dakwah bertambah jauh. Sehingga, mereka akan bekerja secara sporadis parsial (setengah-setengah). Total harus dijadikan satu kerangka berpikir seluruh harakah yang mengabdikan dirinya dalam lapangan perjuangan dakwah. Mereka menghindari berbantahan dalam hal metode, atau perbedaan taktis, karena hal tersebut akan memperlemah kekuatan atau potensi umat. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:

"... janganlah kamu berbantah-bantahan selisih yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu...." (al-Anfal: 46)

Salah satu kelemahan kita saat ini, justru kita sering berbantahan dalam hal-hal yang berkaitan dengan khilafiah atau kerangka penafsiran syariat. Kemudian perbedaan ini merembes ke dalam hati sanubari umat dalam bentuk pemasangan "barikade" untuk mengulurkan tali ukhuwah. Bentuk inilah yang diisyaratkan oleh Allah sebagai suatu sikap yang akan memperlemah kekuatan umat Islam di hadapan musuh-musuhnya. Kebanggaan kultural atau kebangsaan seringkali membuahkan pula silang sengketa, karena rasa nasionalisme, etnik lebih dominan dibandingkan dengan rasa keislamannya. Maka setiap anggota jamaah yang berhimpun dalam harakah dakwah, apa pun nama gerakannya, harus mempunyai sikap toleran yang sangat tinggi terhadap sesama saudaranya yang lain. Toh, mereka masih melaksanakan shalat, masih menghadap ke kiblat, dan masih melafalkan dua kalimat syahadat

Pokoknya, siapa pun yang telah bersyahadat, dia adalah saudara kita. Kalau ada diantara Anda membantah, "Ya, dia mengaku Islam, tetapi perilakunya justru bertentangan dengan Islam." Maka untuk Anda yang mempunyai pendapat kecintaan yang besar pada Islam --tentang ini, kami mengimbau bahwa tugas Andalah untuk mengislamkan teman Anda yang telah bersyahadat itu. Kita tidak bisa mengafirkan atau menghakimi saudara kita yang telah bersyahadat, sebagai kafir atau munafik, kecuali dengan sangat nyata mereka telah ingkar dari keislamannya. Kita harus memahami dan menyatakan syukur kepada Ilahi Rabbi bahwa ada saudara kita yang telah bersyahadat. Karena hal itu merupakan suatu aset Ilahiah yang harus kita kelola bersama. Kalau kita berlaku kasar, niscaya mereka akan lari dari tatanan Islam, dan akhirnya menambah persoalan yang baru.

Cobalah kita tafakur dengan sangat mendalam, apakah mungkin kita harus terkotak- kotak dan berpisah? Padahal Nabi kita sama, Kitab Suci kita sama, Kiblat kita pun sama, bahkan Tuhan serta syahadat kita merupakan dasar kesamaan yang paling hakiki. Berbagai perbedaan metode dakwah ataupun perbedaan paham dalam kaitan ibadah yang bersifat furu'iyah, tidak harus memisahkan persaudaraan diantara kita, apalagi saling mengafirkan satu dengan lainnya, merasa diri yang paling sunnah atau yang paling surga.

Ketahuilah bahwa perbedaan paham dalam bidang ibadah pun telah terjadi selama masa Rasulullah saw masih hidup. Diceritakan oleh Abu Sa'id al-Khudri bahwa ada dua orang sedang dalam perjalanan. Dan, ketika waktu shalat telah tiba, tetapi mereka tidak mendapatkan air, sehingga keduanya bertayamum untuk melaksanakan shalat. Ketika
mereka tiba di suatu tempat yang ada airnya dan waktu shalat masih ada, maka timbullah perbedaan. Orang yang pertama berwudhu, kemudian mengulangi shalatnya, sedangkan yang kedua tidak. Setelah kejadian itu, mereka melapor kepada Rasulullah, dan beliau bersabda kepada yang tidak mengulangi shalatnya, "Engkau telah berbuat sesuai dengan Sunnah dan shalatmu sudah cukup bagimu." Dan kepada yang mengulangi shalat (orang yang pertama) , beliau bersabda, "Bagimu pahala dua kali." (al-Hadits)

Masih banyak lagi bidang yang mengundang perbedaan dalam hal ibadah, berkaitan dengan tafsir, redaksional hadits, dan riwayatnya. Tentu saja, perbedaan pemahaman yang berkaitan erat dengan daya nalar seseorang yang seringkali dipengaruhi oleh kerangka berpikir dan kerangka pengalaman masing-masing. Untuk menghindari fanatisme kelompok yang bisa mengarah kepada kejumudan dan semangat ashabiyah, hendaknya para anggota jamaah melakukan tindakan yang aktual sebagai berikut:

1. Selalu berupaya untuk menjalin tali silaturahmi dengan berbagai kelompok dakwah tersebut. Masuklah ke dalam harakah mereka, simaklah dengan baik berbagai metode yang diperkenalkannya. Dengan cara seperti ini, kita tidak akan terjebak dalam fanatisme buta karena mampu mengambil hal-hal yang sama (convergen) dari seluruh kelompok.

2. Tawarkan satu program bersama yang dapat dilaksanakan secara gotong-royong oleh berbagai harakah dakwah tersebut, sehingga tanpa disadari akan terjadi kristalisasi, dan mungkin pemikiran-pemikiran yang cemerlang akibat adanya intensitas interaksi diantara organisasi atau kelompok dakwah tersebut

3. Upayakan agar terwujudnya pertemuan-pertemuan rutin diantara sesama kelompok harakah dakwah tersebut untuk membicarakan berbagai program lapangan yang bisa dilaksanakan secara gotong-royong, jauhkanlah satu perdebatan atau pembicaraan yang mengarah pada hal yang berkaitan dengan khilafiah.

Dengan kerangka berpikir seperti ini, maka sangat dianjurkan agar para anggota jamaah itu mau belajar dan mencari mutiara hikmah di berbagai kelompok harakah dakwah, yang kemudian secara gradual akan membentuk satu kepribadian yang lapang dada. Orientasi kita dalam makna total dakwah ini menjadi daya penggerak (dinamisator)
terhadap berbagai program dakwah yang dapat diterima dan dilaksanakan oleh semua pihak dalam tubuh umat Islam. Kita jadikan setiap posisi dan peran sebagai alat untuk menjadi pelabuhan untuk menyeru umat kepada nilai-nilai persaudaraan yang hakiki melampaui batas-batas keyakinan yang berkaitan dengan khilafiah. Dengan demikian, sikap berpikir positif, serta berprasangka baik (khusnuzhan) terhadap sesama kelompok dakwah harus menjadi ciri dan cara pribadi muslim bermasyarakat.

Sebagaimana Allah memerintahkan kita semua agar menghindari sikap buruk sangka (suuzhan), penuh berpikiran negatif (negative thinking), dalam firman-Nya:

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain...." (al-Hujurat: 12)

Berpikiran sempit, apalagi ada prasangka, serta kecemburuan berdasarkan nafsu atas amal dan harakah sesama jamaah dakwah adalah penyakit yang harus "diamputasi". Demikian pula, sikap memperolok-olokan satu dengan lainnya, baik laki-laki maupun perempuan adalah sebuah perintah Allah yang harus dihindarkan dari batin kalbu setiap pribadi muslim --seperti termaktub pada surat al-Hujurat:11. Maka anggaplah lahirnya berbagai gerakan dakwah adalah bagaikan kolam-kolam kecil yang bening. Dan, kewajiban setiap anggota jamaah adalah mengalirkan airnya agar dapat berpadu dalam satu samudra amaliah dapat menimbulkan satu gerakan dinamika prestasi umat yang dahsyat.

Berdasarkan gambar 12, tampak bahwa kewajiban kita adalah menyambung tali persaudaraan dengan seluruh.harakah dakwah. Sehingga, seluruh semangat yang terpendam di dalam halaqah pertemuan dakwah --yang ada dapat teralirkan kepada satu visi dan misi yang sama, yaitu menuju kepada satu persatuan umat (ittihadul-ummah). Semangat ini harus ada di setiap relung kalbu anggota jamaah yang mempunyai tujuan yang sama serta sumber acuan yang sama, yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah. Pada kelanjutannya, total dakwah menjadi satu kerangka acuan seluruh anggota jamaah, dimana seluruh gerakan kehidupannya selalu menuju pada pembebasan umat manusia dari penjara kekufuran yang menyesatkan. Sikap lapang dada (al-hanifiyyat al-samhah) untuk menyambung tali silaturahmi, serta mengambil hikmah kebenaran dari sudut kehidupan dari sesama harakah dakwah Islamiyah merupakan budi luhur yang harus ditegakkan oleh setiap pribadi muslim yang merindukan tumbuh berkembangnya nilai persaudaraan yang konkret dan aktual tersebut.

Lalu muncul pertanyaan, dari mana itu kita mulai? Setiap gagasan dan ajaran Islam selalu merujuk pada tanggung jawab pribadi terlebih dahulu, yakni memulainya secara konsekuen dari diri sendiri (ibda binafsika). Maka semangat berjamaah dengan segala artibutnya harus diawali dari diri kita masing-masing. Dengan kesadaran bahwasanya Allah hanya akan melimpahkan kekuatan dan pertolongan-Nya kepada setiap pribadi muslim, apabila kita berhimpun dalam tatanan jamaah. Terwujudnya jamaah Islamiyah hanya bisa direalisasikan apabila setiap anggota ingin dan sangat merindukan terbentuknya pembinaan pribadi yang kokoh dan selalu menjadikan agamanya sebagai tempat dia bertolak dan berlabuh.

Jamaah harus mampu memberikan efek yang mendalam terhadap pembinaan pribadi pada setiap anggotanya. Hal itu merupakan salah satu dasar fundamental dari lahirnya pribadi yang istiqamah, yaitu pribadi muslim yang terbina (binaa'al fardul-muslim). Setiap anggota jamaah harus selalu menjalankan peranannya, sebagaimana akhlaknya para pengikut Nabi pada awal lahirnya Islam ini, yaitu para pelopor awal (assabiqunal-awaalun). Kerinduan untuk mati syahid sama besarnya dengan rasa cinta pada kehidupan yang saleh. Hidup bersih, akal cerdas, dan beramal prestatif merupakan rangkaian akhlak yang menjalin kehidupan dalam semangat jihad untuk menundukkan dunia, mengubah kegelapan dengan cahaya iman. Dengan segala daya dan upayanya, walaupun terasa sangat berat, dia akan terus berjalan mendakwahkan Islam melalui keteladanan akhlak yang dia banggakan karena terlahir dari kecintaan yang mendalam kepada Ilahi Rabbi. Dalam tatanan pergaulan yang serba syubhat (tidak jelas) dan penuh dengan kehidupan yang materialistis ini, tidak perlu larut dalam budaya tersebut. Bahkan, dia tetap berdiri tegak dengan penuh simpati bagaikan mercu suar yang menjadi pemandu kapal yang mendermaga.

Dilatih dirinya bagaikan setiap saat ia akan menghadapi pertempuran yang amat dasyat. Tidak ada waktu terbuang sedikit pun yang akan membuat dirinya terlena dari visi dan misi pribadinya sebagai kalifah di bumi (khalifah' fil-ardhi) yang sangat gandrung untuk menebarkan amal saleh.

Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah saw,
"Hendaklah engkau bekerja untuk duniamu, seakan-akan engkau akan hidup selama-lamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok." (al-Hadits).

Sabda Rasulullah tersebut menggedor jiwa muslim untuk berontak pada segala kebatilan, menjebol segala penyakit wahan, dan kemalasan. Setiap saat dirinya selalu berfikir, apa yang harus ia berikan untuk orang lain? Apakah hidupnya sudah punya arti? Bekal apakah yang telah ia persiapkan untuk menempuh perjalanan yang amat panjang di akhirat nanti?

Sabda Rasulullah itu juga membuat dirinya gelisah. Dia mempunyai misi untuk menjadikan hidupnya sebagai ladang yang harus ditanami oleh tiap benih. Lalu, dia tebarkan benih tersebut,dan disiraminya dengan akhlak karimah agar membuahkan ridha Allah semata. Dia memandang hidup dan kehidupan sebagai satu amanat dan tugas yang amat berat. Tidak mungkin dia laksanakan amanat itu dengan bersantai-santai apalagi sampai terlupa dari dzikrullah.

Betapa hidup harus penuh dengan kesungguhan (jihad), sebab dia yakin bahwa akhirnya segala sesuatu yang bernyawa akan berakhir dalam kemusnahan. Betapa segala sesuatu yang dia alami akan punah, sedangkan hanya karunia Allah jugalah yang abadi.

Sebab itu, setiap anggota jamaah tidak pernah akan melupakan sebuah peristiwa yang disampaikan oleh sahabat Anas ra. yang mengatakan bahwa pada suatu hari Rasulullah saw berkhotbah yang sangat luar biasa, sehingga di mana saya belum pernah melihat Rasulullah berkhotbah semacam itu sebelumnya. Di antara isi khotbahnya itu, beliau bersabda, "Andaikan kamu mengetahui apa yang saya ketahui, niscaya kamu sekalian akan lebih banyak menangis dan akan sedikit sekali tertawa." Maka setelah ucapan itu, saya melihat para sahabat Nabi yang mendengarkan khotbah tersebut, semuanya menutup muka mereka dan terdengarlah suara tangis yang terisak isak dari mereka. (HR Bukhari dan Muslim).

Bergetarlah jiwa setiap anggota jamaah menyimak sabda Rasul tersebut. Itulah peringatan yang amat dahsyat tentang datangnya hari akhirat yang merenggut semua kenikmatan yang fana, serta memporak-porandakan segala impian kenikmatan khayalan dengan segala syahwatnya. Bertambahlah sikap tawadhunya para anggota jamaah itu; apabila mereka menyimak sabda Rasulullah saw:

"Tiada seorang pun dari kamu sekalian, kecuali akan berhadapan dan ditanya Allah di hari pengadilan kelak. Tidak ada juru bahasa yang akan membelanya, kecuali apabila ia melihat ke kanannya, dia hanya akan menyaksikan amal perbuatannya dan apabila dia pun menoleh ke kirinya, dia pun akan menyaksikan amal perbuatannya. Di hadapan mereka tiada terlihat sesuatu apa pun kecuali api yang menyala. Maka jagalah dirimu dari api neraka walau dengan memberikan sedekah separo biji kurma sekalipun." (HR Bukhari dan Muslim).

Rasa harap cemas menghadapi hari akhir merupakan salah satu keyakinan yang tidak pernah pupus walau sedetik pun dari ingatan dirinya. Perasaan yang kemudian melahirkan kewaspadaan dan hidup yang selalu ingin terpelihara dan dipelihara oleh amalan yang luhur dan terpuji. Setiap anggota jamaah adalah tipikal manusia yang melihat umur sebagai amanat Allah yang tidak syak lagi harus dia pelihara dengan penuh tanggung jawab. Dia sadar betul, betapa kematian merupakan takdir yang tidak tercelakan. Bahkan, apalah arti semua kehidupan ini bila dibandingkan dan ditafakuri dengan iman?

Ketahuilah bahwa hidup ini tidak lebih dari pada sekadar pengembaraan sementara untuk menyongsong kematian yang pasti. Hidup ini tidak lain daripada menanti mati. Oleh karena itu dalam kurun waktu penantiannya, dia hiasi seluruh penantiannya dengan karya, karsa, dan cipta yang bernuansa dan semerbak ridha llahi. Hal ini sebagaimana Allah berfirman:

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran." (al-'Ashr:1-3).

Sebuah kerugian yang tidak bisa ditebus, manakala nyawa sudah di tenggorokan. Sebuah jeritan penyesalan yang sia-sia, takala sang malaikat maut pemusnah kenikmatan merenggut nyawa.

Kesadaran dan penghayatannya ini telah menyulut kesadaran dirinya untuk mengolah segala "aset" llahi yang telah dia terima untuk beramal saleh, lalu mempersiapkan segala sesuatunya untuk sesuatu jemputan yang pasti, kematian! Dia matikan segala nafsu rendah, dan dia hidupkan segala nafsu mutmainah. Dia padamkan segala kobaran kebatilan. Pada saat yang bersamaan, dia nyalakan pelita iman yang akan menerangi jalan kehidupannya yang panjang dengan tetap berucap, bersikap, dan berbuat atas satu garis yang pasti, "Laa Ilaha Illallah." Sebuah jalan yang senantiasa, setiap muslim meminta kepada Allah agar tidak menyimpang darinya (ihdinas sirathal mustaqim).

Pokoknya, dalam hal ibadah dan amalan saleh lainnya, dia tidak pernah sedikit pun mengendorkan semangat untuk segera mengisi hidupnya dengan prestasi. Hanya dengan niat yang tulus, iman yang penuh dan dipancarkan melalui gerak amal prestasi, barulah dia merasakan betapa hidup ini mempunyai arti.

Dia sadar bahwa Islam bukanlah hanya sekadar kata, tetapi harus punya makna. Bukan seperangkat keyakinan yang tersembunyi di semak belukar, tetapi dia harus menjadi pelita yang berbinar. Bukan pula hanya berhenti pada simbol-simbol kebendaan, tetapi harus memberikan substansi dan esensi keluhuran budi. Inilah kualitas setiap anggota jamaah muslimin yang ingin menekuni dan mengikatkan diri dalam sirah perjalanan kehidupan suci Rasulullah saw (minhajun-nabawiyah). Akhlakul karimah para Nabi, para sahabat, dan para wali Allah merupakan pantulan dari tapak sejarah yang menerpa seluruh relung dadanya. Di manapun dia berada, para anggota jamaah muslimin ini akan selalu memberikan bekas kesalehannya Tidak ada keraguan dalam batinnya akan limpahan karunia Allah. Karena dia yakin bahwa. siapa pun yang berjuang dalam jalan Allah, pastilah Allah akan memberikan jalan, sebagaimana firman Nya:

"Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan." (al-Qashash: 69).

B. Total Dakwah
Islam sering diartikan menurut lughat (bahasa) sebagai penyerahan diri, yaitu penyerahan diri hanya kepada Allah. Seorang muslim adalah manusia yang telah pasrah, ikhlas untuk berpihak hanya kepada Allah dan Rasulullah. Pada saat dia bersyahadat, ada semacam getaran kesadaran bahwa dirinya secara otomatis menjadi anggota partai Allah (hizbullah), kelompok yang hanya berpihak kepada ketentuan hukum Allah semata-mata, sebagaimana firman Allah:

"Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang." (al-Maa'idah: 56).

Hidup seorang muslim sangat jelas dan pasti dalam pandangan batinnya dan mengatakan bahwa hidup ini hanya ada dua pemihakan. Seorang muslim juga tidak mungkin duduk diantara keduanya --jelas lebih berpihak pada partai Allah. Pada saat dia berpihak kepada Allah sebagai anggota partai Allah, pada saat yang sama pula, dia akan menafikan, menolak, dan merobek seruan "partai setan" yang merayunya untuk memihak kepada kesesatan. Dia tolak seruan setan yang akan melalaikan dirinya dari dzikrullah, karena apabila sedikit saja ia lalai dan berpihak pada partai setan, maka setan pun akan menggiringnya kepada kehidupan palsu yang penuh dengan tipuan, sebagaimana firman Nya:

"Setan telah meguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah, mereka itulah golongan setan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang paling merugi." (al-Mujaadalah:19).

Maka lihatlah pertarungan antara yang hak dan batil tersebut tidak pernah akan berhenti. Bahkan, sejak engkau terbangun di pagi hari karena gugahan suara merdu azan yang menerpa cakrawala, engkau terbangun, dan kemudian segera harus memutuskan, memilih dan berpihak. Apabila engkau berdiri, mengambil wudhu, kemudian berangkat ke masjid untuk shalat subuh berjamaah, maka pada saat itu engkau telah berpihak kepada Allah. Apabila sebaliknya, maka engkau pun dengan suka cita berpihak kepada setan. Memang hidup ini tidak lain adalah rangkaian dari sebuah proses untuk mengambil keputusan dan memilih: apakah berpihak kepada Allah atau setan.

Pertarungan antara hak dan batil tidak pernah akan berhenti, dan sebagai konsekuensinya setiap pribadi muslim merasa terpanggil untuk melakukan gerakan dakwah. Menyeru dan meluruskan pandangan mata batinnya agar tetap menuju, berada, dan tetap bersama dengan ketentuan Allah. Dia sadar bahwa membiarkan penyimpangan iman, perilaku, dan sikap yang keluar dari alur sirathal-mustaqim, akan membawa konsekuensi yang berat. Penyimpangan bisa jadi hanya sedikit saja menurut perasaannya. Akan tetapi, lihatlah risikonya yang kian bertambah lebar dan bertambah jauh dari jalan kebenaran, sehingga untuk mengembalikannya dibutuhkan usaha ekstra yang sangat besar pula.

Lihatlah gambar di atas. Penyimpangan yang sedikit, tetapi karena terus dibiarkan maka dalam kurun waktu tertentu perilaku seseorang yang menyimpang itu sudah sangat jauh. Bahkan, mereka merasa asing dengan jalannya sendiri karena sudah terlalu asyik dengan jalan setan.

Maka upaya dakwah yang kontinu dan inovatif merupakan suatu kewajiban, bahkan keterpanggilan setiap muslim untuk melakukannya karena amanat dan rasa tanggungjawab yang sangat besar atas keselamatan diri dan umat manusia. Setiap pribadi muslim, para ikhwan yang hatinya sudah terpaut dalam gelombang dakwah harus pula memiliki wawasan keilmuan yang luas. Bahasa apa yang paling indah, kecuali kalimat yang keluar dari sanubari manusia untuk menyeru ke jalan Allah, seperti yang termaktub pada surat Fushshilat:33; "...Sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri?" Di mana pun mereka berada maka mereka akan tampil sebagai pelita yang memberikan cahaya berbinar (sirajam muniran). Memberikan bekas dan mewarnai lingkungannya dengan "cahaya marhamah".

Kita tidak mengenal sistem "pastoral"; di mana penggembalaan umat diserahkan pada satu orang. Di dalam agama kita, seluruh individu yang mengaku dirinya beragama Islam otomatis harus menjadi juru dakwah yang menyeru umat manusia ke jalan-Nya seperti disebutkan dalam surat Yusuf: 108, dan membebaskan umat manusia dari perbudakan hawa nafsu, membebaskan umat manusia dari segala mitos dan ketidak-berdayaan (powerless) menghadapi hasil olah dan ulah budayanya sendiri.

Maka camkanlah dengan penuh rasa tanggung jawab bahwa salah satu misi yang harus tertanam kuat dalam urat dan darah setiap ikhwan adalah rasa tanggung jawabnya yang besar untuk mewarnai lingkungannya dengan uswah 'keteladanan' dan kecerdasan yang cemerlang, seperti berikut:

1. Hidupnya merasa tidak berarti apabila hari-hari berlalu tanpa memberikan arti dari lingkungannya dan bagi lingkungannya. Dengan perasaan seperti inilah, para anggota itu melancarkan gerakan silaturahmi. Menyebarkan serta mengikat tali hubungan dengan siapa pun seraya tersisip di dalamnya sebuah misi, yaitu untuk memberikan bekas pengaruh yang mendalam kepada lingkungannya dengan hikmah dan simpatik.

2. Jabatannya, keahliannya, hartanya, ilmunya, dan apa saja yang menjadi amanat pada dirinya dijadikan sebagai aset atau media untuk mewarnai lingkungannya dengan cahaya islami. Ikhwan atau akhwat yang bekerja sebagai guru atau dosen akan memulai pelajarannya dengan membaca, "Bismillah", atau mengajak para hadirin dengan membaca surat al-Fatihah. Demikian juga karena dia memiliki kekuatan, maka seorang direktur utama akan memimpin rapatnya dengan melakukan hal yang sama. Seorang dokter akan menyuntik atau memeriksa tubuh pasiennya dengan mengucapkan, "Bismillahirrahmanirrahim," sehingga bukan saja rasa sejuk yang didapatkannya, bahkan kepercayaan akan tumbuh pada diri pasien tersebut.

Pokoknya setiap muslim yang sadar akan visi dan misi eksistensi dirinya, pastilah akan merasa terpanggil untuk mewarnai lingkungannya, di mana pun dan dalam situasi apa pun. Sehingga, kehadiran dirinya dengan cepat akan memberikan arti dan kehadiran dirinya di lingkungannya itu menjadi dambaan tali pengikat persaudaraan. Persaudaraan sebagai roh perjuangan jamaah ikhwan ini lebih dominan dari kepentmgan dirinya sendiri. Dia rela mengorbankan kepentingan pribadinya asalkan tumbuh persaudaraan dan kemuliaan untuk sesama anggota jamaahnya.

Semangat berkobar seperti inilah yang merupakan lem perekat dan sekaligus ciri khas dari para anggota jamaah. Wajahnya cerah, tersungging (tampak) sebuah senyuman tanpa ada keluhan sedikit pun. Haru biru umat Islam di muka bumi ini, karena hilangnya makna aktual dari ikatan persaudaraan sebagai ciri dan cara umat Islam hidup. Porak-porandanya kekuatan Islam di muka bumi ini, dikarenakan kita semua tidak lagi mampu mengaplikasikan secara aktual, pesan singkat dari Allah yang berfirman, "Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara...." (al-Hujurat: 10).

Ayat tersebut pada saat sekarang sudah menjadi sangat klise dan sekadar pemanis bahan pidato, bahkan bumbu penyedap retorika. Hebat dalam pernyataan, tetapi hampa dalam kenyataan. Maka dakwah yang paling meminta perhatian kita semua sebagai warga muslim dunia tidak lain adalah mengalirkan kembali roh ukhuwah, menjalin tali persaudaraan dalam arti yang wujud. Apa pun jenis organisasi dakwah, bagaimanapun bentuk gerakan dakwah, apabila nilai kandungan persaudaraan tidak dijadikan tema bersama, maka hanya obsesi kosong jualah yang bakal menimpa. Bukankah Al-Qur'an dengan sangat tegas memberikan satu sinyal bahwa orang-orang kafir itu pun saling bersekongkol, yang satu dengan lainnya saling membantu untuk menghancurkan gerakan dakwah Islam.

Demi menghancurkan nilai-nilai Islam, kadang-kadang mereka tidak segan bersekutu dengan setan sekalipun, asalkan cahaya Islam tidak menerangi rumah-rumah mereka. Maka alasan apa bagi kita semua yang terlahir ingin menjadi anggota partai Allah (hizbullah) menelantarkan nilai persaudaraan? Inilah kunci surga yang telah lama kita buang. Karena kesombongan dengan fanatisme sempit yang bagaikan api membara telah melumatkan tatanan perjuangan Islam secara menyeluruh.

Bagi seorang muslim yang memahami makna keberpihakan kepada Allah, niscaya dia merasa malu untuk ikut bergabung dengan kelompok-kelompok yang nilai serta roh perjuangannya tidak mengalir dari cucuran kebenaran Al-Qur'an dan Sunnah. Ketahuilah bahwa pola dan sikap manusia sangat ditentukan oleh milieu atau lingkungan mereka bergaul. Dalam tatanan pergaulan kelompok, apabila kita bergabung dalam tatanan kelompok yang tidak Qur'ani dan tidak membawakan roh dakwah, kita khawatir akan menjadi manusia yang lembek. Karena perilaku diri kita telah diwarnai oleh etika dan nilai, yang dengan sangat nyata bertentangan dengan roh dakwah itu sendiri.

Maka dalam posisi dan situasi apa pun, misi dakwah adalah citra dominan dari kepribadian setiap muslim. Bagaikan pelita yang memberikan cahaya benderang bagi mereka yang kegelapan, melimpahkan percikan kedamaian bagi mereka yang gelisah, keteduhan dan ketenteraman batin (mutma'inah) bagi para musafir pengembara dunia.




Bab V Dakwah Persaudaraan (2)
C. Tuduhan Eksklusif

Seringkali kita mendengar adanya tuduhan kepada para jamaah Qur'ani sebagai eksklusif, dikarenakan para jamaah ini telah membuat garis tegas antara yang hak dan yang batil. Mereka tidak mungkin mengenal kompromi untuk membuat "benang putih" dicelup dengan budaya jahiliah yang hitam, sehingga kemurnian ajarannya menyimpang dari jalannya yang lurus. Karena penyimpangan atau mencoba mencari panduan lain yang tidak Qur'ani, hanyalah cara baru untuk mengampak umat agar terpecah belah dan lemah.

Memvonis anggota jamaah sebagai eksklusif, sebenarnya sangat bergantung kepada bagaimana "cara pandang" mereka terhadap penyebutan eksklusif tersebut. Ukuran dan norma mereka yang menuding sebagai eksklusif itu sudah tentu bukanlah ukuran berdasarkan iman dan keikhlasan Al-Qur'an. Hal ini sangat disadari oleh para pengikut Rasul bahwa ejekan dan tudingan kaum fasik itu tidak menjadikan dirinya goncang dan rnengubah dirinya menjadi manusia yang berambiguitas (menjadi tidak jelas arahnya). Karena bagi dirinya bahwa suara mayoritas tidaklah berarti secara otomatis harus mencerminkan kebenaran. Bahkan sebaliknya, apabila hanya memperturutkan suara mayoritas padahal bertentangan dengan hati nuraninya, apalagi menyimpang dari standar A1-Qur'an dan Sunnah, maka mereka merasa bahwa hidupnya sama sekali tidak punya nilai di hadapan Ilahi Rabbi. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:

"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah pendusta (terhadap Allah)." (al-An'am: 116).

Apabila para jahiliah berteriak dengan semboyan, "vox populi vox Dei", (suara rakyat, suara Tuhan), maka kaum mukminin akan berkata, "Al Haqqu min Rabbika, wala takunna minahnumtarin," (Kebenaran itu dari Tuhanmu, janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu) (al-Baqarah:147).

Mereka tidak bersedih hati untuk terisolasi dari mayoritas, karena kebahagiaan sejati bukan terletak dari pengakuan manusia, melainkan pengakuan dan harapan ridha dari Allah semata-mata.

Para pelopor awal (assabiqunal-awalun) tidak pernah merasa kecil walaupun jumlahnya sedikit. Dia tidak pernah merasa rendah diri, kendati dianggap hina oleh orang-orang awan, karena di dadanya sudah terhunjam dan terpatri keyakinan bahwasanya hanya Allah Yang Maha besar, selain Allah semuanya kecil. Dengan para anggota jamaah mukminin itu adalah "sajak-sajak" kecintaan akan kasih Allah semata-mata yang diwariskan kepada para mujahid muda, generasi penerus yang gagah dan istiqamah. Sebagaimana bait berikut:


Wahai mujahid muda
Mengapa engkau harus gelisah
Kalau di dada bersemayam iman
Untuk apa keluh kesah itu
Sedang Sang Kekasih selalu
setia memberikan lentera kehidupan

Kalau toh dunia ingin merenggut
mencabik mencampakkan engkau
katakan padanya
Engkau boleh hancurkan tubuhku
tetapi tidak pernah imanku
Sia-sia engkau poles dirimu
dengan segala hiasan palsu
penuh tipu dan kepalsuan

Karena cintaku sudah tergadai
kepada Dia Yang Maha Pengasih

Wahai mujahid muda
Peluklah bumi dengan cinta
Gubahlah dunia dengan prestasi
Sekali hidup penuh arti
dan bolehlah bersiap untuk mati
Kalau datang hari perjumpaan
maka basahkan bibirmu
dengan kalimat thayibah
Laa ilaha illallaah


Seakan-akan inilah dendang sajak-sajak yang ada di setiap kalbu para anggota jamaah Rasul itu, saat ini sudah mulai redup dan suaranya hampir tidak terdengar lagi. Alangkah berbeda dengan kehidupan jahiliah, di mana ikatan perkumpulannya sama sekali tidak dipandu oleh satu ajaran yang lurus, yaitu Al-Qur'an. Mereka berkumpul bukanlah karena kerinduan untuk beribadah, tetapi sekadar pencarian pemuasan batin dirinya.

Dalam bentuk atau skala yang lebih luas lagi, perkumpulan mereka kadang-kadang dibumbui dengan dorongan nafsu; ambisi, dan gengsi. Itulah sebabnya, ada orang yang merasa lebih bergaya apabila dia mampu menjadi anggota klub eksekutif ketimbang menjadi anggota satu harakah Islamiyah. Bagi para jahiliah yang dipelopori oleh Amr bin Hisyam seorang tokoh suku Bani Makhzum yang kemudian dikenal dengan julukan Abu Jahal --biangnya kejahilan-- bahwa popularitas, gengsi, dan kebanggaan kesukuan merupakan salah satu motivasi dirinya untuk tidak bergabung dengan jamaah Rasul, apalagi harus menerima kebenaran Al-Qur'an, walaupun dia sadar akan kebenaran yang terkandung di dalamya. Abu Jahal merasa bahwa ajaran Nabi Muhammad walaupun benar, tetapi akan menghambat kebebasan dirinya untuk mereguk nikmat dunia, bahkan bisa menggoncangkan tatanan kebudayaan, adat istiadat nenek moyang, serta gengsi keluarga Bani Makhzum.

Kejahilan seperti ini, sebenarnya akan terus berlangsung, tidak saja terjadi pada zaman jahiliah, tetapi sejak zaman Fir'aun yang serba duniawi, Kisra dan Imperium Roma, serta seterusnya. Sejarah selalu akan mencatat sebuah pertarungan moral antara kebenaran A1 Qur'an dengan kebatilan kaum jahiliah.

Kata-kata yang biasa kita dengar, misalnya enjoy your life, nikmatilah hidupmu, carpe diem, reguklah nikmat dunia, coromemus nis tasis, cras enim moriemur, pakailah mahkota mawar karena hidup hanya satu kali) adalah kata-kata yang mengagungkan jahiliah-hedonis. Budaya hedonisme --yang diilhami oleh budaya epikurisme Roma--telah menjadikan manusia menjadi "hamba perut". Mereka menjatuhkan harga kemanusiaannya dengan memperturutkan hawa nafsunya semata-mata.

Bedanya mereka dengan binatang, hanyalah dalam kreativitas dirinya dalam memenuhi keinginannya. Kalau binatang adalah makhluk yang semata-mata dibekali nafsu dan insting sehingga bersifat pasif, maka kelompok jahiliah adalah makhluk cerdas yang mampu mengolah dan menjadikan akalnya sebagai senjata kreatif untuk memenuhi kebutuhan nafsu semata-mata. Itulah sebabnya bahwa pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang lebih kejam dari binatang, apabila salah satu citra diri kemanusiaannya dia campakkan, yaitu berupa energi Illahiah yang paling luhur dan secara khas hanya dianugerahkan kepada manusia saja, yaitu akal dan perbuatan yang dipandu oleh cahaya iman.

Dengan sangat tajam, Al-Qur'an memberikan perumpamaan bagi para hedonis jahiliah ini sebagai orang yang mempunyai karakter seperti anjing, bahkan lebih sesat dari binatang apa pun, seperti dijelaskan pada surat al-A'raf: 179. Kelompok jamaah Rasul yang dadanya penuh berisi dengan kasih sayang itu tidak tega membiarkan sesamanya tersesat dalam jelaga hitam, menempuh jalan yang pendek, dan tergoda oleh fatamorgana. Para sahabat anggota jamaah Rasul ingin mengangkat derajat manusia sebagai khalifah fil-ardhi, yaitu menjadi subjek dunia. Bukan sebaliknya, dunia dijadikannya sebagai raja manusia. Dalam kurun waktu yang paling awal, kita bisa melihat betapa para anggota jamaah sangat tabah dan konsisten terhadap idealismenya yang berlumuran dengan cinta. Tidak ada rasa dendam ataupun sikap yang anarkis, bahkan mereka itu sangat besar perhatiannya terhadap penderitaan manusia.

Bagi para jamaah ini, penderitaan manusia tidak harus diidentikkan dengan kelaparan, kemiskinan belaka, tetapi ada lagi penderitaan yang sangat nista ialah kesesatan yang dialami kaum jahiliah. Lantas apakah dapat dikatakan sebagai eksklusif apabila ada sekelompok manusia yang sangat besar rasa kasihnya kepada manusia? Apakah bisa dikatakan sebagai pengganggu apabila ada jamaah yang sangat besar kerinduannya untuk memuliakan manusia? Lagi pula kalau yang dikatakan sebagai eksklusif itu hanyalah menurut takaran pengelompokan sesuai dengan hobi, lantas apakah yang mereka maksud? Kiranya bukan jamaah Rasul saja yang harus disebut sebagai eksklusif, namun kelompok lain pun yang berpadu karena adanya kesamaan atau hobi mereka, tentunya dapat dikatakan pula sebagai eksklusif.

Para anggota jamaah itu, justru adalah manusia bumi yang tidak pernah mau mengisolasi dirinya dari pergaulan dunia, apalah artinya dakwah apabila dia menghindar dari kehidupan, apa artinya rahmatan lil alamin, apabila dia tidak memberikan makna bagi lingkungannya. Bukan kemauan mereka mengisolasi diri, tetapi yang terjadi justru merekalah yang diisolasi dari pergaulan kehidupan yang ada. Sejarah telah mencatat betapa Bani Hasyim dan Bani Muthalib bersama sama dengan Rasulullah saw, para sahabat, dan keluarganya dikucilkan di kaki Gunung Syi'ib Bani Hasyim selama tiga tahun.

Mereka tidak boleh menerima kiriman makanan dari siapa pun, bahkan apabila ada pedagang yang akan mendatanginya, maka para jahiliah tersebut bergegas untuk memborong makanan tersebut, walau dengan harga yang mahal. Oleh karena perasaan benci yang membara mereka terhadap para jamaah tersebut. Penderitaan akibat isolasi ini, masya Allah sangat tidak terbayangkan oleh kita di zaman sekarang ini. Betapa mereka menderita kelaparan dan kehausan. Bahkan, diriwayatkan ada diantaranya yang harus makan sisa tulang dan sisa makanan mereka sendiri, begitu hebat rasa haus dan lapar mereka sehingga tidak sadar air seni yang tertampung di kulit binatang di masak kemudian diminumnya.

Dalam benak mereka tidak pernah sedikit pun terlintas untuk melakukan isolasi apalagi menjadi manusia yang eksklusif memisahkan diri dari pergaulan seraya membuat perbedaan kelas. Karena di samping itu bertentangan dengan Al-Qur'an, perbuatan seperti itu pun bertentangan secara manusiawi, di mana fitrah manusia selalu merujuk kepada kebersamaan dan pergaulan sosial yang adil dan penuh kasih sayang.

D. Memilih Sahabat
Program utama dan pertama setiap pribadi muslim adalah mengikat tali persaudaraan. Program kedua adalah persaudaraan, program ketiga adalah persaudaraan, dan program selanjutnya tiada lain adalah segala bukti kemaslahatan atas semangat persaudaraan. Maka, arahkan mata batinmu dan seruan dakwahmu untuk mendapatkan saf para sahabat seikhwan dengan memantapkan beberapa ciri khas, yaitu sebagai berikut:

l. Wujudkan Keimanan Melalui Cinta
Rasulullah saw bersabda, "Tidaklah engkau beriman sehingga engkau mencintai sesama saudaramu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri." (al-Hadits)

Abu Sulaiman ad-Darami rahimahullah berkata, "Jangan sekali-kali engkau bersahabat, melainkan salah satu dari dua macam orang ini. Pertama ialah orang yang dapat engkau ajak bersahabat dalam urusan duniamu dengan jujur, dan kedua ialah orang yang karena bersahabat dengannya engkau memperoleh kemanfaatan dirimu untuk urusan akhiratmu."

Sayidina Ali ra berkata, "Saudaramu yang sebenar-benarnya ialah orang yang mau menerjunkan dirinya sendiri dalam bahaya demi keselamatanmu dan mereka itu tidak segan-segan menegurmu apabila engkau bertindak salah."

Refleksi cinta bukan hanya dalam sikapnya untuk selalu membela diri sesama saudaranya, tetapi tampak pula dari tutur katanya yang lemah lembut. Caranya berbicara yang sangat waspada, takut apabila ada orang lain tersakiti hatinya karena lidahnya, walau dalam bercanda atau senda gurau sekalipun.

Lihatlah tanda-tanda persaudaraan itu yang diantaranya tampak ketika engkau memberi sesuatu, maka dia akan menerimanya dengan rasa haru. ketika engkau dalam kesulitan dialah orang pertama yang menawarkan diri untuk meringankan bebanmu. Ketika engkau kegelapan, dialah manusia yang paling merasa bersalah karena merasa tidak memberikan pelita.

2. Tausyiah dalam Hak dan Kesabaran
Sahabat seiman adalah dia yang selalu membayangi dirimu, menjaga, dan memeliharamu dalam kebenaran. Membela dan menegurmu dengan kesabaran. Maka anggota ikhwan adalah tipe manusia yang selalu merasa bahagia apabila dirinya mempunyai arti bagi sesama saudaranya seiman. Sahabat seiman dalam satu saf, satu misi dan visi, lebih berarti dan lebih berpotensi ketimbang ratusan manusia yang berkumpul tanpa ikatan hati.

3. Saling Menjaga Amanat
Hancurnya sesuatu karena pengkhianatan. Menyadari hal ini, maka salah satu ciri kepribadian ikhwan adalah kuatnya menjaga amanat dan menjaga rahasia sesama saudaranya. Di hadapan orang luar, mereka saling membela dan saling menutupi, tetapi ke dalam mereka saling memberikan nasihat yang indah dan menyejukkan. Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang menutupi aurat (kejelekan) saudaranya, maka dia akan dilindungi Allah SWT." (al-Hadits).

Maka menjaga kehormatan saudaranya karena iman, lebih patut dibela ketimbang mempertahankan benda apa pun di muka bumi ini. Mulutnya sangat terjaga dan tidak gampang membuka rahasia kepada pihak lain, walau karena alasan kasih sayang sekalipun, karena sekali amanat adalah amanat, seperti termaktub pada surat al-Mumtahanah: l.

4. Menuju Pada Kesatuan Umat (Wahdatul-Ummah)
Dari pemaparan tadi, hendaknya visi dan misi setiap pribadi muslim lebih menekankan pada titik persamaan (kalimatus-sawa) diantara sesama muslim. Tidak perlu perbedaan paham yang seringkali diawali dari semangat hukum syariat (fikih) menyebabkan kita menjadi dua kutub yang berbeda. Perbedaan bahkan perpecahan di kalangan umat Islam telah menyejarah, bukan karena perbedaan dalam hal tauhid, tetapi lebih banyak dikarenakan perbedaan pemahaman pemikiran yang berkaitan dengan kekuasaan, ideologi, dan politis. Sebagaimana perpecahan yang kemudian menjadi sebuah fitnah besar (al-fitnatul-kubra), sejak terbunuhnya Utsman, peperangan Ali dan Muawiyah; serta Perang Shiffin antara Ali dan mertuanya sendiri. Dan terakhir pengejaran terhadap para keturunan Umayah oleh keturunan Abasiyah. Kemudian setelah itu, lahirlah berbagai paham pemikiran yang dilatarbelakangi politik, seperti Muktazilah yang dipelopori oleh Wasil bin Atha' sebagai paham yang menyisihkan diri --i'tazala, artinya memisahkan diri-- tidak mau terlibat dari pertikaian paham syiah Ali, maupun kaum Rafidhah (pembangkang).

Sejarah perpecahan umat terlahir karena nafsu kekuasaan diantara sesama muslim sendiri dan bukan dikarenakan Islamnya. Dengan demikian, upaya kita semua adalah mencoba untuk menghayati kembali berbagai pekerjaan yang besar, di mana titik persamaan bisa dijalin diantara kelompok-kelompok dakwah yang ada. Prinsip musyawarah kemudian harus menjadi panji paling utama untuk kita kibarkan. Karena itu adalah mustahil membangun satu kepemimpinan (imamah) dan jamaah yang bersifat formalistis. Mengingat, keragaman budaya, latar belakang sejarah, dan problematika umat Islam mempunyai keragamannya sendiri.

Perhatian umat harus lebih ditekankan kepada aspek intelektual, sehingga mereka mampu melakukan pendekatan permasalahan dengan sikap objektif dan terbuka. Alangkah lucunya apabila kita masih terperangkap oleh perbedaan kelompok hanya karena fanatisme terhadap masalah-masalah fikih. Sebatas perbedaan penafsiran akan shalat, qunut, bedug, dan tahlil. Satu kelompok anti tarawih berjamaah karena di zaman Rasulullah saw, tarawih dilakukan sendiri-sendiri di rumah masing-masing. Padahal di zaman Umar bin Khaththab ra, shalat tarawih diorganisasikan secara berjamaah sebagai satu syiar. Alangkah naifnya apabila perbedaan dalam hal azan saja menyebabkan hati kita berpisah. Ada orang yang menganggap azan dua kali adalah bid'ah, dengan alasan hal itu tidak dilakukan oleh Rasulullah saw, padahal di zaman Utsman, azan dua kali dilakukannya. Lantas, apakah Umar dan Utsman bisa kita kategorikan sebagai ahli bid'ah?

Dengan demikian, semangat formalistik harus dikembangkan dengan kemampuan untuk mengembangkan aspek intelektual, etos keilmuan yang telah menjayakan umat Islam sepanjang sejarah di masa lalu. Keterbukaan dan sikap toleran (tasamuh) harus menjadi panji-panji akhlak setiap anggota jamaah dakwah, bagaimanapun bentuk dan metode dakwahnya, jangan sampai mengorbankan tali ukhuwah. Janganlah kita mengulangi sejarah yang pahit dari al-fitnatul-kubra (fitnah besar) di masa lalu, yang telah mengharu-birukan perpecahan umat dikarenakan fanatisme akan ideologis kekuasaan diantara sesama muslim. Antarkanlah perasaan bahagia setiap mereka yang mengaku muslim itu berjaya. Inilah yang kita maksudkan dengan ukhuwah, sebuah keterbukaan yang dilandasi nilai keikhlasan untuk membahagiakan sesama saudara seiman.

Sifat formalistik yang memaksakan diri agar seluruh umat ber tahkim pada iman, masih jauh dari harapan kita bersama. Mengingat latar belakang kelahiran jamaah yang ada seringkali dipengaruhi oleh berbagai problematikanya sendiri baik secara geografis, politis, maupun antropologis. Maka visi dan misi kita dalam hal kesatuan dan persatuan tidaklah merujuk pada satu sikap yang formalistik, tetapi lebih menekankan kepada yang berwawasan makro, yaitu sejauh mana umat Islam mampu memberikan nilai dan pengaruh pada dunia. Berkaitan dengan ini, semangat berlomba-lomba dalam kebaikan (al-ghiratul fastabiqul khairat) harus menjadi kerangka acuan seluruh jamaah yang ada di muka bumi ini agar kembali kepada panji Islam, lalu ditancapkan dalam bumi kedamaian. Harus kita waspadai bahwa cepat atau lambat Islam akan dijadikan musuh bersama oleh seluruh agama yang non-Islam, sehingga berbagai pekerjaan yang berupa benturan perbedaan fikih, mazhab, hanyalah akan melelahkan kita semua, dan kemudian membuat diri kita.lemah karena saling berbantah-bantahan.

Apakah tidak cukup menjadi perhatian dan rasa prihatin kita bersama, melihat umat Islam minoritas di setiap negara menjadi objek pembantaian, dikejar, dan dinistakan, seakan-akan Islam adalah sebuah monster kejahatan yang lebih jahat dari setan? Tidakkah tergetar jiwa kita, dimana hampir seluruh negara yang penduduknya muslim, terpuruk dalam kebodohan dan kemiskinan yang kemudian menjadi contoh paling murah untuk ditayangkan di semua media massa, sehingga generasi kita merasa minder karena menyaksikan kelemahan dan kehinaan umat?

Maka kunci sukses agar Islam mampu memberikan cahaya kedamaian dan kemuliaan bagi peradaban manusia, terletak pada rasa tanggung jawab bersama akan kehormatan Islam. Siapa pun yang menjadi masalah, bahkan kita harus ikut memberikan dorongan untuk memajukannya. Melepaskan baju kelompok, taklid dan kesempitan wawasan berpikir. Inilah kuncinya.

E. Pendidikan dan Pembinaan Akhlak
Bidang pendidikan dan pembinaan akhlak setiap pribadi muslim merupakan program terpadu dan bersifat kontinu. Segala kegiatannya diawali dari hal yang paling sederhana, sesungguhnya amal yang paling afdal adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit. Kontinuitas merupakan ciri program seluruh aktivitas kerja pribadi muslim, mulai setahap demi setahap, melalui jenjang (marhalah) yang tuntas, baru kemudian beralih pada bidang kajian selanjutnya. Karena program pendidikan Islam menekankan pada praktik sikap dan perilaku, merujuk pada niat, usaha dan hasil. Menjauhi segala yang bersifat mubazir, tetapi selalu memprioritaskan segala bentuk amal yang nyata, terasa, dan bermanfaat. Sikap verbalitas diskusi-diskusi yang melelahkan dan tidak berkesimpulan bukanlah ciri seorang ikhwan, melainkan amalnyalah yang menjadi panji kehidupannya.

Setiap pembicaraan taklim ataupun tarbiyah jamaah selalu diakhiri dengan sebuah kesimpulan yang mengharapkan sebuah jawaban konkret dari pertanyaan: setelah ini apa wujudnya? Setelah diskusi ini apa praktiknya? Begitulah seterusnya. Setiap anggota jamaah didorong untuk berbuat dan menghasilkan sesuatu karena mereka sadar bahwa kehadiran dirinya harus memberikan arti. Islam ajaran yang bersifat menyeluruh, sempurna, dan saling menyempurnakan (syamil-kamil-mutakamil) dan akan terasa menjadi rahmatan lil-alamin, apabila setiap pribadi muslim memang merasakan kehadirannya untuk memerangi kebatilan dan menyebarkan perdamaian, hanya akan terwujud apabila di hati setiap pribadi muslim tertanam semangat dan perjuangan.

Maka jelaslah bahwa Islam adalah agama amaliah, agama gerak nyata yang dijalin beton persaudaraan di atas fondasi bangunan tauhid yang kokoh. Dan saf yang kuat benteng yang kukuh, serta binaan keimanan yang berkesinambungan secara kolektif (jama'i) melalui "amal jamaah" pula. Pola pendidikan yang dilaksanakan secara jamaah ini, awalnya didasarkan pada keimanan, keyakinan, dan pemaknaan yang mendalam akan konsekuensi pengucapan syahadat. Dengan keyakinan dan pemahaman akan dua kalimat syahadat, setiap anggota jamaah ikhwan adalah pribadi muslim yang telah dicelup (sibghah Ilahiyah) dengan kecintaan yang sangat mendalam kepada Allah, sehingga pantas menjadi satu generasi yang berakhlak Al-Qur'an dan mempunyai karakter kuat sebagai pribadi yang patut diteladani.

Rasa cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya adalah "harga final" yang tidak pernah dapat ditawar dengan harga dan bentuk benda apa pun. Syahadat adalah darah daging dirinya yang membawa konsekuensi kemerdekaan insaniyah dan melahirkan generasi rabbaniyah yang hanya terpatri di dadanya kalimat "Lailaha ilallah Muhammadarrasulullah." Hanya ada satu moto dalam hidup setiap ikhwan. Dia harus hidup mulia sebagai muslim. Dan apabila kematian telah datang kepadanya, dia akan menutup kehidupan dengan kematian sebagai seorang syuhada, insya Allah.

Mengingat pentingnya pola pendidikan dan pembinaan muslim dari sisi pribadi dan jamaah, maka setiap anggota diwajibkan untuk tidak melepaskan diri dari ikatan persaudaraan. Dalam ikatan ini bercucuran hikmah, ilmu, dan amal-amal prestatif yang memberikan stimulan atau motivasi agar dirinya menjadi manusia yang berakhlak karimah. Pola pendidikan jamaah ditekankan pada program yang padu dari kekuatan iman, ilmu dan amal, di mana tidak mungkin salah satu dari tiga rangkaian ini ditinggalkan. Hanya dengan penguasaan ilmu pengetahuan, maka kita dapat menggerakkan masyarakat menuju kepada kemuliaan. Dengan demikian, salah satu ciri setiap anggota jamaah ikhwan adalah rasa cintanya akan ilmu pengetahuan dan kegelisahan dirinya untuk mengamalkannya. Walau ilmu yang dimilikinya hanyalah bagaikan tetesan air dibandingkan dengan ilmu Allah pun yang luasnya melebihi samudra.

Ketahuilah bahwa Islam sangat memuliakan orang-orang yang berilmu dan mendorong setiap pribadi muslim untuk menjadi tipe manusia yang "gandrung" terhadap ilmu, sebagaimana firman Allah,

"Allah menyatakan, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatahan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Ali Imran: 18).

"... Katakanlah, 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?' Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (az-Zumar: 9).

"... Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat...." (al-Mujaadalah:11).

Atas dasar rasa tanggung jawab maka para anggota jamaah tidak mungkin melepaskan atau menghindari kewajiban dirinya untuk menimba ilmu, membina akhlak, dan mengamalkan ajaran Islam secara prestati£ Setiap anggota ikhwan adalah murid dan sekaligus mursyid orang yang menunjukkan jalan yang benar. Ia juga belajar, sekaligus mengajar, sehingga merata, dan menyebarlah kekuatan ilmu dalam tatanan jamaahnya. Harus tertanam di dalam jiwa setiap anggota jamaah yang mengikuti taklim atau pengajian yang diselenggarakan oleh majelis-majelis mana pun. Hal itu dimaksudkan agar dirinya harus memberikan arti, dan mampu memberikan kontribusi dalam kemajuan taklim ter sebut. Kita tidak boleh membuat tabir-tabir penyekat atau berdalih, "Taklim yang diselenggarakan tersebut atau taklim yang mengundangku tersebut bukan dari jamaahku."

Ketahuilah wahai saudaraku bahwa salah satu tiang pembinaan akhlak adalah persaudaraan, maka hargailah undangan yang akan membersihkan jiwa, serta menambah wawasan keilmuan, walau dari mana pun. Dari kelompok mana pun, selama engkau memiliki waktu luang untuk menghadirinya. Karena kita sangat sadar bahwa dengan melakukan studi banding kiranya akan tersimpulkan di batin kita suatu hikmah kebijaksanaan. Suatu keluasan dan kelapangan hati yang lebar.

Akan tetapi sebaliknya, apabila kita sudah apriori, membuat sekat-sekat, hitam-putih, bahkan dengan tanpa pengetahuan sedikit pun, kita menghakimi sesama saudara. Sungguh hal itu bukanlah akhlak dari seorang muslim yang merindukan jamaah persaudaraan sebagai tali perekat umatan wahidah. Pembinaan akhlak para anggota jamaah ikhwan, bukan sekadar mencari ilmu, atau mencari keterangan (nash) untuk memperkuat kiprah dirinya. Akan tetapi, di balik itu tersimpan suatu misi untuk menebarkan benih-benih ukhuwah. Suatu misi dari silaturahmi karena Allah semata-mata. Atas dasar semangat mondial universal dan dengan semangat persaudaraan inilah, hendaknya jamaah Islamiyah yang telah konkret dapat melakukan pembinaan dirinya.

Mereka tidak hanya mengkaji hukum-hukum syariat, tetapi juga mempelajari berbagai keterampilan dan ilmu-ilmu penunjang. Mereka tidak hanya mengenal makna dan "khittah" jamaahnya, tetapi juga membuka lebar untuk melakukan mudzakarah, yaitu dialog dengan siapa pun atas dasar hikmah, saling menghargai, dan memahami posisi satu sama lainnya.

Pembinaan akhlak jamaah ini adalah suatu upaya untuk memelihara cinta kasih dan persaudaraan. Bukan sebagai sarana untuk mencari dasar-dasar yang menambah lebar jurang pemisah diantara sesama muslim. Perbedaan paham diantara sesama muslim, jangan menjadi sebab terjadinya jurang pemisah apalagi konflik, tetapi sebaliknya kita mencoba saling memahami dan saling berkerja sama dalam hal hal yang sama. Penilaian buruk dan baik terhadap tata cara beribadah seseorang janganlah hanya didasarkan pada semangat mutlak-mutlakkan, karena mengubah keyakinan seseorang dalam tata cara ibadah itu membutuhkan suatu proses, suatu kesabaran, dan ketelatenan yang amat dahsyat.

Begitu juga halnya dalam kehidupan dengan nonmuslim, semangat ukhuwah bashariyah dan wathaniyah menjadi salah satu jembatan untuk saling mengulurkan tangan membangun satu tatanan masyarakat yang adil dan berlimpah cinta.

Mengubah sikap seseorang bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Karena disamping masalah hidayah, ada pula faktor lainnya yang mungkin lebih kompleks, yaitu mencakup situasi budaya, sosial-politis, dan ekonomi seseorang. Sebab dengan semangat seperti itulah, maka akan tercipta pembinaan akhlak para jamaah tersebut, sehingga kita akan merasakan keindahan bersaudara, kelezatan makna ukhuwah, dan kesejukan silaturahmi.

F. Tantangan Global Dakwah Islamiyah
Gerakan zionisme --dengan konspirasi globalnya-- harus diantisipasi lagi dengan metode dakwah yang bersifat global pula. Memanfaatkan seluruh sarana yang ada dan mengembangkan cara berpikir yang lebih membumi, aktual, dan menyangkut langsung kehidupan umat. Dakwah dengan pola pendekatan normatif harus diperkaya dengan dakwah pendekatan informatif yang mampu membuka cakrawala dan kualitas berpikir umat untuk mengantarkannya ke dunia yang penuh dengan tantangan tersebut

Bila kaum zionis mempersiapkan satu "ordo universal" yang ingin mengangkangi dunia dengan segala pengaruhnya, maka dakwah Islamiyah harus memberikan jawaban sekaligus memenangkan solusi islami yang secara nyata dan aplikatif dapat dicerna oleh objek dakwah.

Bangsa Indonesia yang dikenal sebagai masa depan umat Islam di belahan Timur merupakan sasaran atau target penghancuran kaum zionis. Mereka tidak pernah akan membiarkan umat Islam kuat. Mereka tidak akan pernah tenang tidurnya, bila melihat suatu negara yang bersatu dan mempunyai prospektus cemerlang di masa depan. Negara Indonesia yang notabene dibanggakan karena mayoritas penduduknya beragama Islam, mulai memperlihatkan peran aktifnya di dunia internasional dikarenakan adanya stabilitas serta perkembangan ekonomi oleh IMF dan Bank Dunia dipujikannya sebagai negara industri baru (newly industrialized country) --harus dijadikan salah satu target neo-imperialisme kaum zionis. Namun, belakangan diketahui bahwa pujian itu hanyalah sebuah pujian palsu untuk mempermalukan dan menambah sakitnya kejatuhan bangsa Indonesia. Kepentingan ekonomi global yang dikuasai zionisme Yahudi itu, secara transparan mereka sengaja menghancur-luluhkan perekonomian Indonesia agar pada waktu yang tepat mereka akan segera membanjiri Ibu Pertiwi dengan menguasai seluruh sektor riil, melalui pembelian saham yang sangat murah. Program swastanisasi dan privatisasi yang semula dicanangkan akhirnya jatuh kepada pengusaha kaum zionis. Mereka pun dengan sangat leluasa mengambil alih seluruh sektor kehidupan ekonomi. Kemudian dengan itu, mereka mampu mempunyai kekuatan untuk melakukan tekanan terhadap berbagai kebijakan politik dan arah pemerintahan, sebagaimana ucapan raja perbankan international dari dinasti Rothchild yang mencanangkan satu moto, "Siapa yang mengendalikan uang, maka ia dapat mengendalikan suatu bangsa, who control over money, they can control over the nation too."

Berbagai kerusuhan yang semakin tidak terkendali, seharusnya disikapi sebagai permasalahan yang tidak semata-mata murni masalah domestik. Campur tangan kaum zionis dengan gerakan Dajalnya yang mempunyai jaringan konspirasi bawah tanah (daabatam minal ardhi) dengan berbagai peralatan teknologi spionasenya, perusahaan jaringan informasi multinasionalnya, merupakan bentuk campur tangan agen rahasia yang sangat rapi dan sulit untuk dimunculkan (dibongkar) ke permukaan keberadaannya. Janganlah mata hati kita terkecoh hanya kepada ketidak-mampuan aparat yang gagal mengungkap aktor intelektual dibalik gerakan santet Banyuwangi yang menjadi kasus gelap (dark case), sebagaimana para pelaku Peristiwa Ketapang, yang konon para premannya telah berhasil diamankan petugas dan mengundang berbagai spekulasi.

Ke manakah mereka? Mengapa mereka tidak diadili? Apakah mereka diamankan ataukah dibina untuk membuat kerusuhan baru? Apakah mungkin karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang gampang lupa; setiap peristiwa besar manapun raib bagaikan kepulan asap yang lalu lenyap diterpa angin dan dilupakan. Seakan-akan segala kepedihan tidak membekas sama sekali. Berbagai pertanyaan serta kerusuhan demi kerusuhan semakin gelap dan tidak terkendali. Logika sehat pasti akan menjawab, "Kemungkinan besar memang ada gerakan konspirasi Dajal yang menciptakan kerusuhan agar bangsa Indonesia tercabik dan terpuruk nelangsa dalam penderitaan serta frustasi sosial yang tinggi." Apakah mungkin ABRI yang konon terkuat di ASEAN, bahkan ikut aktif sebagai tentara perdamaian di Kamboja dan Bosnia; juga dengan jaringan intelejennya yang dikenal sangat lincah dan sigap, lantas kehilangan sama sekali seluruh profesionalismenya?

Domino effect theory, yaitu teori konspirasi internasional untuk menghancurkan suatu negara yang sedang melaksanakan suksesi; (lihat Webster Dictionary, ed.) memberikan gambaran bahwa para provokator-provokator iniernasional mencoba menyulut satu kerusuhan demi kerusuhan di Indonesia, yang seharusnya diantisipasi oleh kita sejak awal. Hal itu mengingat potensi konflik di negeri yang pluralistik ini sangat rentan terkena "sindrom konflik". Kerusuhan yang menjalar dari satu tempat ke tempat yang lain adalah bentuk "bantai dan lari" (hit and run) dan cara-cara yang sangat diketahui oleh para intelejen bahwa keadaan ini hanya akan menguntungkan kaum zionis dan menyengsarakan umat manusia, khususnya umat Islam termasuk bangsa Indonesia. Kita menggulingkan tirani, tetapi anehnya kita menjadi tirani baru, bahkan kita lebih tirani daripada tirani sebelumnya. Hawa nafsu, percikan amarah, dan berbagai potensi konflik, seakan-akan ditumpahkan mengikuti skenario "zaman aquarius", yang diyakini oleh para pemistik zionis. Bila perang etnik, agama, ras, dan golongan telah lengkap terjadi, maka kita akan menyaksikan Indonesia yang terbakar, chaos, dan anarkis. Pada saat itulah, polisi pengawal Dajal dengan leluasa "mengobok-obok" Indonesia. Dan atas nama perdamaian, mereka menyodorkan berbagai konsep yang akan mengeliminasi mitos-mitos negara kesatuan dan persatuan: gemah ripah loh jinawi, yang selama ini menjadi salah satu kebanggaan nasional bangsa Indonesia. Bagi kaum zionis, segala dogma dan mitos seperti itu harus disingkirkan dan diganti dengan mitos baru ala zionisme, yaitu semboyan membangun "era reformasi baru": satu pemerintahan yang tunduk serta patuh kepada majikannya, satu sistem perekonomian dan moneter yang memperkaya khazanah perbendaharaannya, satu agama yaitu unitarian-universalist sesuai dengan kandungan falsafah Iluminasi, novus ordo seclorum.




Bab VI MENGENAL BEBERAPA AJARAN KAFIRISASI
"Orang-orang yang menyombongkan
diri berkata, 'Sesungguhnya kami adalah
orang yang tidak percaya kepada apa yang
kamu imani itu'…" (al-A'raf: 76).



Gerakan konspirasi global yang dipelopori tokoh dan organisasi anti-agama, seperti: The Knight Templar, Adam Weishaupt, Theodore Hertzl, Aliester Crowley, telah melahirkan gerakan neo zionisme. Gerakan neo zionisme adalah sebuah gerakan yang tidak lagi menjadikan pendirian Negara Israel sebagai isu sentral, melainkan sudah berubah menjadi satu ambisi atau gerakan konspirasi untuk menguasai dunia dengan cara menguasai moneter dan menundukkan agama-agama konservatif yang dianggapnya akan menjadi penghalang untuk mewujudkan cita-cita "dunia baru" (novus ordo seclorum). Neo-zionisme ingin menghapuskan ajaran-ajaran dogma agama. Semula mereka hanya menghantam Kerajaan Katolik Roma. Dengan nyata-nyata, mereka mengaku sebagai anti-Kristus, namun kemudian mereka menyerang seluruh agama, terutama agama Islam sebagai agama tauhid yang memberikan pencerahan dan semangat perjuangan serta pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan. Mereka menganggap agama Islam sebagai saingan utamanya dalam menegakkan "pemerintahan global" tersebut. Mereka mencoba memasuki berbagai ajaran agama, mengubahnya, menyusupkan ajaran-ajaran palsunya. Hal itu sebagaimana Al-Qur'an telah memperingatkan kelicikan tata cara kaum Yahudi yang mengubah beberapa bagian dari Bibel. Hal yang paling nyata adalah ulah Anton Sandorz La Vey yang membuat Satanic Bible sebagai bentuk persaingan nyata atas Bibel kaum Kristiani.

Dalam bidang pemikiran, kaum neo-zionisme memperkenalkan satu bentuk ideologi ateisme baru, yaitu ajaran berpikir bebas (freethinking), nihilisme, unitarian-universalist, humanisme sekuler, aliran kiri baru (leftist), dan sebagainya.

Dogma-dogma agama diserang melalui berbagai penalaran yang dianggap sebagai bentuk pemikiran modern dan paling humanis. Mereka pun melemparkan ranjau dengan mengajarkan bahwa potensi kekacauan dan konflik lebih dihasilkan melalui agama. Bila dunia ingin damai sejahtera maka dunia harus dibebaskan dari tirani agama, karena agama inilah yang menjadi pemicu utama tumbuhnya konflik dunia.

Tentang gerakan kafirisasi neo-zionisme ini, penulis akan menguraikan secara umum dan singkat beberapa aliran kepercayaan, sekte, serta pemikiran baru yang berbau ateisme agar umat Islam dan juga umat beragama sadar bahwa di hadapan kita telah bergerak "buldozer kafirisasi" yang akan mencabut umat beragama dari Tuhannya masing-masing.

Bab VI : A. Setanisme
Penyembahan terhadap setan ini, untuk pertama kali diperkenalkan secara sistematis dan terorganisasi oleh Aleister Crowley (1875-1947). Pengalaman dirinya mempelajari aliran kebatinan, khususnya tradisi mistik kuno Yahudi yang disebut Kabalah telah mengantarkannya menjadi anggota Order of the Golden Dawn, sebuah organisasi yang mempelajari dan mengembangkan ajaran mistik dan ikut mengembangkan organisasi freemason sebagai organisasi "lelaki jantan" yang memilih dan mengembangkannya sebagai organisasi yang sangat ketat untuk membangun lelaki yang kuat, cerdas, dan mempunyai daya pikat. Crowley dianggap sebagai penggagas pertama lahirnya ajaran setanisme dan bertujuan untuk mempersatukan atau melebur semua agama yang ada.

Ajaran dan pemikiran tentang setanisme ini dituangkan dalam tulisannya yang diberi judul Liber Legis yang intinya mengajarkan kebebasan manusia sebagai inti kehidupan. Dia menekankan bahwa hidup yang sebenarnya harus terbebaskan dari segala ikatan peraturan, sebagaimana ditulisnya:

"Tidak ada hukum, kerjakanlah apa yang kau inginkan. Jadilah kuat, sang laki-laki! Nikmati dan reguklah dengan sepuasnya segala kegairahan nafsu, jangan takut dengan Tuhan karena perbuatanmu itu."

(There is no law, do what you will, be strong man! Desire and enjoy all things of the senses and ecstacy; do not fear that God will reject you for this…)

Andrea Porcarelli menulis, "Ajaran setan merupakan bentuk pemujaan diri yang dihubungkan dengan caranya yang radikal untuk melawan segala macam bentuk ketuhanan, khususnya gambaran Tuhan sebagaimana tertulis dalam Bibel."

("Satanism is the abosulute exaltation of the self, connected with a radical rebellion against the divine in general and of the God of the Bible in particular. . .. ")

Secara garis besar ajaran setanisme ini dapat dikelompokkan dalam tiga bagian besar, yaitu sebagai berikut

1. Religious Satanisme. Bagi para pengikutnya, setan adalah sumber kehidupan dan kekuatan alam yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan akhirat. Setan memberikan arah dan ajaran untuk menikmati hidup yang nyata sebagai surga dan neraka. Dunia adalah tempat keduanya. Untuk itu, setanisme mengajarkan sekularisme murni dalam pengertian hidup hanya untuk hari ini, dan jangan percaya dengan kehidupan akhirat. Inilah agama setan. Agama yang nyata dan langsung menyentuh kehidupan manusia yang paling eksistensial tanpa diracuni oleh dogma-dogma. Dan, bagi para pangikutnya setanisme adalah benar-benar agama yang bukan dogma. Agama yang mengajarkan cara hidup merdeka, sebagaimana setan yang menunjukkan jati dirinya sebagai jiwa yang bebas merdeka dan demokratis. Setan berani melawan kehendak Tuhan sebagai bukti bahwa setan merupakan sebuah kekuatan natural yang ingin meningkatkan "martabat" manusia untuk berani melawan setiap penindasan. Bagi mereka setan adalah "bapaknya demokrasi" yang memberikan contoh keberanian, kejantanan kepada umat manusia, dengan cara. memprotes Tuhan, walaupun harus mengambil risiko terbuang dari surga.

2. Gothic Satanism. Ia merupakan bentuk ajaran setan yang menekankan pada bentuk-bentuk ritual, seperti pengorbanan, ritual mistik; dan sihir yang merupakan bagian dari tata cara ritual penyembahan kepada setan dalam bentuknya yang kuno dan primitif; sebagaimana terjadi pada abad pertengahan. Beberapa aliran dan simbol setan ini diambil atau diterapkan beberapa tata cara sebagaimana ritual atau sakramen yang berlaku di dalam gereja Kristiani. Mereka mengganti salib dengan membuat salib terbalik atau membuat lambang sendiri berupa gambar swastika; pentagram, dan sebagainya. Agama-agama pagan selalu memakai berbagai simbol amulet, sehingga ada beberapa sekte Kristen yang tidak memakai salib, karena dianggapnya salib sebagai bentuk simbolisasi dari agama pagan tersebut. Gothic Satanisme terlahir pada saat umat Kristen memburu kaum bid'ah dan membakar para wanita tukang sihir (the witch burnings).

3. Satanic Dabblers. Bentuk ajaran ini merupakan sinkretisasi atau gabungan dari berbagai aliran kepercayaan dan memperkaya dirinya dengan aliran sihir (black magic). Aliester Crowley memelopori tata cara gabungan mistik ini dalam ajaran mistiknya yang disebut dengan Thelema. Dalam bentuknya yang modern, ritual isme penyembah setan ini dianggap sebagai bentuk pelanggaran kriminal, seperti menggali atau merusak kuburan tertentu, serta melakukan vandalisasi pada kuburan dengan tulisan atau gambar dan simbol setan.

Ajaran Crowley dikembangkan lebih modern dan terorganisasi rapi oleh Anto Sandorz La Vey yang mendirikan Church of Satan (Gereja Setan) pada tanggal 30 April 1966 yang dikenal dengan "hari setan" (Walpurgisnacht). Untuk menanamkan keyakinan kepada para pengikutnya, La Vey mengarang beberapa buku di antaranya: The Satanic Bible (1969), The Satanic Ritual (1969), dan The Complete Witch (1972).

Organisasinya dikembangkan dengan sistem manajemen modern. Setiap daerah ditentukan hierarki gereja yang disebut grottos, pylons atau kuil. Ajaran setanisme ini menjungkirbalikkan seluruh tatanan keyakinan agama yang ada khususnya Kristen. Beberapa ajarannya adalah sebagai berikut.

a. "Tuhan diciptakan sendiri oleh manusia dengan berbagai bentuk sesuai imajinasi manusia itu sendiri. Tuhan tidak ada, selama manusia berpikir bahwa Tuhan memang tidak ada"

b. "Surga dan neraka tidak ada (heaven and hell do not exist)."

c. "Setan bukanlah suatu wujud, melainkan sebuah kekuatan alam kosmik."

d. "Setan mempunyai berbagai nama antara lain Lucifer, Belial, dan Leviathan, disamping simbol-simbol lainnya yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari ajaran setanisme, seperti Baphomet dan Jahbulon."

e. "Manusia adalah sentral perhatian, karena manusia merupakan bintang dalam struktur kosmik."

Ajaran setanisme yang ditawarkan oleh La Vey hanyalah bagian kecil saja dari sebuah konspirasi ideologi global yang menunjukkan kesombongan atau arogansi yang menantang dan sekaligus menafikan sistem iman umat beragama, sebagaimana dijelaskan dengan gamblang di dalam Al-Qur'an tentang sifat orang-orang kafir sebagai berikut:

"Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit." (Shad: 2)

Ajaran setanisme merupakan bentuk ideologi baru yang secara nyata menantang kaum beragama untuk memperkuat diri dari terpaan atau serangan mereka yang menyerbu dengan dahsyat dan mengguncang hati umat manusia.

 Bab VI : B. Upacara Ritual Gereja Setan
Bentuk upacara gereja setan penuh dengan nuansa magis. Ruangan yang dicat hitam dengan altar yang di kelilingi cahaya lilin yang temaram. Pada bagian kanan altar ditempatkan lilin berwarna putih yang melambangkan sihir putih (white magic) sedangkan di sebelah kiri ditempatkan lilin berwarna hitam sebagai lambang dari kekuatan sihir hitam (black magic) atau sering disebut sebagai "kekuatan kegelapan" (the powers of darkness). Upacara dipimpin pendeta dengan membunyikan bel sembilan kali dan pemimpin berjalan mengelilingi altar berlawanan dengan arah jarum jam.

Beberapa perangkat lain dalam upacara tersebut antara lain: pedang, mangkok, tengkorak, bel kecil yang diletakkan pada meja dekat altar Pada awal pembentukan gereja setan, biasanya dibaringkan seorang wanita bugil di atas altar, tepat di bawah lambang pentagram. Selesai upacara yang diiringi dengan nyanyian dan mantera- mantera, dilanjutkan dengan hubungan badan massal diantara anggota jemaatnya (orgy), atau melakukan masturbasi. Para jemaat terlibat aktif dalam kegiatan seks secara bebas diantara jemaat yang hadir, sesuai dengan keinginannya masing-masing (engage in sexual activity freely, in accordance with your needs , which may be best realized through monogamy, or by having sex with many others, through heterosexuality, homosexuality, or bisexuality).

Upacara ini dilakukan pada saat tertentu yang ditetapkan, untuk melantik atau melakuan inisiasi anggota baru, penyembuhan, serta instruksi dari pimpinan gereja.

La Vey memperkenalkan pula beberapa hari besar yang harus dirayakan pengikut gereja setan antara lain, sebagai berikut:

1. Walpurgisnacht pada tanggal 30 April.
2. Haloween pada malam 31 Oktober
3. Solstices bulan Juni dan Desember
4. Equinoxes pada bulan Maret dan September

Ajaran setanisme memperkenalkan, bahkan mengakui pula eksistensi Lucifer serta Leviathan yang sering dikaitkan sebagai satu wujud kekuatan kosmik, diambil dari aliran mistik kuno Yahudi yang menghubungkannya dengan kata "Heylei" yang artinya 'bintang pagi yang cemerlang'. Lucifer dipersonifikasikan pula sebagai anak dari Astra dan Auora atau Eos. Lucifer dipuja karena dianggapnya sebagai "putra cahaya" (the son of light) dan merupakan mitra dari setan sebagai "anak kegelapan" (the son of darkness).




Bab VI : C. Sekte-sekte
1. The People Temple (Kenisah/Kuil Rakyat)

Didirikan oleh James (Jim) Warren Jones (1931-1978) di Indianapolis tahun 1950. Semula didirikannya sebagai bentuk kegiatan yang bersifat sosial-keagamaan, menyatukan warga keturunan Afrika-Amerika, mengurus orang-orang jompo, tunawisma, dan para penganggur. Jim Jones mengajarkan cinta kasih, persaudaraan, kebebasan, dan persamaan, lalu berkembang menjadi satu ajaran yang bersifat sosialistis, bahkan komunis. Dalam perkembangan lebih lanjut Jim Jones mengecam pemerintah dan umat Kristiani sebagai orang-orang kulit putih yang munafik (the hypocrisy of white Christian) yang kemudian menyebabkan kelompok tersebut mulai dibenci oleh masyarakat sekitarnya.

Oleh karena tekanan lingkungan, menyebabkan dia memindahkan pusat kegiatannya ke Ukiah di Northern California dan menggalakkan ajarannya dengan mengatakan bahwa kiamat hanya tinggal hitungan waktu dan bumi hancur dikarenakan perang nuklir. Ajarannya yang ekstrem, menyebabkan dia pindah lagi ke Jonestown Guyana. Di tempat yang baru ini, ia memulai kehidupan komunal. Di atas lahan seluas empat hektar, kelompoknya mulai mengembangkan hidup mandiri dengan cara memenuhi seluruh kehidupannya melalui hasil karya jemaatnya. Jones mengembangkan ajarannya dengan nama the transaltion sebagai bentuk ajaran akan kehidupan hakiki, yaitu di planet ruang angkasa. Jasad hanyalah sementara, sedangkan roh akan segera kembali ke tempat asalnya di planet. Pada tahun 1970, Jones terlibat dengan pemakain obat terlarang dalam jumlah yang besar dan diduga menjadi sumber penghasilannya untuk mendanai Kenisah/Kuil Rakyat. Pada bulan November 1978, Leo Ryan seorang anggota Kongres meluangkan waktunya untuk memeriksa kehidupan para pengikut Kenisah Rakyat di Jonestown tersebut. Setelah selesai melakukan kunjungannya, Ryan yang berada di ruang tunggu bandara untuk kembali ke Amerika. Lalu pada saat yang bersamaan, ia didatangi oleh sekelompok pengikut Kenisah Rakyat (the people temple) dengan senjata berat lalu memberondong Leo Ryan bersama empat pengawalnya hingga tewas.

Peristiwa ini menyebabkan seluruh pengikutnya berada dalam tekanan dan rasa takut. Jim Jones memberikan pidato rohaninya di hadapan seluruh pengikutnya, seraya mengatakan, "Kehidupan kita tidak di sini. Dunia hanya tempat setan dan orang-orang yang munafik. Kita adalah anak anak Tuhan dan warga planet (planetary citizen) yang akan segera kembali untuk kemudian turun lagi ke bumi sebagai 'pasukan pilihan' untuk menyelamatkan manusia." Selepas pidato, Jim Jones mengajak seluruh pengikutnya untuk melakukan bunuh diri dengan minum racun sianida sehingga 638 orang dewasa dan 276 anak-anak mati seketika. Dan menurut saksi, ada juga yang mati karena
menembak diri atau ditembak temannya. Sedangkan sebagian yang lain, ada yang melarikan diri ke hutan.

2. The House of Jahweh (Jehovah)
Pada saat Jacob Hawkins bekerja di Kibutz, Israel, pada tahun 1967, ketika itu pula didirikan House of Jahweh yang diyakininya sebagaimana para pengikut Musa yang telah dipilih Tuhan. Dan, pengikutnya menyebutnya pula dengan nama "Odessa TX". Aliran ini mempercayai Yahweh atau Elohim sebagai Tuhan dan Yoshua adalah anak Tuhan dan memusatkan kegiatan agamanya pada hari Sabtu. Sehingga mereka menyebut dirinya sebagai Sabbatarians dan merayakan hari-hari agama Yahudi seperti Pantekosta dan Tebernekel. Para anggotanya diwajibkan mengeluarkan derma 10 persen dari penghasilannya untuk kemajuan dan pengembangan agama. Mereka sangat keras dalam disiplin dan tidak mengakui perayaan, sebagaimana menjadi kebiasaan umat Kristiani saat ini, seperti perayaan hari Natal, Paskah, dan Haloween yang dianggapnya sebagai budaya orang kafir (pagan). Sesuai dengan Kitab Injil Perjanjian Lama Imamat 23, mereka merayakan pula dua perayaan agama yang dianggapnya sangat penting, yaitu Yoshua's Memorial dan Last Great Day. Upacara agama yang secara rutin diselenggarakannya pada setiap hari Sabtu disebutnya sebagai the prophetci word.

Para pengikutnya sangat meyakini beberapa ajaran pokok yang harus ditaatinya dengan penuh disiplin, antara lain sebagai berikut:

a. Setan berjenis kelamin wanita yang secara tidak langsung telah menguasai kehidupan manusia, terutama para pegawai pemerintah dan tokoh agama Katolik dan Protestan yang dianggapnya sebagai kelompok sesat, yang sebagaimana di simbolkan kitab Wahyu 13: 11, yaitu iblis bertanduk dua. Untuk melawan pemerintah, mereka membentuk pasukan bela diri yang disebutnya sebagai "Posse Comitatus" dan berpusat di Wisconsin, kota di Amerika

b. Kiamat akan terjadi pada tahun 2001 dan 80 persen penduduk dunia akan mati disebabkan oleh pecahnya perang nuklir Mereka meyakini bahwa hanya pengikut House of Yahweh yang akan selamat dan meneruskan kehidupan damai selama seribu tahun di muka bumi. Para pengikutnya akan memerankan bagian yang sangat penting dalam menghadapi Armageddon atau keguncangan, huru-hara besar di muka bumi.

3. The Heaven's Gate (Gerbang Surga)
Didirikan oleh Marshall Herff Applewhite dan Bonnie "TI" Lu Trusdale Netteles. Pada awalnya, mereka mendirikan HIM (Manusia Metamorfosis Individu; Human Individual Metamorphosis) pada tahun 1975. Setelah Bonnie meninggal karena terserang kanker tahun 1985, Applewhite mengubah nama HIM menjadi TOA (Penguasa Total Tanpa Nama; Total Overcame Anonymous) pada tahun 1993 dan memindahkan pusat kegiatannya ke San Diego dan mengganti nama TOA menjadi Heaven's Gate.

Para pengikutnya sangat percaya bahwa kehidupan manusia berasal dari makhluk angkasa luar (extraterrestrial: ET) yang diutus oleh kerajaan surga di langit (kingdom of heaven) dan turun ke bumi kira kira 2000 tahun yang lalu. Makhluk yang turun tersebut berjenis kelamin laki-laki, yaitu "DO" dan ditemani oleh teman wanitanya yang bernaina "TI". Mereka mengendarai pesawat ruang angkasa, dengan "DO" sebagai kaptennya dan "TI" sebagai salah satu admiral yang bertugas sebagai mitra pilot. Mereka sangat percaya bahwa Yesus merupakan bentuk tubuh yang telah dimasuki oleh kekuatan "DO" dan "TI" sehingga pada tubuh Yesus terdapat nilai-nilai surga.

Dipengaruhi kitab Injil Perjanjian Baru Wahyu, mereka sangat yakin bahwa ada hubungan yang erat antara UFO (Unidentified Flying Object) dengan manusia di bumi. Sehingga untuk menyelamatkan diri, manusia harus mampu berkomunikasi dengan UFO, karena roh yang ada di dalam tubuh manusia adalah UFO itu sendiri. Sedangkan tubuh sekadar kontainer atau tempat sementara UFO. Seseorang dapat langsung menuju kerajaan langit dengan cara bunuh diri. Dan pada tanggal 23 Maret 1997 yang lalu, para pengikut Heaven's Gate yang terdiri atas 21 wanita dan 18 pria, semua bunuh diri bersama-sama dengan cara minum racun dan kepalanya dibungkus plastik hitam. Mereka yakin bahwa dengan cara seperti itu, penderitaan dunia hilang dan rohnya akan segera menuju ke langit.

4. The Solar Templar
Didirikan oleh Luc Jouret pada tahun 1997 yang merupakan kelanjutan dari "Yayasan Jalan Emas" (Golden Way) di bawah pimpinan Joseph Di Mambro (1926-1995). Jouret meyakinkan para pengikutnya bahwa dirinya adalah titisan dari para Ksatria Templar yang hidup pada abad 14 pada waktu Perang Salib. Itulah sebabnya Solar Templar disebut juga dengan nama International Chivalricc Order Solar Tradition. Aliran ini menyembah matahari (sol invictus), sebagaimana tradisi paraTemplar yang dipengaruhi oleh Raja Konstantin.

Mereka sangat yakin bahwa hari kiamat terjadi karena kobaran api yang menyala-nyala, sebagai akibat ulah manusia sendiri, terutama kerusakan lingkungan. Sehingga kondisi lingkungan di bumi tidak dapat lagi menahan terpaan sinar matahari. Untuk menyelamatkan dunia, mereka harus terlibat aktif dalam program penyelamatan lingkungan agar kiamat dapat dicegah atau ditunda.

Penyimpangan yang sangat mendasar dari aliran ini adalah keyakinan akan kematian sebelum kiamat. Para pengikutnya dapat segera menuju ke surga, bila mereka membakar dirinya, sehingga menyatu dengan panasnya sinar matahari sebagai tuhan mereka.

Sebagaimana banyak aliran sempalan lainnya, The Solar Templar tidak luput dari bentuk kriminal dan bunuh diri para pengikutnya. Hal itu terjadi di Swiss; di Montreal dan Quebec, Kanada, setidaknya 53 orang melakukan bunuh diri atau dibunuh.

5. The Family
Didirikan oleh Charles Milles Manson, yang dikenal sebagai sosok manusia yang mempunyai daya pikat. Mampu mempengaruhi para pengikutnya bagaikan terkena hipnotisnya. Kegiatannya dipusatkan di sebuah perkampungan 30 km utara dari kota Los Angeles. Manson menerbitkan satu buletin dengan nama The Family sebagai media komunikasi untuk menyampaikan instruksi kepada para pengikutnya.

Sebagaimana Solar Templar, Manson sangat peduli terhadap lingkungan dan polusi, sehingga tidak segan melakukan pembunuhan terhadap para tokoh yang dianggap sebagai penyebab kerusakan lingkungan dan kehidupan moral yang rusak. Puncak kebenciannya diwujudkan dengan membunuh Gary Hinman, seorang musisi dan pengedar obat di Los Angeles pada tanggal 31 Juli 1969. Ia juga seorang pembunuh berantai yang sadis. Itu sempat dilakukannya terhadap Sharon Tate Polanski yang sedang mengandung bersama dengan tiga orang teman atau keluarganya pada 9 Agustus 1969.

6. Aum Shinri Kyo
Aliran ini didirikan tahun 1987. oleh Shoko Asahara alias Chizuo Matsumoto (lahir 1955). Sejak lahir, ia mengalami kebutaan dan masuk sekolah luar biasa dan mempelajari cara-cara akupunktur. Setelah dewasa, dia membuka toko obat tradisional dan membuka sekolah Yoga, yang kemudian mengantarkannya untuk melakukan perjalanan ke Gunung Himalaya untuk mendalami Budha dan ajaran Hindu. Kemudian setelah itu muncullah gagasannya untuk mendirikan. aliran Aum Shinri Kyo tahun 1987. Kata "Aum" diambil dari salah satu kata silabel Hindu dan "Shinri Kyo" artinya 'kebenaran tertinggi' yang mencoba menggabungkan atau sinkretisasi antara ajaran Budha, Hindu, dan Kristen yang diilhami oleh Kitab Wahyu.

Asahara dianggap sebagai Kristus oleh para pengikutnya atau Krishna yang akan menyelamatkan dunia. Beberapa kejadian yang menghebohkan masyarakat Jepang dan kekuatan serta fanatisme para pengikutnya.

Para pengikut Aum Shinri Kyo sangat terpikat oleh janji dari Asahara yang akan memberikan kekuatan supranatural kepada para pengikutnya agar dapat selamat dalam pertempuran dahsyat "Armageddon". Sebagian pengikut lainnya terpikat karena ajaran Asahara yang sangat antikorupsi.serta kebejatan moral di kalangan pemerintah Jepang yang dianggapnya sangat matrialistik dan tiran.

Asahara menyatakan bahwa dirinya telah mampu melakukan transformasi dirinya ke tahun 2006. Dia.mendapatkan petunjuk bahwa setelah terjadi "Perang Dunia III" atau Armageddon tersebut, kelompoknya akan menjadi pelopor untuk menghancurkan masyarakat yang telah rusak di Jepang, lalu melawan para polisi dan angkatan bersenjata perang pemerintah Jepang dan Amerika Serikat.

Harian New York Times terbitan 25 Mei 1998 melakukan penelitian bahwa kelompok Aum Shinri Kyo telah membuat berbagai pabrik industri kimia yang mampu memproduksi kimia serta merekayasa mikrobiologi yang akan dijadikan sebagai senjata untuk menghancurkan berbagai instalasi penting di Jepang antara lain: Majelis Rakyat, Istana Raja, dan pangkalan militer Amerika di Yokosuka Mereka mempunyai kendaraan khusus untuk menyebarkan senjata kimia tersebut. Pada tahun 1980, Tsutsurni Sakamoto seorang pengacara yang memperkarakan Asahara melakukan rekaman wawancara dengannya di studio rekaman di Tokyo, tetapi hasil rekamannya tidak sempat disiarkan karena telanjur dibunuh oleh para pengikutAum Shinri Kyo. Menurut keterangan para pengikut yang tertangkap, Tsutsumi beserta istri dan anaknya diculik, kemudian mereka dibunuh dengan cara diberikan suntikan potasium klorida dengan dosis lebih.

Pembunuhan massal dilakukannya dengan cara menyebarkan gas syaraf beracun di stasiun kereta api bawah tanah pada tanggal 20 Maret 1995. Seketika itu pula, 11 penumpang meninggal, sedangkan lebih dari 500 orang terluka. Karena perbuatannya ini, Asahara ditangkap dan dimasukkan ke penjara pada bulan Juni 1996. Juga ikut serta bersama Asahara adalah Ikuo Hayashi seorang dokter (oleh pers dijuluki sebagai "dokter kematian") ia dianggap paling bertanggung jawab dalam penyebaran gas racun dan lebih dari seratus pengikutnya masuk penjara dengan tuntutan 10 tahun penjara, sesuai dengan Undang-undang Kegiatan Antisubversif.

7. Branch Davidians
Aliran ini merupakan sempalan dari sekte Seven Day Adventis Church yang didirikan Victor Houteff, yang sebelumnya (1919) adalah anggota paling fanatik di lingkungan Seven Day Adventis Church. Sebagaimana sekte yang lainnya, Houteff sangat terpengaruh oleh Kitab Wahyu Pasal 13 tentang kedatangan Yesus untuk menyelamatkan manusia. Houteff berkeyakinan bahwa Yesus akan datang apabila umat Kristiani bertobat. Gagasan dan ajarannya ia tulis dalam sebuah buku yang berjudul The Shepherd's Rod yang menjadi nama kelompok untuk merekrut para pengikut yang mempercayai ajaran-ajarannya. Akan tetapi, perekrutan pertamanya. gagal, setidaknya hanya 11 orang yang berhasil ditarik untuk masuk menjadi anggota tersebut pada tahun 1942, Houteff menarik diri sepenuhnya dari Seven Day Adventis Church dan membentuk nama sekte baru yang diberi nama Davidian Seventh Day Adventist. Setelah meninggal pada tahun 1955, Davidian dilanjutkan istrinya, Florences. Di bawah kepemimpinannya, Davidians semakin berkembang, dan Florence mendapatkan banyak keuntungan materi ketika dia meramalkan bahwa yang dimaksudkan dengan 1260 hari, sebagaimana disebutkan Kitab Wahyu 11: 3 akan segera berakhir, dan Kerajaan Daud (the Kingdom of David) akan segera berdiri pada 22 April 1959. Ratusan pengikutnya menyerahkan harta benda, tabungan, dan menjual rumahnya untuk disumbangkan kepada gereja. Tetapi, ramalan Florence telah membuat kecewa jemaatnya, dikarenakan sampai pada waktu yang ditetapkan apa yang telah dinubuatkannya tidak menjadi kenyataan. Ratusan jemaat melakukan protes dan sebagian besar keluar dari kelompok Davidians. Florence mengundurkan diri dan diganti oleh Benjamin Roden yang memproklamasikan dirinya sebagai "orang yang telah ditunjuk untuk mewarisi Kerajaan Daud". Setelah dia meninggal tahun 1978, misinya digantikan oleh istrinya, Lois Roden yang mengaku telah menerima wahyu dari Tuhan dan menyatakan bahwa Tuhan berjenis kelamin wanita dan pria, sedangkan pihak ketiga: roh kudus (the holy spirit) adalah wanita. Dan, Lois mengaku bahwa Tuhan telah memberitakan tentang kedatangan Kristus dalam bentuk wujud wanita dalam penampakkannya yang kedua menjelang akhir zaman nanti. Ajaran pendahulu-pendahulu Davidians diteruskan oleh seorang pemimpin baru yang enerjik dan masih muda, yaitu David Koresh dan mengembangkan pusat ajarannya di Waco, Texas.

Koresh membangun kembali puing-puing Davidians dan mampu merekrut para pengikut dari kalangan anak-anak muda. Salah satu ajaran Koresh adalah menjadikan kehidupan seksual sebagai salah satu bentuk panggilan dan tidak terbatas pada anak-anak dan dewasa. Anak anak kecil yang berumur antara 12 sampai 16 tahun diwajibkan untuk melakukan hubungan seksual dan membangun rumah sucinya sendiri dalam per kampungan kelompoknya. Hal itu dimaksudkan untuk menghadapi hari kiamat dan datangnya "peperangan besar" (the Armageddon), Koresh membentuk pasukan bela diri yang dipersenjatai lengkap layaknya persenjataan militer.

8. Kebiasaan Para Jemaat Gereja David Koresh
Gereja David sangat keras dalam disiplin dan mendekati sikap yang fanatik. Diantara kebiasaan mereka yang wajib dilakukan oleh para jemaatnya, sebagai berikut:

a. Wajib mentaati segala peraturan dengan penuh disiplin yang mencakup antara lain: bangun pagi, makan secara bersama-sama, menanam, dan mengusahakan bahan makanan yang diolah jemaatnya sendiri, juga mewajibkan diri untuk membaca dan mempelajari Bibel secara bersungguh-sungguh dengan interval waktu yang lama, biasanya empat jam dalam satu hari.

b. Menerbitkan buletin berkala yang diberi nama Shekineth Magazine yang wajib dibaca jemaat.

c. Wajib menghadiri peringatan hari besar Yahudi, sebagaimana disebutkan di dalam Kitab Imamat 23: 4-43.

d. Sesuai dengan doktrin "cahaya baru" (new light) yang diajarkan Koresh, para wanita yang telah menikah dapat menjadi istrinya dan disebutnya sebagai "istri spiritual". Beberapa pengamat mengatakan bahwa hal ini merupakan pula salah satu cara Koresh untuk merekrut anggotanya dengan menjadikan dirinya sebagai "gigolo". Puluhan rumah tangga hancur, dan beberapa istri meminta cerai dari suaminya untuk bergabung dalam jemaat David Koresh dan merelakan dirinya sebagai "istri spiritual" (spriritual wives).

Jemaat David Koresh yang semakin berkembang telah membuat kekhawatiran para orangtua, serta dianggap mengganggu ketenteraman rumah tangga. Beberapa anak kecil telah hilang dan kemudian diketahui bergabung dengan David Koresh. Hal ini menyebabkan ikutnya campur tangan pemerintah, terutama tudingan kepada David Koresh yang memiliki berbagai senjata berat secara tidak sah, serta diduga perkampungannya dipakai sebagai pusat beredarnya obat terlarang. Pada tanggal 19 April 1993, pasukan FBI (Federal Biro Intelegent) melakukan penyerangan ke dalam perkampungan yang dihuni oleh ratusan jemaat Koresh. Kontak senjata pun terjadi, dan David Koresh, beserta 75 pengikutnya tewas ditembak oleh FBI.

9. Children of God
Aliran Children of God (Anak-anak Tuhan) yang merupakan aliran (cult) yang menyempal dari ajaran Kristen sebagai bentuk pemberontakan terhadap masyarakat kapitalis yang individualistis, serta melawan budaya yang sudah mapan. Pada era tahun 60-an, para pengikutnya dikenal juga sebagai "generasi bunga" (the flower generation); hippies, atau light clubbers. Children of God mengajak pengikutnya untuk kembali kepada akar ajaran Yesus yang murni, dan menganggap ajaran agama selain Kristen adalah sesat.

Didirikan oleh David Berg yang sebelumnya mengabdi sebagai penginjil Evangelist di Aliansi Misionaris Kristen (Christian and Missionary Aliance). Sebagaimana aliran-aliran sesat lainnya, David Berg membuat pula ramalan antara lain bahwa hari kiamat akan terjadi pada pertengahan tahun 1980 lalu, apabila kekuatan koalisi Israel Amerika telah dikalahkan. Dan pada tahun 1989 akan lahir anti-Kristus.

Di samping berkedok dengan mengatas-namakan cinta kasih, beberapa ajaran Children of God yang dijadikan sebagai peraturan (ordo) anggotanya antara lain sebagai berikut:

a. Para anggota sekte The Family menganggap David Berg sebagai "nabi" akhir zaman yang telah diutus Tuhan.

b. Mereka menentang cara kerja pemerintah dan kehidupan beberapa anggota masyarakat yang dianggapnya telah bekerja untuk setan dan menyimpang dari ajaran kasih Tuhan.

c. Kepuasan seksual, mulai dari masturbasi sampai hubungan badan diantara sesama anggotanya dianggap sebagai hadiah Tuhan, yang harus disyukuri dan dilaksanakan dengan penuh suka cita oleh anggotanya.

d. Mereka tidak percaya kepada ajaran Trinitas. Mereka juga sangat yakin bahwa Yesus telah melakuan hubungan intim dengan ibunya, Maria. Bahkan, anggotanya percaya dengan doktrin bahwa malaikat Jibril terlibat hubungan seksual dengan Maria untuk membentuk konsepsi Yesus.

e. Mereka memandang Roh Kudus sebagai bentuk yang feminin dan menjadi daya atau dorongan untuk kegairahan cinta yang dipengaruhi oleh "ratu cinta yang suci" (the holy queen of love) .

Untuk membina hubungan komunikasi dengan para anggotanya, David Berg menerbitkan buletin Mo Letter ("Mo" singkatan dari Musa). Salah satu seruan yang disebarkan melalui Mo Letter dan menjadi satu keyakinan anggotanya adalah "loving Jesus revelation" (mencintai wahyu Yesus). Sebuah ungkapan yang memberikan jalan untuk menuju cinta abadi dengan kepuasan seksual. Mereka menghafalkan "sajak David Berg" ini sebagai mantera sebelum melakukan hubungan badan dimana sang pria akan membisikkannya kepada pasangannya baik itu heteroseksual maupun homoseksual atau lesbian, sebagai berikut:

Ketika engkau dicekam rasa sepi
Katakanlah pada-Ku, engkau mencintai-Ku
Tunjukkan kepada-Ku, engkau mencintai-Ku
Inilah cara yang paling dekat dan jalan yang paling utama
Untuk mencintai-Ku

(In the quietness of your chamber when you are alone ,
you can tell Me you love Me and you can show Me you love Me. For this
is a very intimate and special way of loving Me)

Para anggota The Family berhimpun dalam sebuah komunal tanpa ikatan pernikahan, karena ikatan pernikahan menentang ajaran Yesus yang telah mengisyaratkan "anti-family", sebagaimana mereka menafsirkan Matius 10: 34-37 yaitu:

"Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi. Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumah. Barangsiapa mengasihi bapak atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagiku.. . ."

Lukas 14:26 , "Jikalau seseorang datang kepada Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.°

10. Saksi Jehovah (Jehovah Witnesses)
Didirikan oleh Charles Taze Russel (1852-1916). Dan sebelum mendirikan sekte Saksi Jehovah ini, Russel adalah anggota sekte Presbitarian, Congregational, kemudian menjadi pengikut sekte Adven. Dia mendirikan jemaat sekolah Injil yang diberi nama Zion's Watch Tower Bible and Tract Society. Setelah Russel meninggal dunia pada tahun 1916, kelompok tersebut dipimpin oleh Joseph Franklin Rutherford yang berhasil mengembangkan organisasi keagamaan tersebut dengan merekrut lebih banyak jemaat. Pada tahun 1931, gerakan keagamaan ini lebih dikenal dengan nama Saksi Jehovah (Jehovah Witnesses) dan memfokuskan propaganda agamanya dalam kegiatan penerbitan, diantaranya buletin Watchtower yang diterjemahkan dalam 129 bahasa dan mencapai oplah 22 juta eksemplar yang disebarkan ke seluruh pelosok secara gratis.

Beberapa anggota sekte Saksi Jehovah mempunyai ciri yang sangat khas, yang dijadikan sebagai dasar ajaran dari para pengikutnya, yaitu sebagai berikut:

a. Menolak transplantasi organ tubuh dan tranfusi darah, sesuai dengan penafsiran mereka terhadap Kitab Kejadian 9: 4, Imamat 17: 12-14, Kisah Rasul 15: 29.

b. Meyakini bahwa Tuhan adalah satu, yaitu Jehovah sebagai "pemegang supremasi" (the supreme being), sedangkan Yesus adalah anak Tuhan yang sebelumnya merupakan roh, sebagaimana malaikat Mikail. Kemudian mewujud dalam bentuk fisik Yesus sebagai manusia suci yang sejak lahir dan kematiannya. Kebangkitan setelah Yesus mati diyakini dalam bentuk roh bukan fisik. Mereka tidak mengakui Trinitas atau Bunda Maria sebagai bagian dari ritual mereka. Yang dimaksudkan dengan Roh Kudus bukanlah Maria, melainkan bentuk kekuasaan Tuhan dalam berhubungan dengan dunia.

c. Mereka menolak salib sebagai simbol Kristen, karena tanda salib merupakan tanda orang-orang kafir (pagan), yang berasal dari kata "stauros" yang artinya 'tiang penyiksaan'. Mereka juga meyakini bahwa Yesus tidak disalib, melainkan disiksa dengan cara tangannya diikat lurus ke atas dan bukan terbuka, sebagaimana salib yang diyakini umat Kristen umumnya.

d. Mereka yakin bahwa Kristus akan datang dan memimpin dunia pada tahun 1914 lalu. Hal ini terbukti dengan terjadinya Perang Dunia I, sebagai simbol kekejaman setan yang kemudian dikalahkan oleh Kristus dengan membuat "kerajaan surga" di muka bumi.

e. Mereka yakin bahwa dalam waktu yang sangat dekat akan segera terjadi Armageddon pertempuran yang akan mengantarkan kepada kiamat. Dan Saksi Jehovah akan dipilih sebagai "prajurit Tuhan", sesuai dengan Wahyu 17, untuk membantu Yesus melawan agama-agama palsu, membantu mendirikan kerajaan Tuhan selama seribu tahun yang disebut dengan miliennium.

f. Mereka yakin bahwa Yesus bukan lahir pada tanggal 25 Desember, tetapi pada tanggal 2 Oktober. Mereka tidak merayakan hari peringatan kematian atau kelahiran Yesus. Bahkan, para anggota yang kedapatan merayakan Hari Natal, Thanksgiving, Hari Kemerdekaan, Haloween, serta perayaan budaya atau nasional lainnya dianggap telah melanggar kesucian agama.

Berbagai aliran atau sekte keagamaan di lingkungan Kristen kiranya tidak akan pernah berhenti, sebagaimana juga kemungkinannya untuk menyelusup ke tubuh agama lainnya. Hal ini bukan dikarenakan terbukanya berbagai penafsiran terhadap ayat pada Bibel, melainkan adanya upaya-upaya tertentu untuk membuat para pengikut agama Kristen serta agama lainnya agar melepaskan dirinya dari ajaran agamanya. Kemudian beralih kepada ajaran-ajaran sesat yang tidak lain merupakan bagian dari konspirasi kafirisasi atau memurtadkan para pemeluk agama dari keyakinannya. Bisa saja perubahan tersebut dilihat dari segi antropologi budaya seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang semakin modern, tetapi satu hal yang harus dicatat bahwa perkembangan budaya tersebut tidak lepas dari upaya tangan manusia untuk menciptakan, mengarahkan, membentuk opini, keyakinan, dan kecenderungan umat manusia terhadap keyakinan tertentu. Dengan kata lain, kemajuan teknologi komunikasi akan mempercepat dinamika pemahaman umat manusia terhadap agama. Di satu pihak akan memperkuat keyakinan terhadap agama yang dipeluknya, serta penyebaran agama-agama baru sebagai agama alternatif yang semakin bersinggungan, tetapi di pihak lain menyebabkan tantangan yang semakin terbuka terhadap para pemeluk agama tersebut untuk menentukan pilihannya.

11. The Way International
Didirikan oleh Victor Paul Wierwille (1916-1985) pada tahun 1942. Sebelum mendirikan The Way International, dia adalah seorang penginjil yang bergabung dalam Evangelical and Reformed Church. Setelah kembali melakukan kunjungan ke India, dia mengaku dirinya telah mendapatkan "bisikan wahyu" dari Tuhan dan dirinya ditunjuk sebagai penunjuk jalan untuk menyelamatkan umat manusia dan merasa yakin Tuhan menunjuknya sesuai dengan Kisah Para Rasul 9:2 sebagai berikut:

"... dan meminta surat kuasa daripadanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem."

Dia keluar dari Evangelical and Reformed Church dan mendirikan The Way International sebagai sekte baru di lingkungan Kristen, dengan beberapa ajaran sebagai berikut:

a. Para pengikut The Way International tidak. mengenal pembaptisan. Karena pembaptisan harus dihayati dan dipahami, sehingga setiap pengikutnya lebih mementingkan pertobatan melalui ucapan yang jelas dan dinyatakan melalui lisan mereka. Dalam beberapa hal hampir mirip dengan tata cara di lingkungan Pantekosta.

b. Dalam hal ketuhanan, The Way International tidak mengakui Trinitas. Bagi mereka Tuhan adalah satu atau cenderung monoteisme, seperti halnya agama Yahudi.

c. Manusia yang mati bagaikan orang yang tidur atau tidak sadar dan akan dibangkitkan kembali ketika Yesus kembali atau turun ke bumi, keyakinan ini disebut mereka sebagai "jiwa yang tidur" (the sleep soul).

d. Yesus tidak disalib di atas palang, melainkan di atas papan lurus dengan tangan ke atas. Penyaliban tersebut terjadi pada hari Rabu dan bangkit kembali pada hari Sabtu.

12. Unfication Church
Didirikan oleh Sun Myung Moon (artinya, orang yang telah mendapatkan kebenaran) di Seoul Korea Selatan pada tahun 1954. Sun Myung Moon sendiri dilahirkan pada tahun 1920 di Korea Utara. Pada tahun 1972, dia pindah ke Amerika dan membuat kejutan dengan mengadakan pernikahan massal, di mana dua ribu pasangan hadir untuk mendapatkan pemberkatan pada tahun 1984. Saat ini, Unification Church telah merambah hampir ke 150 negara, termasuk di kawasan Rusia.

Beberapa ajaran Unification Church antara lain, sebagai berikut:

a. Mereka mempunyai keyakinan bahwa Tuhan adalah unik dan merupakan zat tunggal (single being), sehingga. mendekati pada keyakinan atas monoteisme. Tuhan adalah sumber kesempurnaan dan karenanya mempunyai nilai-nilai yang bersifat cerdas, serta kuat dan jantan. Sedangkan, Roh Kudus yang diyakini umat Kristen selama ini dinilai oleh gereja Unifikasi sebagai jiwa yang mengandung sifat-sifat kelembutan (feminin).

b. Adam dan Hawa diyakini telah melakukan hubungan seksual di luar pernikahannya, di surga. Kemudian Hawa berbuat dosa besar dengan melakukan perselingkuhan dengan setan Lucifer (Eve had an affair with the Lucifer) yang menyebabkan Hawa menjadi lambang nafsu yang menurun kepada umat manusia. Dosa keduanya itu menyebabkan setan mampu melakukan kendali terhadap manusia di muka .bumi. Gereja Unifikasi berhubungan erat. dengan Komunis yang dianggapnya sebagai bentuk ideologi yang terlahir dari peristiwa pertikaian kelas antara Kabil dan Habil.

c. Yesus adalah manusia pilihan yang terlahir tanpa dosa turunan, dan dia mati sebagai manusia. Sedangkan, yang dimaksudkan dengan kebangkitannya adalah dalam bentuk semangat atau ajarannya yang rnurni bukan bangkit dalam bentuk fisik. Dengan kebangkitan ajarannya itu menyebabkan setiap orang rnampu menjadi "Yesus" atau menjadi "juru selamat.". Mereka yang menjalankan misi Yesus berhak menerima anugerah untuk bersanding dengan Yesus, pada saat dia mati.

d.Salah satu tujuan dari Unification Church yang diilhami oleh gerakan Ilmunasi Komunis adalah membangun satu gereja dunia yang satu, mempersatukan seluruh ajaran agama, khususnya agama Kristen yang telah terserak di bawah pengawasan Unification Church.

Walaupun tidak dimasukkan ke dalam ajarannya yang resmi, para pengikut Unification Church yakin bahwa Yesus dilahirkan kembali antara tahun 1917 dan 1930 di Korea. Dia akan dikenal sebagai manusia sempurna yang akan menikahi wanita sempurna pula untuk mengemban misi sebagai "bapak" dari seluruh umat manusia (true spiritual parents of humankind). Dan para pengikutnya yakin bahwa yang dimaksudkan adalah Sun Myung Moon yang telah menikah dengan Han Ja Han sebagai reinkarnasi dari Adam dan Hawa.

f. Pernikahan massal diantara anggota merupakan salah satu ciri ajaran Unification Church. Para anggota gereja diwajibkan hanya menikah dengan sesama anggotanya dengan cara saling mengenal, kemudian mereka dinikahkan oleh pimpinan gereja melalui pemberkatan yang disebut "perayaan pemberkatan" (the holy wine ceremony). Selama tiga hari sampai satu minggu, para pasangan dilarang melakukan hubungan seksual walaupun sudah resmi dinikahkan.

g. Jemaat Unification Church merayakan beberapa hari besarnya antara lain: Hari Tuhan, Hari Orang Tua, Hari Kanak-Kanak, dan Hari Kelahiran Orang Tua Kebenaran (True Parent's Birthday).

Dari aliran atau sekte-sekte tadi, dapat kita ambil kesimpulan bahwa sempalan tersebut banyak berasal dari cara penafsiran terhadap ketuhanan Yesus, berkaitan dengan beberapa ayat dalam Bibel yang diyakini sebagai kebenaran dan mendorong dirinya untuk mempropagandakannya kepada umat manusia. Aliran dengan segala macam pemahamannya tidak lain merupakan sebuah gerakan untuk memalingkan umat manusia dari keyakinannya beragama agar mengingkari keyakinannya. Hal ini dapat dilihat dari beberapa kesimpulan sebagai berikut:

a. Para pemimpin sekte tersebut merasa mendapatkan panggilan atau ditunjuk Tuhan untuk mengemban amanat suci atau wakil dari Yesus Kristus untuk mengajak umat manusia menuju kepada keselamatam (the salvation).

b. Sekte-sekte tersebut terobsesikan oleh isi Kitab Wahyu di dalam Perjanjian Baru tentang hari kiamat (the Armageddon) dan turunnya kembali Yesus untuk melawan kejahatan dan membangun dunia baru selama seribu tahun.

c. Beberapa sekte melihat hubungan antara bumi, manusia, dan makhluk angkasa luar (UFO), sebagaimana terlihat dalam ajaran Solar Templar dan Heaven's Gate.

d. Sekte-sekte yang ada di lingkungan Kristen tersebut mempunyai penafsiran tentang Tuhan sebagai tunggal dan tidak mengakui konsep Trinitas.

e. Beberapa sekte, khususnya setanisme sangat dipengaruhi oleh cara berpikir bebas yang disusupkan oleh gerakan "neo-zionisme-Iluminasi dan freemason", sehingga umat beragama kufur dari keimanan yang diyakininya selama ini. Sehingga secara keseluruhan, aliran dan pemahaman tersebut merupakan sebuah gerakan besar yang secara global membentuk satu konspirasi, jaringan, dan organisasi yang rapi untuk mengafirkan umat beragama (kafirisasi).

Sebenarnya masih banyak lagi aliran atau sekte. Dan akan terus berkembang sesuai dengan tujuan dari neo-zionisme dan Iluminasi, yaitu untuk menciptakan satu pemerintahan; satu moneter, satu agama, dan satu warga negara (novus ordo seclorum). Beberapa aliran memang tidak murni dari penafsiran Bibel, melainkan merupakan sinkretisasi atau dipengaruhi oleh agama-agama lokal, terutama Hindu. Misalnya, Hare Krisna, Eckankar, Saneria la Regla Rucumi, Scientology, dan Christian Science.

13. Freethought
Gelombang modernisasi telah membuat berbagai pemikiran tersebar dengan cepat dan simultan dengan memanfaatkan berbagai media supramodern. Salah satu dari pemikiran yang saat ini sedang berderap maju memasuki alam pikiran manusia di seluruh pelosok dunia adalah freethought (berpikir bebas) atau lebih tepatnya berpikir dengan melepaskan diri dari berbagai nilai atau dogma agama. Selama kerangka berpikir masih memakai stigma agama, maka itu belumlah termasuk atau dikategorikan sebagai seorang pemikir yang bebas (freethinker). Mereka berkata:

"Berpikir bebas adalah berpikir rasional. Berpikir bebas menyebabkan Anda bebas memakai jalan pikiran Anda sendiri. Sebuah cara berpikir yang dinamis, bebas dari segala kendala ortodoks dan bebas pula pikiran Anda untuk diuji."

(Freethought is reasonable. Freethought allows you to do your own thinking. A plurality of individuals thinking, free from restraints of ortodoxy, allows ideas to be tested, discarded, or adopted ).

Bagi mereka, cara berpikir bebas nilai seperti ini merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai kebenaran dan satu-satunya instrumen atau alat bagi para pencari kebenaran sejati (the truth seeker) guna mewujudkan gagasannya secara realistis; teruji dan nyata. Itulah sebabnya, para freethinkers menolak dogma-dogma agama. Karena bagi mereka, agama merupakan penjara berpikir, sebuah perbudakan yang nelangsa yang harus dimusnahkan di muka bumi ini. Agama merupakan sumber konflik dan eksploitasi yang bertentangan dengan hak asasi manusia. Inilah propaganda baru yang mereka sebarkan untuk menggoda iman umat beragama. Ideologi Dajal yang sedang berhadapan muka dengan para mujahidin Islam untuk menyelamatkan martabat keunggulan agama terhadap kesombongan mereka.

Dengan sombongnya mereka mengakui bahwa cara berpikir agama adalah sebuah kepalsuan. Agama hanya melahirkan berbagai kesengsaraan, mendorong manusia untuk berperang; perbudakan, seks, rasial, dan anti dengan homoseksual.

Dengan penuh kesombongan, mereka mengatakan bahwa kebaikan bukanlah monopoli ajaran agama. Banyak orang-orang modern yang melahirkan nilai-nilai kemanusiaan, bahkan memberikan kontribusi terhadap peradaban manusia, justru bukan dari kaum agama melainkan para pemikir bebas, seperti: Albert Einstein, Charles Darwin, Thomas Edison, Bertrand Russell, Sigmund Freud, dan Friedrich W. Nietzche. Pokoknya, seseorang hanya pantas disebut sebagai pemikir bebas selama tidak terikat oleh dogma, keyakinan agama, dan mesianisme. Bagi pemikir bebas, wahyu dan iman adalah tidak sah (invalid) dari sistem berpikir modern, bahkan merupakan suatu penipuan dan ilusi belaka. Itulah sebabnya, mereka.mendefinisikan pemikir bebas sebagai orang yang melihat agama dengan dasar rasio, bebas dari pemikiran tradisional, kekuasaan, atau otoritas agama. Mereka mengakui bahwa yang termasuk dalam kelompok pemikir bebas adalah kaum ateis, agnostik, dan rasionalis (freethinker is a person who forms opinions about religion on the basis of reason, independently of tradition, authority. Freethinkers include atheists, agnostics, and rationalist)

Mereka mengakui bahwa dirinya merupakan pahlawan ilmiah yang memberikan sumbangan terhadap kemajuan peradaban manusia tanpa direpotkan oleh urusan dogma agama. Pemikir bebas adalah sosok manusia ilrniah yang melandaskan pemikirannya pada objektivitas, pembuktian dengan fakta yang diakui secara universal. Sebaliknya, agama tidak dapat dijadikan sebagai sandaran ilmiah. Karenanya tidak dapat memberikan kontribusi untuk mewujudkan dunia yang damai.

Bila umat Islam menyimak kembali ayat an-Naml ayat 82 tentang pemunculan dabbah dari bawah bumi, niscaya menjadi sangat waspada bahwa dabbah tersebut telah muncul dengan nyata di hadapan kita. Mereka yang selama ini menjadi bahaya laten, tersembunyi, dan mengorganisasikan dirinya dalam bentuk konspirasi rahasia, akan segera menampilkan sosok dirinya, yaitu "gerakan kafirisasi" yang akan memanfaatkan slogan-slogan aktual guna mengikuti arus perkembangan masyarakat. Mereka akan menjadi pendompleng nyata dalam arus tersebut. Dalam alam demokrasi, umat lslam terutama para cendekiawan dan ulamanya harus segera membentengi diri umatnya dari terpaan "buldozer kafirisasi" ini. Metode dan keteladaan dakwah merupakan salah satu benteng tersebut, di samping menanamkan satu metode berpikir yang mampu menyaingi derasnya arus globalisasi yang meniupkan berbagai ideologi yang dianggap "baru" oleh orang awam:

Freethought merupakan awal, bahkan "ibu kandung" dari berbagai ideologi kafirisasi yang berusaha untuk membongkar keimanan menuju kepada penolakan total terhadap agama. Dari mereka itu akan lahirlah sekularisme, ateisme, unitarian ateis, universalisme, dan humanisme sekuler. Sungguh ini semua merupakan sebuah konspirasi kaum kafir yang saling bergandengan tangan untuk menghancurkan agama samawi. Dengan kata lain, dapat kita simpulkan bahwa Dajal tidak lain adalah ideologi yang selama ini bergerak di bawah tanah bagaikan dabbah yang laten, kini muncul dengan gagah berani dan sombong menantang kapasitas berpikir dan kesatuan umat Islam. Ketahuilah bahwa kelompok kafir ini bersatu padu untuk menghancurkan umat Islam dan kaum beragama. Dengan penuh "heroisme spartanistik" mereka menggembleng dan merekrut anggotanya, seraya melakukan cuci otak (brainwashing) sehingga para pengikut kafir itu menjadi sosok manusia militan yang siap menghantam.Islam. Mereka tidak akan segan menebar teror dan meng adu domba, seraya menebarkan benih-benih fitnah yang keji, sehingga diantara umat Islam saling curiga dan saling mencabik: Ketika umat Islam dibenturkan dengan sesamanya, juga dengan kaum agama lainnya, maka mereka dengan bangga segera merayakannya dengan penuh kemenangan. Sebab itu, tidak ada lagi waktu untuk berbasa-basi menghadapi musuh yang nyata ini, hal ini sebagaimana firman Allah:

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur)." (al-Anfal:15).

Mundur atau berpangku tangan dari kancah perjuangan untuk mempertahankan iman adalah kenistaan yang paling durjana. Kebodohan apalagi yang paling bodoh, kecuali mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. Persyaratan, perjuangan untuk menghadapi berbagai ideologi yang dilahirkan dari cara berpikir bebas ini, sudah nyata digariskan Al-Qur'an, sebagaimana firman-Nya:

"Hai orang-orang yang beriman, apabila hamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu, dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (alAnfal: 45-46).

Jaringan baik dalam bentuk konspirasi maupun lembaga budaya yang bersifat internasional telah mengepung umat Islam dari segala penjuru. Jaringan tersebut dengan tujuan mengafirkan para pemeluknya agar mengikuti millah dalam bentuk sikap budaya politik atau tata cara kehidupan yang tidak agama.

Ke manapun arah mata memandang, niscaya kita akan melihat jaringan tersebut yang benar-benar kokoh, dan seakan-akan sulit kita tembus. Mereka akan menciptakan semacam frustrasi sosial di kalangan umat beragama, sehingga tanpa sadar ada semacam bisikan dari lubuk hatinya untuk membenarkan ajaran kafirisasi tersebut. Umat beragama semacam guncang.

14. Freedom of Religion
Sebagai kelanjutan dari gerakan Freethought, gerakan kafirisasi yang paling menonjol akhir-akhir ini adalah sebuah gerakan pemikiran untuk melepaskan segala pengaruh agama terhadap pemerintahan yang disebut sebagai Freedom of Religion (sekalurisme-ateis) yang dengan tegas menentang segala campur tangan dogma agama terhadap pemerintah.

Mereka membanggakan model negara Amerika yang makmur dan sejahtera dikarenakan jasa Thomas Jefferson yang telah meletakkan dasar sekuler, sebagaimana ucapannya di hadapan Dunbary Baptist (1802):

"Legitimasi pemerintah hanyalah mengambil tindakan bukan atas dasar pendapat. Pandangan perorangan harus dinilai sebagai pendapat pribadi. Pernerintahan kami tidak mempunyai hak untuk mempropagandakan agama atau ikut campur urusan pribadi."

(The legitimate powers of government reach action only, and not opinions. Personal views are just that personal. Our government have no right to promulgate religion or to interfere with private).

Mereka membanggakan pula bahwa kejayaan Amerika dikarenakan aspirasi sekuler yang sejak awal ditanamkan sehingga tidak terjadi dominasi agama atau pengaruh dogma yang irasional terhadap kemajuan bangsa Amerika. Para negarawan Amerika, seperti Benjamin Franklin, John Adams, Thomas Jefferson merupakan "bapak bangsa Amerika" yang telah menetapkan satu tonggak yang sangat jitu dan tidak dapat digugat melalui moto bangsa Amerika, "e. pluribus unum" (semacam dengan moto Indonesia, yaitu Bhineka Tunggal Ika). Kalau saja agama menjadi fondasi dan moto negara, niscaya sejarah bangsa Amerika tidak akan mengalami peradaban sejarah seperti saat ini. Dengan sombongnya, mereka menuding kaum agamawan, khususnya Protestan dan Katolik sebagai kaum fundamentalis, sebagaimana ditulis oleh Anne Gaylor:

"Kaum fundamental Protestan dan kelompok sayap kanan Katolik ingin memaksakan kehendaknya melalui moralitas yang dangkal, melawan hak asasi wanita, kebebasan beragama minoritas, ateis, waria, dan hak kaum homo dan lesbi, serta hak masyarakat sipil. Sejarah telah menunjukkan bahwa hanya kebinasaan yang diberikan oleh adanya kesatuan gereja dan negara"

(Fundamentalist Protestant and right- wing Catholics would impose their narrow morality on the rest of us, resisting women's rights, freedom for religious minorities and unbelievers, gay and lesbian rights, and civil rights for all. History shows us that only harm comes of uniting church and state).

Walaupun mereka mengatakan bahwa menghargai hak-hak pribadi termasuk beragama, juga sebagai bagian dari hak asasi manusia, pada dasarnya ideologi sekuler telah menjadi sebuah ideologi yang anti terhadap adanya pengaruh-pengaruh agama, sebagaimana kaum freethinker yang menjadi pelopor ideologi tersebut.

Moralitas negara hanya ada pada hukum. Tidak ada apa pun kecuali hukum. Konstitusi adalah "Tuhan" bagi seluruh manusia yang mengaku warga negara Amerika. Segala sesuatu dapat berjalan dan ditempatkan sesuai dengan hak asasinya, selama ia mengikuti aturan main dan konstitusi. Moralitas yang dikenal hanya ada satu, yaitu hukum.

Gerakan ini, tentu saja secara sadar maupun tidak sadar telah "dipasarkan" ke seluruh dunia. Hak asasi manusia--yang dijadikan primadona untuk menguasai dunia--merupakan senjata yang paling ampuh untuk ikut campur tangan ke seantero pelosok bumi. Mereka ingin memaksakan model ideologi yang menafikan dogma agama, sesuai dengan ajaran Adam Weishaupt: "membangun dunia baru" (novus ordo seclorum) .

Bagi mereka, kekuatan adalah sumber segala-galanya. Dengan kekuasaan dan kekuatan, mereka mampu mendikte negara mana pun, dan mereka tidak.segan pula mengirimkan pasukan Dajalnya untuk menundukkan kaum atau bangsa yang dianggapnya melecehkan wibawa diri mereka.

Karena itu, tidak ada alasan bagi kaum beragama untuk bercerai-berai atau saling bertikai, karena musuh bersama umat beragama yang sebenarnya adalah Dajal, para penipu global yang telah melebarkan jaringannya di setiap sudut kehidupan. Tontonlah televisi; para selebritis, iklan, serta berbagai pertunjukan musik, dan sebagainya. Semuanya hampir terlepas dari tali moral agama.




Gambar 14: Jaringan Dajal sebuah Gerakan Kafirisasi Global




Bab VI : D. Memperkokoh Barisan Umat
Ini adalah sebuah perintah Allah dan sekaligus sebagai aksioma Ilahiah. Bila umat tercerai-berai, berkelompok (firqah) dalam bentuk puing-puing kecil, mana mungkin mampu mengalahkan raksasa "buldozer kafirisasi"?

Ketika musuh sudah mengacungkan tinjunya. Ketika panji-panji kafirisasi telah menancapkan tiangnya di setiap sudut kehidupan, kebodohan seperti apa yang paling pantas ditudingkan ke hati kita semua, kecuali perpecahan karena kehilangan pimpinan.

Sebab itu, getarkan jiwa nurani kita semua. Kalahkan segala ambisi diri yang akan menjadi penghalang persatuan. Buang jauh jauh segala ashabiyah. Berhentilah beretorika untuk menolak persatuan umat (ittihadul-ummah) ini. Sungguh umat Islam membutuhkan satu kepemimpinan. Bukankah domba-domba yang diterkam srigala adalah domba yang menyempal dari kelompoknya? Karenanya, hati nurani kita semua ditantang agar tidak ada lagi satu gelintir umat pun yang kehilangan pegangan panutan. Karena jiwa sudah putih bersih, apa pun yang disodorkan kepada kita, asalkan untuk kejayaan Islam dan kaum muslimin, dengan hati penuh bahagia kita akan menerimanya. Kalaupun Majelis Ulama dijadikan sebagai Dewan Imamah tempat kata putus diambil, kita pun tidak pernah beretorika untuk menolaknya. Mengapa? Karena musuh sudah satu langkah di hadapan kita dan siap menohok jantung iman kita semua.

Kita sedang dalam kondisi perang. Perang ldeologi global yang memorak-porandakan seluruh tatanan kehidupan iman. Karenanya persyaratan untuk memenangkan peperangan ini hanyalah memperkokoh persatuan, membangun satu wawasan, satu kepemimpinan, serta satu harakah yang kokoh sebagaimana firman-Nya:

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dengan barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh." (ash Shaff: 4).

1. Zikirlah Sebanyak-banyaknya
Zikir yang menggentarkan jiwa karena kerinduan kepada Allah SWT melahirkan zikir aktual. Hal itu lindap dalam rasa cinta kepadaAllah (mahabbah lillah) yang tiada tara. Ketika musuh-musuh Allah sedang memfitnah dengan cara mengganggu dan menggoncangkan hamba-Nya, maka zikir dan jihad fisabilillah-lah sebagai jalan keluarnya.

Zikir melahirkan kewaspadaan. Sehingga perintah Allah agar kita berzikir sebanyak-banyaknya, berarti seluruh umat Islam yang telah menjual dirinya kepada Allah harus waspada sepenuhnya terhadap gerakan musuh-musuh Allah. Mereka tidak saja melakukan teror kepada para pemimpin Islam, tetapi melakukan pula gerakan "cuci otak" di kalangan kaum muda dengan berbagai budaya duniawi-matrialistik dengan mengatas-namakan kebebasan berpendapat.

Gerakan kafirisasi ini telah nyata di hadapan kita. Islam telah dikepung, sehingga seharusnya kita sadar dengan perintah Allah:

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur)." (al-Anfal:15).

Tidak ada kata "mundur" bagi umat Islam untuk mempertahankan jati diri dan akidahnya dalam menghadapi musuh yang nyata ini. Jiwa militan harus tampil, para ulama dan mujahid harus segera mengambil tindakan konseptual agar kaum kafir tersungkur membatalkan niat buruknya untuk memecah belah umat Islam.

2. Penuhi Masjid dan Majelis Taklim
Bagian dari semangat zikir harus diteruskan dalam bentuk yang nyata dengan memenuhi masjid-masjid dan majelis taklim. Inilah salah satu cara untuk menggalang kesatuan dan persatuan umat serta menjadikan masjid sebagai pelabuhan hati umat Islam. Masjid yang telah dibangun dengan gaya arsitektur indah dengan biaya yang mahal, seakan-akan meratapi nasibnya karena sepi dari jamaah. Masjid meneteskan air matanya karena masjid sudah berubah bagaikan "kuburan Cina", bagus bangunannya, tetapi hampa roh jihadnya. Masjid yang indah dengan bahana suara pengeras suara menggelegar dan menerpa seluruh sudut kehidupan, tetapi sepi dari zikir dan muru'ah Islamiyah. Sebagaimana bait berikut:



Lihatlah masjid di hadapanmu
Indah bangunannya mahal harganya
Tengok dan masuklah
Reguk dan nikmatilah ratapannya

Mihrab berukir itu telah mulai lapuk
Tikar dan karpet mulai mumuk
Bukan penat menyangga jiwa gemuruh
Tetapi terlalu lama tak lagi disentuh

Lihatlah masjid di hadapanmu
Ketika muazin melaungkan mutiara Ilahi
Angin menerpa sepi
Fajar berlalu mengiringi mimpi
Membalut jiwa yang telah lama mati

Masjid semakin menjerit
Takutkan diri bagaikan fosil
Seperti Borobudur dan Taj Mahal

Tidakkah jiwamu tergetar
Bila seribu tahun lagi ada anak kecil yang bertanya
Wahai kakek, bangunan apakah yang berkubah ini?
Dan sang kakek berkata, "Wahai cucuku, kata orang namanya 'Masjid'."
Zaman dahulu nenek moyang kita beragama Islam dan inilah tempat ibadah
Tempat para turis kafiri mencuci mata.

Masjid semakin menangis
Karena dibangun sekadar saksi sejarah
Fosil tanpa jiwa muru'ah !
Audzubillah min dzaalik



Kadang-kadang, kita diusik sebuah pertanyaan, masih perlukah membangun masjid lagi? Sedangan masjid yang ada pun sepi dari umat. Jawaban berpulang kepada kita. Tentu saja, masjid masih perlu dibangun karena pertimbangan rasio penduduk pemeluk Islam, tetapi jauh lebih penting dari sekadar membangun masjid secara kuantitas, adalah upaya kita semua menjadikan nilai masjid sebagai pelita umat dan melahirkan berbagai kegiatan yang berkualitas. Masjid harus kita jadikan pusat perjuangan umat

3. Jauhkan Silang Sengketa
Jangankan memenangkan peperangan global, sedangkan memenangkan pertempuran skala kecil pun diragukan untuk menang, bila kita semua pecah dan berselisih yang akan memperlemah dan melengahkan perhatian dari tatapan musuh di sekitar kita. Harus disadari bahwa perpecahan itu bukanlah datang dari kita, tetapi seringkali kita terperangkap dalam strategi neo-zionisme Dajal melalui gerakan memecah belah. Mereka membuat "kemasan fitnah" yang cantik, seakan-akan itu benar adanya. Setelah itu, mereka melemparkannya ke tengah-tengah umat Islam. Bila umat Islam tidak tabayyun (memeriksa dengan teliti kebenaran fitnah tersebut) dan bereaksi untuk membuat analisis, bahkan menambah rumor tersebut. Apabila hal ini ada di hati kita, niscaya kita telah ikut berpihak untuk memenangkan keberhasilan gerakan kafirisasi tersebut. Dan tanpa disadari, sesungguhnya kita telah "bunuh diri" karena ikut memasarkan fitnah tersebut.

E. Membangun Sistem
Bila kita menyimak sejarah Rasulullah saw. dengan nyata benar bahwa yang diletakkan oleh ajaran Islam adalah hamparan sistem kehidupan yang terkonsep dengan sempurna (syumul-kamil) di atas landasan tauhid.

Sistem yang kita maksudkan adalah sebuah visi dan keyakinan yang merangkum mekanisme aturan kehidupan secara menyeluruh. Di dalam membangun sistem tersebut harus diletakkan dasar-dasar fundamental, sehingga mekanisme kehidupan dapat berjalan dengan baik, yaitu sebagai berikut:

a. Menumbuhkan pribadi-pribadi, khususnya para pemimpin yang jujur atau berakhlak mulia, melalui tindakan keteladanannya. Tanpa adanya pribadi atau pemimpin yang mendemonstrasikan uswatun hasanah, maka akan sulit mekanisme dari sistem tersebut dilaksanakan. Untuk itu, sistem harus dipagari dengan "ganjaran dan hukurnan" sehingga setiap pribadi menjadi seorang ahli atau profesional dalam bidangnya.

b. Mekanisme kontrol merupakan bagian tidak terpisahkan dari pelaksanaan sistem tersebut. Sehingga, membuka koridor partisipasi umat secara demokratis. Lapisan rakyat yang paling bawah dan tidak terdengar suaranya sekalipun diberikan tempat untuk melaksanakan mekanisme kontrol melalui berbagai saluran dan pranata sosialnya. Sebagaimana Umar bin Khaththab ra memberi ruang yang luas kepada rakyat untuk mengkritik kepemimpinannya, karena dia sadar bahwa menjadi pemimpin, berarti menjadi pelayan rakyat. Menjadi seorang birokrat, berarti seorang pengabdi rakyat yang sebenarnya, untuk rakyatnya.

c. Menjadikan hukum sebagai sumber aturan dan mekanisme kegiatan kehidupan. Hukum yang mandul atau berlaku tidak adil akan menjadi pedang tajam, melainkan akan menghancurkan kehidupan bermasyarakat. Ketidakadilan merupakan penyakit paling durjana dalam tatanan kehidupan bermasyarakat.

d. Dengan memiliki hukum yang kuat, sistem yang jelas, serta akhlak yang jujur, niscaya umat Islam akan mampu membangun dirinya dan memperkuat benteng kehidupannya dari serangan kaum Dajal modern.

F. Persatuan Umat Beragama
Nyatalah bahwa gerakan kafirisasi tidak hanya menghantam umat Islam, tetapi juga umat beragama lainnya. Sehingga tidak lagi ada alasan diantara sesama umat beragama saling curiga dan lengah dari upaya jaringan kaum neo-zionisme Dajal yang sangat senang melihat pertikaian diantara sesama umat beragama dan konflik di lingkungan intern umat beragama tersebut.

Tidak ada satu pun umat beragama yang sudi nilai-nilai sakralnya dihujat atau dicabut dengan halus maupun paksa oleh sebuah gerakan yang antiagama. Karenanya, tidak ada kata kunci paling bertuah bagi umat beragama, kecuali harus saling bergandengan tangan untuk membentengi umat beragama dari serangan neo-zionisme tersebut. Jauhkan kecurigaan diantara sesama umat beragama. Dan kalaupun ada perbedaan, maka jadikanlah perbedaan tersebut hanya untuk konsumsi ke dalam. Carilah nilai-nilai persamaan dimana seluruh umat beragama dapat berperan untuk kesejahteraan manusia.

G. Gerakan Islah Mujahid Dakwah Dengan Wawasan Global

Menyadari kenyataan bahwa perang global telah berlangsung dan di setiap penjuru "tentara setan" menggempur umat beragama, khususnya para generasi muda agar bersikap hidup sekuler ateistik, para juru dakwah sudah harus menampilkan dirinya sebagai sosok ulul al-Bab (yang diteladani) juga sebagai sosok mujahid dakwah dengan bobot intelektual dan wawasan yang mondial. Pendekatan dakwah harus bersifat total. Ada semacam "virus" dakwah di hati umat Islam, sehingga setiap pribadi tampil untuk menjadi juru bicara harakah Islamiyah. Tidak ada satu umat pun yang berpangku tangan dari urusan agamanya. Dia harus terlibat, peduli, dan menenggelamkan dirinya dalam dunia yang mengakhirat, urusan akhirat yang mendunia. Semuanya bersatu padu untuk menghadapi derap langkah "buldozer kafirisasi" yang telah jelas gemuruhnya terdengar dan menghantam kehidupan umat beragama.

Para mujahid dakwah harus mampu memberikan jawaban-jawaban sekitar permasalahan umat dengan pendekatan multidisiplin mengingat segala permasalahan kehidupan tidak dapat hanya dipecahkan dengan retorika umum yang sederhana, melainkan membutuhkan pemecahan analisis, sehingga mampu mencerdaskan umat dalam menghadapi segala tantangan kehidupannya. Sebagai contoh adalah bidang pemikiran yang akan dilontarkan oleh para freethinker, ateis, dan sekuler matrialistik terhadap eksistensi agama dan sistem keimanan umat beragama harus dijawab secara tuntas, mendasar, dan mematikan logika berpikir mereka.

Di bawah ini, kami sampaikan beberapa logika yang sering diajukan kaum freethinker yang harus kita jawab dan sikapi secara cerdas, misalnya sebagai berikut:

1. Pendekatan ilmiah telah melahirkan berbagai ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi. Peradaban manusia ditentukan oleh cara berpikir rasional, objektif, dan bisa dibuktikan secara ilmiah pula. Agama adalah dogma, seluruh pemikirannya tidak berangkat dari nilai objektif yang bisa dibuktikan secara ilmiah. Dan setiap pemikiran yang tidak ilmiah adalah bentuk penipuan. Oleh karenanya, agama adalah cara berpikir ilusi (khayalan) yang penuh dengan dogma dan penipuan.

2. Sistem berpikir dan falsafah kehidupan menentukan corak budaya dan tata cara manusia bermasyarakat dan bernegara. Nyatanya, negara-negara sekuler di Eropa telah menunjukkan bukti objektif sebagai satu negara yang makmur dan maju. Adakah satu negara dengan sistem agama (Islam khususnya) yang mampu bersaing dengan negara sekuler, adakah contoh nyata negara dengan basis Islam yang maju dan makmur? Nyatanya di dunia dengan sistem agama, justru sering terjadi konflik dan kurangnya penghargaan terhadap nilai hak asasi manusia, terutama wanita. Sangat berbeda dengan negara sekuler yang damai, hak asasi manusia ditempatkan proporsional, bahkan hanya menempatkan hak wanita yang sama, tetapi memberikan pula tempat terhadap hak kaum homoseksual, lesbian, dan sebagainya.

Masih banyak lagi pemikiran-pemikiran seperti itu yang harus dijawab oleh para mujahid dakwah, khususnya memberikan satu metode berpikir yang baru untuk para generasi muda, sehingga mereka menjadi generasi rabbaniyah yang cerdas secara intelektual dan moral, kuat secara pikir dan zikir, serta menjadi manusia unggul (al-insanul kamil) yang siap menghadapi persoalan logika yang disodorkan kaum ateis sekuler tersebut.

H. Pola Pendidikan Dini
Tidak bisa disangkal bahwa pola pendidikan moral agama sejak usia dini (pada masa kanak kanak) merupakan salah satu kunci untuk membentengi iman. Oleh karenanya, seluruh umat Islam harus terlibat dalam irama tantangan global sehingga mampu mempersiapkan putra-putrinya mengarungi samudra global yang penuh dengan ranjau dan godaan ini. Umat Islam harus dibentuk sebagai "mujahid" yang memberikan nilai nilai moral, intelektual, serta etika pergaulan yang berorientasi kepada aktualisasi yang berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah dalam bentuknya yang dapat direalisasikan dan memberikan jalan keluar dalam kehidupan yang dihadapinya. Agama tidak hanya sederetan hafalan dan ikatan normatif, tetapi dipresentasikan pula dalam bentuk yang aktual dan aplikatif. Agama menjadi satu bentuk yang memikat karena menyentuh langsung kegairahan hidup. Itulah sebabnya, pemerkayaan terhadap metode, materi, dan wawasan para mujahid dakwah, ustaz, ulama, dan orangtua dari keluarga muslim harus selalu mengalir dengan dinamis seirama dengan semangat Al-Qur'an dan Sunnah Rasul yang membumi.

Insya Allah, kita sebagai kaum muslimin yang diridhai-Nya, dengan ikhtiar kita untuk melaksanakan dan menegakkan risalah dinulhaq Islam berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad saw, serta persatuan umat, kita dapat memerangi konspirasi global kaum kafir zionis Dajal beserta Dajalnya.

1 komentar: